Rab. Sep 28th, 2022


Oleh : Mega Diah Wati
Akhir-akhir ini dunia mencengkam dengan terjadinya virus corona. Virus corona atau Covid-19 terus menghantui dalam beberapa bulan terakhir ini. Dimuali dari Wuhan, China pada akhir menjelangnya tahun 2019. Menurut data kompas com, Virus ini terus menyebar tembus 152 Negara, yang mengonfirmasikan negara terpapar dengan virus corona dilansir dari peta penyebaran covid-19, corona virus COVID-19 Global Cases by John Hopkins CSSE, jumlah pasien yang sembuh tercatat sebanyak 80.840 dan 7.905 meninggal.
Dalam peristiwa ini, sebagian masyarakat yang mengklaim bahwa peristiwa ini tidak lain adalah azab tuhan, atas tindakan pemerintahan china terhadap muslim di Uighur China. Narasi ini kemudian menjadi beredar sekali di dunia sosial media, seperti facebook, twitter dan juga Instagram. Secara logis, jika ini merupakan azab kenapa kemudian virus ini menyebar di berbagai negara bukan hanya China saja, toh virus ini menurut beberapa penelitian di tinjau dari kompas com. Menyebar karena tetesan air batuk atau flu, jabatan tangan dan juga tempelnya benda-benda yang sudah terkena virus tersebut. Tentu narasi-narasi ini menjadikan sudut pandang yang amat menyesatkan dengan dalih-dalih agama tanpa di landasi secara the faktonya. (wallahu ‘alam)
Di tengah kegelisahan dunia akibat wabah Covid-19 ini, menurut jurnal Pinter Politik, pemerintah Tiongkok juga mencuatkan narasi bahwa virus tersebut sebenarnya berasal dari Amerika Serikat (AS). Menariknya lagi, berbagai teori konspirasi juga mengiringi penyebaran wabah tersebut. Mulai dari virus tersebut adalah senjata biologis yang bocor, hingga narasi virus bernama Covid-19 adalah buah dari usaha Amerika Serikat (AS) untuk menjatuhkan Tiongkok. Namun dengan beredarnya bocornya senjata biologis, salah satu berita terkenal seperti the washington news mengklaim bahwa terjadinya senjata biologis tidaklah berdasar.
Mengambil dari Jurnal UI berjudul Politik Global, salah satu filsuf yang membahas teori konspirasi adalah Karl R. Popper. Menurut Popper, yang dimaksud dengan konspirasi adalah kenyataan di mana penjelasan dari fenomena itu sendiri, (Terdapat kepentingan tersembunyi), dan seorang yang merencakan dan berkonspirasi tidak lain untuk menciptakan fenomena itu. Pada pendapat ini tentu muncul dari argumen klasik yang mengatakan bahwa apapun yang terjadi di masyarakat, terutama menyangkut perang pengangguran dan kemiskinan, adalah akibat dari rencana dan bentuk dari sekeolompok individu yang berkuasa. Yang menurut kaum sinitis mengakibatkan adanya monopoli, kapitalisme dan bahkan imperialisme.
Adapun berdasarkan Kamus Besar Indonesia (KBBI), kata konspirasi memiliki arti persekongkolan atau komplotan orang dalam merencanakan sebuah kejahatan yang dilakukan dengan rapi dan sangat rahasia. Pelaku konspirasi ini disebut dengan konspirator. Sebab sifat pengerjaanya yang mulus dan sangat rahasia, maka sulit untuk membuktikan konspirasi dan hanya berjuang dengan desas-desus. Dan apabila ketika seseorang tidak mampuan menjawab, inilah juga bagian yang disebut debagai teori konspirasi.
Dengan kejadin peristiwa ini, dapat kita tarik jika di kaitkan denga sebuah film yang berjudul Contagion , yang bercerita tentang penyebaran virus berawal dari Negara Hong Kong yang bersumber dari kelelawar, setelah kelelawar berjalan kesana kemari menjatuhkan atau menempelkan kumanya ke hewan babi maupuh hewan lainya. Dilihat dari hewan babi, merupakan makanan para pengunjung maupun penghuni Hong Kong saat berpesta langsung. Di dalam film tersebut juga, pada dasarnya terinspirasi dari pandemi yang terjadi dari sebelum-belumnya, seperti kasus servere acute respiratory syndrome (SARS) pada tahun 2003 lalu. Akan tetapi dengan miripnya cerita film ini, dengan kasus wabah virus corona atau Covid-19 juga menyebabkan beberapa pihak ada beberapa yang mengaitkanya ada juga yang sulit untuk mengaitkanya.
Hal yang menarik di dalam film Contagion ini, ketika salah satu penulis bloger terkenal menganalisa ia mengaitkan dengan kasus setelah Flu Sepanyol tahun 1918, banyak orang menjadi kaya. Seperti perusahaan Vicks VpoRub yaitu merupakan salah satu perusahaan merek obat batuk dan flu nomor 1 di dunia, dan perusahaan Lysol adalah nama merek produk pembersih. Dengan hal ini menjadikan industri farmasi bisa melakukan setiap saat kapanpun ia melakukanya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh salah satu filsuf Prancis yakni Paul Michel Foucault, bahwa sejarah sejatinya tidak linear melainkan berulang dan terus berulang. Kasus wabah seperti Covid-19 ini mungkin dapat di simpulkan bagian dari pengejawantahkan dari konsep tersebut. Begitupun dengan filsuf pos-modernisme seperti Jecques Derrida, bahwa suatu fenomena tidak dapat dilihat atau disimpulkan secara tunggal, melalinkan selalu terbuka simpulan lainya dan mempertimbangkan dari satu pertiwa satu dan lainya yang sedang terjadi.