Rab. Des 7th, 2022

Toxic Masculinity & Urgensi Edukasi Berbasis Gender

Oleh: Laila Palupi

Membicarakan masalah gender tidak akan ada habisnya. Perlu digarisbawahi bahwa jenis kelamin dan gender adalah dua hal yang berbeda tetapi masyarakat sering memandangnya sebagai hal yang sama. Gender adalah suatu karakteristik yang terikat dalam diri manusia yang terbentuk dari adanya konstruksi sosial dalam masyarakat tertentu di mana pembedaan karakteristik gender itu melalui tingkah laku dan dapat diketahui melalui perilaku feminim maupun maskulin.

Dijelaskan dalam VCSE WIKI, “Globalization and gender”, sedangkan jenis kelamin berarti suatu karakteristik biologis yang membedakan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan jenis kelamin yang dimiliki. Tentu akan ada pandangan berbeda-beda tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki.

Banyak sekali pemberitaan yang membahas mengenai kekerasan yang terjadi pada perempuan, hingga lupa ternyata laki-laki pun bisa jadi korban. Pernahkah Sahabat/i mendengarkan istilah toxic masculinity? Situasi di mana semua laki-laki diandaikan harus menjadi seperti Saitama, tokoh utama dalam manga one punch man garapan negara Jepang, yang digambarkan memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, badan yang berotot, percaya diri, berani, dan tidak menunjukkan emosinya secara berlebihan.

Dengan adanya toxic masculinity ini maka akan tercipta suatu fenomena yang dinamakan hegemonic masculinity atau hegemoni maskulinitas. Hegemonic masculinity merupakan suatu keadaan di mana adanya legitimasi dalam masyarakat yang mengakui posisi dominan laki-laki yang ada dalam masyarakat yang menjustifikasi subordinasi dari laki-laki yang umum, perempuan, dan cara-cara lainnya yang termarjinalkan untuk mendefinisikan laki-laki, hal ini dijelaskan dalam Cornell, R.W., Masculinities, University of California Press, California, 2005.

Toxic masculinity mengacu pada sikap atau tindakan yang menunjukkan persepsi jika laki-laki harus bersikap maskulin. Sikap ini juga cenderung mengkotakkan bagaimana seharusnya laki-laki bertindak untuk tidak menangis atau terlihat lemah. Lantas bagaimana jika seorang laki-laki gagal memenuhi kriteria maskulinitas? Tentunya tidak sedikit masyarakat yang akan menganggap laki-laki tersebut gagal menjadi seorang laki-laki, atau tidak jantan.

Anggapan seperti itulah yang membuat laki-laki korban kekerasan cenderung takut untuk speak up. “Dari seluruh korban kekerasan seksual, hanya sekitar 30 persen korban perempuan dan 15 persen korban laki-laki yang melapor ke penegak hukum,” ungkap Karen G. Weiss (2008) dalam studi berjudul “Male Sexual Victimization: Examining Men’s Experiences of Rape and Sexual Assault.” Mereka cenderung takut dengan perkataan dan pandangan masyarakat, beberapa kalimat toxic masculinity yang dihadapi laki-laki antara lain:

Laki-laki kok nangis?

Laki-laki kok lemah?

Laki-laki kok nggak ngelawan?

Laki-laki kok diperkosa?

Laki-laki kok jadi korban KDRT?

Toxic masculinity sendiri ternyata sudah lama berkembang di Indonesia dan beroperasi dalam sistem masyarakat yang jika kita lihat memang masih cenderung patriarkis. Dampak dari hal ini pun cukup tidak baik bagi laki-laki. Seorang pakar psikologi bernama Shepherd Bliss mengatakan bahwa toxic masculinity ini memberikan dampak negatif bagi laki-laki dengan konsep maskulinitas yang ada dalam masyarakat yang bisa merusak mental seorang laki-laki.

Mungkin memang masyarakat masih asing dengan istilah ini. Namun, ternyata bullying yang mereka lakukan dengan dalih bercanda dan masih menganggap sepele menjadi salah satu sebab dari depresi, putus asa, dan  paling buruk adalah bunuh diri. Menurut World Health Organization (WHO) di tahun 2016 mendapati bahwa tingkat laki-laki yang bunuh diri di Indonesia memiliki angka dari 5 sampai 9 dari 100,000 populasi.

Untuk menghindari dampak buruk dari toxic masculinity alangkah lebih baiknya jika edukasi berbasis gender semakin digencarkan di mana harus ditanamkan pemahaman sejak dini mengenai peran laki-laki dan perempuan serta apa itu maskulinitas dan feminitas. Selain itu penjelasan mengenai peran laki-laki dan perempuan adalah sama di lingkungan masyarakat, juga harus disampaikan agar pandangan tentang laki-laki tidak boleh lemah dapat dikurangi karena laki-laki pun insan biasa yang bisa menangis juga.

By admin