Rab. Sep 28th, 2022

Oleh : Eros Lesen

Kejadian bom di Gereja Oikumene, Samarinda Kalimantan Timur, bom bunuh diri Markas Polisi Resort Surakarta Jawa Tengah dan Bom Sarinah, Jakarta sebagai alarm bagi masyarakat. Teroris tidak akan lenyap tanpa adanya kesadaran kolektif untuk melakukan deradikalisasi. Salah satu persfektif yang digunakan untuk proses tersebut mengantarkan kembali pada kearifan lokal.

Dalam falsafah dijelaskan ”Dimana bumi berpijak disitu langit dijunjung” berfungsi untuk menjelaskan rasionalisasi kearifan lokal dalam menjaga kebhinekaan negara dan agama. Sinergitas keduanya, mengentaskan pemikiran teroris yang konservatif menjadi transformatif. Guna mengajak kepada masyarakat pada tatanan bernegara dan bermasyarakat secara adil dan tercipta struktur dan sistem sosial yang inkulisivitas pada budaya dan tidak dominatif.

Nilai-nilai yang dimiliki oleh Jawa dapat digunakan untuk mengentaskan permasalahan deradikalisasi berbasis kearifan lokal.  Suyanto (1990) memaparkan nilai-nilai Jawa yang berpangkal pada  religius, toleran, dan akomodatif,

Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sangkan Paraning Dumadi dengan segala sifat dan kebesaran-Nya sebagai pangkal untuk memahami religiositas. Agama bukan hanya urusan ilahiah semata yang akan menghilangkan fungsi sosial. Ketika seorang teroris melakukan sesuatu moral atas nama agama. Perilaku tersebut merupakan bentuk ketidakmampuan untuk mensinergitas teosentris dan antroposentris dalam realita sosial. Hingga mengaburkan sangkan paraning dumadi hingga munculah kata bijak ‘sibuk ber Tuhan lupa beragama.

Doktrin oleransit mengenai agama  menjauhkan nilai relegiusitas akomodatif yang di ajarkan oleh Walisongo dalam dakwah keagamaan. Komarudin Hidayat (2003)  memaparkan subtansi agama-agama yang yang bersifat perennial dan otentik, harus dijelaskan dengan rasional. Jika Tuhan hanya menyelamatkan orang-orang yang menganut agama Kristen saja, misalnya, maka menurut akal sehat mustahil beberapa abad lahir agama Islam yang dengan cepat menyebar keseluruh dunia. Sebaliknya jika kedatangan Islam  dengan kebenaranya yang di bawa meniscayakan seluruh manusia memeluk agama ini, maka sulit dijelaskan mengapa Tuhan menutup hati pemeluk agama di luar Islam yang jumlahnya lebih besar ketimbang  pemeluk Islam sehingga tidak tertembus oleh pesan yang di bawa oleh Muhammad SAW.

 Kolaborasi antara nilai-nilai stransenden dan imanen dalam agama guna mengembangkan paham toleransi. Toleransi  dibangun pada masyarakat Indonesia melalui pendekatan budaya sehingga sejak awal mencerminkan sikap inklusivitas pada tatanan sosial. Pengaruh terhadap inklusivisme sebagai bangsa yang selalu dihadapkan pada multi-tafsir dari agama, aliran, mazhab maupuan pemikran sehingga kepribadian yang mereka yang mejadi tidak kagetan dalam menatap sesuatu yang berbeda.

Kebhinekaan Kolektif

Ideologi yang di usung oleh teroris memperlebar jarak kosmpolitan dalam masyarakat pluralistis. Tujuannya untuk melenyapkan keragaman menjadi keseragaman dalam aturan yang sesuai dengan konsepsi negara Ilahiah.

Menjauhkan masyarakat dari  nilai lokal masyarakat dapat menimbulkan tindakan yang amoral yang mengatasnamakan agama bukan sifat asli masyarakat kita. Melainkan culture impor yang sengaja direduksi untuk membawa seabreg kepentingan di dalamnya. Hanya masyarakat yang “sakit” yang bisa berdiri ditengah kobaran api melanda tetangga, tetapi kita pura-pura tak mendengar. Hobi guyub menjadi sesuatu yang mahal ketika sudah ditunggangi kepentingan-kepentingan merusak agama & perdamaian

Keberadaan doktrin ekstrem nan ekslusif dapat di atasi dengan kolektifitas sosial dengan mengusung kearifan lokal yang menyentuh ranah  kolektif seperti guyub yang di arahkan kepada sifat gotong royong, tepo sliro, saling menghormati serta andap asor. Upaya non-doktriner menjadi salah satu komponen  kerukunan pada komunitas sosial. Keberadaan norma yang diperuntukkan pada ksesalehan sosial yang ditekankan pada keadaan masyarakat dengan menjunjung tinggi budaya persatuan tanpa melihat latar belakang  individu sebagaimana semboyan Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetap satu jua).

 Kebhinekaan Indonesia menurut Syafi’i Ma’arif merupakan bangsa yang multi-etnis, multi-iman, dan multi-ekspresi kulturual dan politik. Keberbagaian perlu dikelola secara transformatif guna kebaikan, kecerdasan, dan kejujuran masyarakat yang tidak diragukan lagi sebagai kekayaan kultural yang dahsyat. Masa depan Indonesia yang harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh, sabar dan lapang dada. Kekayaan ini jangan lagi diperjuangkan untuk kepentingan serbaparokial dan tunamakna. .

Mencari titik kosmopolitan dengan tetap pluralistis  dilukiskan dalam slogan Bhineka Tinggal Ika sebagai upaya menjaga toleransi. Kebudayaan nasional Indonesia merefleksikan persatuan dan kesatuan dalam keragaman suatu usha meperthanakan tradisi luhur seraya mengupayakan inovasi dengan mengadopsi unsur-unsur baru sedapat mungkin.

Kehidupan bangsa yang berdasarkan Bhineka Tunggal Ika yang dimaksudkan untuk saling toleransi dalam menghadapi keberagaman. Negara dihuni oteh masyarakat multireligius terdiri dari 6 agama versi pemerintah dan puluhan kepercayaan terhad.ap Tuhan Yang Maha Esa.  Belum lagi suku-suku yang menambah varian  keberagaman bumi pertiwi seperti suku Jawa, Batak, Sunda, Bali, Dayak, Asmat, Bugis, dan sebagainya yang hidup berdampingan tanpa mengusik satu sama lainnya.

*Mahasiswa semester 5 Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo