Rab. Sep 28th, 2022

Oleh : Mega Diah Wati

Dalam kancah politik era sekarang ini, salah satu tokoh karismatik  NU kerap kali hidup namanya di kalangan elit politik maupun kalangan masyarakat cipil. Siapa lagi kalau bukan Abdurrohman Wahid atau kerap disapa dengan sapaan Gus Dur. Konteks mengagungkan ini tentunya mempunyai latar belakang yang sagat panjang, dari mulai Gus Dur bergulat di luar negeri untuk menimba ilmu, sampai kancah dalam negeri mengelola atas ilmu yang di dapatnya.

Berbicara tentang niali-nilai Gus Dur ini tentunya bukan semata-mata hasil dari Gus Dur sendiri, melainkan nilai-nilai Gus Dur ada karena perkumpulan para santri dan masyarakat bahkan mengundang sahabat poolitik, ekonomi dan budaya setelah Gus Dur wafat, selama 3 hari berturut-turut merumuskan Nilai-nilai tersebut.

Nilai itu muncul karena para sahabat dan santri serta masyarakat yang datang melihat langsung bahwa Gus Dur adalah sosok yang memunyai sembilan (9) nilai itu. Dan sembilan yang dimiliki Gus Dur ini memiliki latar belakang yang berbeda, meskipun ada titik-titik tertentu yang pembahasanya sama. Untuk lebih mengenal dalam nilai-nilai Gus Dur, berikut merupakan nilai-nilainya :

  1. Ketauhidan (Spirituality)

Ketahauhidan adalah dasar, dasar yang bersumber dari keimanan kepada Allah (Tuhan) sebagai yang maha ada, dan satu-satunya Dzat hakiki yang maha cinta kasih, yang disebut berbagai nama. Ketauhidan yang dimiliki ini bersifat Ilahiyah, yang diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial politik, ekonomi dan kebudayaan dalam menegakan kemanusiaan. Katuhidan ini juga bisa di sebut dalam bahsa arab alwahid atau alilahiyat. Yang sudah melekat dari lahir (transidensi).

  • Kemanusiaan (Humanity)

Kemanusiaan atau alinsaniyah ini bersumber dari pandangan ketauhidan. Bahwa manusia adalah makhluk tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumiyang kita pijaki sekarang ini. Bahkan salah satu tokoh biarawati barat Karen Armstrong pun mengatakan bahwa manusia adalah makhluk tersuci dari yang suci, dan manusia makhluk yang palig mulia dari ciptaan tuhan semesta.

Kemanusiaan merupakan cerminan dari sifat-sifat ketauhidan. Kemanusiaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Pandangan kemanusiaan Gus Dur ini memfalsafahkah hakikat dari manusia, bahwa memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, demikian juga dengan merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan menistakan penciptanya.

Dalam kemanusiaan ini, Gus Dur memfalsafahkan secara dalam,yang menurut pandanganya, membela kemanusiaan itu tanpa syarat. Dan pandangan kemanusiaan Gus Dur ini seperti tokoh-tokoh Nelson Mandela, Mahatma Ghandi dan bunda Theresa. Yang artinya, nilai-nilai kemanusiaan ini mengalir dengan yang lainya.

  • Keadilan (Justice)

Al-adl atau keadilan bersumber dari pandangan bahwa martabat kemanusiaan hanya bisa di penuhi dengan adanya Belence (keseimbangan), kelayakan, dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Pandangan Gus Dur dalam Keadilan ini  tidak sendirinya hadir di dalam realitas kemanusiaan, dan oleh  karenanya harus di iringhi dengan perjuangkan untuk memperlindungi dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang diperlakukan tidak adil.

Perbuatan dan gerakan itu tidak lain merupakan tanggung jawab moral kemanusiaan. Sebagaimana Sepanjang hidup Gus Dur sendiri rela mengambil tanggung jawab itu, ia berfikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

Keadilan ini bukan distributif dan komutatif, melainkan keadilan yang di perankan Gus Dur merupakan keadilan sesuai martabat masing-masing manusia. Keadilan hadir karena rasa hati yang begitu mendalam.

  • Kesetaraan (Equality)

Kesetaraan atau al-musawah bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan tuhan. Kesetaraan meniscayakan adanya perlakukan yang adil, hubungan yang sederajat, ketiadaan diskriminasi dan subordinasi, serta marjinalisasi dalam masyarakat. Nilai kesetaraan ini, sepanjang kehidupan Gus Dur, tampak jelas ketika melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap kaum tertindas dan kaum yang dilemkahkan, termasuk di dalamnya adalah kelompok minoritas dan kaum marjinal.

Seperti halnya umat Konghucu, aliran-aliran islam dan lain sebagainya yang dahulu kala pernah ada keseratan hidup dalam Negara Indonesia. Disitulah Gus Dur mengkualitatifkan kesetaraan ini dengan membedakan dengan yang sama dan tidak menyamakan. Yang artinya setiap idiologi manusia memiliki pedoman atau norma-norma yang berbeda, dalam tanda kutip kita sama dimata manusia dan keimanan yaitu satu Tuhan Esa. Tapi tidak dengan menyamakan perihal pedoman-pedomanya dengan sama.

  • Pembebasan (Liberation)

Pembebasan atau al-khoiriyah bersumber dari pandagan bahwa setiap manusia memiliki tanggung  jawab untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan, dan melepaskan diri dari berbagai bentuk belenggu-belenggu yang ada. Semangat pembebasan hanya dimilikioleh jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut dan otentik.

 Dengan nilai pembebasan ini, Gus Dur mendorong dan memfasilitasi tubuhnya jiwa-jiwa yang merdeka, sehingga mampu untuk membebaskan dirinya dan manusia lainya. Dan Gus Dur ini menerapkan seperti Nabi Muhammad SAWmenerapkan, melalui patriotoris (Pendekatan). Pembebasan Gus Dur muncul tentunya tidak lepas dari aksi, solidaritas dan refleksi.

  • Persaudaraan (Solidarity)

Persaudaraan atau al-ukhwah bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan semangat menggerak kebaikan. Persaudaraan menjadi dasar unuk memajukan peradaban. Sepanjang hidupnya, Gus Durmemberi teladan dan menekankan pentingnya menjungjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat, bahkan terhadap yang berbeda keyakinan dan pemikiran.

Pandanganya Gus Dur sesama manusia harus menjaaga persaudaraan, bahkan gus dur banyak melakukan ikatan saudara dari berbagai kalangan, baik lintas agama, lintas negara. Karena sejatinya manusia itu suka bergerombol sesama saudara. Sehingga beliau banyak yang mencintai karena rasa persaudaraan Gus Dur yang sangat kental. Karena untuk menciptakan rasa damai pada semua umat. Dan persaudaraan hadir karena sosial identitas.

  • Kesederhanaan (Humility)

Kesederhanaan atau al-qonaah bersumber dari jalan pikiran yang substansial, sikap dan perilaku hidup yang alami apa adnya. Kesederhanaan menjadi konsep kehidupan yang dihayati dan dilakon sehingga memunculkan jati diri manusia. Gus Dur perpandangan bahwa Segala sesuatu hanya pinjaman dan titipan, maka gus dur sangat sederhana dalam menjalani kehidupannya, karena menurutnya segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak penting secara material.

Dan  kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap belebihan, materialistis, dan koruptif. Kesedrerhanaan Gus Dur dalam segala aspek kehidupanya menjadi pembelajaran dan keteladanan. (Alami apa adanya).

  • Kesetaraan (Chivarly)

Kesetaraan atau al-jaah bersumber dari keberanian untuk memprjuangkan dan menegakan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan dilakukan dengan mencerminkan integritas pribadi, penuh rasa tanggung jawab atas proses yang harus dijalani dan konsekuensi yang dihadapi. Hal ini yang pegang oleh Gus Dur secara komitmen yang tinggi serta istiqomah.

Keksatriaan yang dimiliki Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keiklasan dalam menjalankan proses, seberat apapun masalahnya serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya. Sikap pemberani Gus Dur ini merupakan Sikap yang berani untuk menciptakan keadilan atau tujuan yang diinginkan. Dan berani mempertanggungjawabkan apa yang diomongkan. Antara yang dikatakan dan yang dilakukan itu sama.

  • Kearifan Lokal (Wisdom Of Traditional)

Kearifan tradisi atau al-urf bersumber dari nilai-nilai sosial budaya yang berpijak pada tradisi, dan praktik terbaik kehidupanya masyarakat setempat. Gus Dur menggerakan kearifan tradisi dan menjadikanya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.

Dalam kearifan lokal ini juga Gus Dur membedaka antara sariat dan budaya, antara pribumisasi islam dan arabisasi islam.

Dari ulasan diatas kita dapat menyimpukan bahwa segala yang dibentuk, dan di praktikan oleh Gus Dur merupakan sesuatu yang tidak lepas dari pandangan sosial, budaya, identitas dan politik. Terlepas dari itu juga, Gus Dur kerap merefleksikan diri melalui solidaritas, dan aksi terjun langsung di lapangan. Yang kemudian niali-nilai itu begitu melekat padanya. Hal ini yang diceritakan juga pada salah satu sahabat Gus Dur KH. Marzuki Wahid yang tinggal di cirebon mengatakan bahwa “mempelajari Gus Dur itu harus di iringi dengan latar belakag ia lahir dan sebagainya”. (becround).  

Sebab jika tidak di iringi dengan hal itu, kemungkinan besar kita terjebak dengan makna waliyuwoolh-waliyulloh yang kerap di ontarkan oleh masyarakat. Yang kemudian pemikiran-pemikiran kita buntu begitu saja, padahal dalam realita Gus Dur tidak lepas ari membaca, solidaritas, refleksi dan aksi. Yang lebih dari ciri khas Gus Dur adalah Tabayun-nya. Maksud tabayun-nya yaitu segala sesuatu kita harus cek in ricek beritanya (menelaah kembali) untuk membedakan baik dan buruk, salah dan benar.