Rab. Sep 28th, 2022

Aksi ratusan waga Rembang yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) melakukan aksi mendirkan tenda perjuangan di depan kantor Gubernur Jawa Tengah guna menolak pendirian pabrik PT Semen Indonesia Tbk (Persero) di datangi dua tokoh agamawan  Jawa Tengah, Romo Aloysius Budi Purnomo dan Gus Nuril Arifin, Selasa (20/12)

Setiba di tengah-tengah masa Gus Nuril langsung menyampaikan bahwa mereka yang selama ini berjuang adalah para pahlawan. Karena mereka terus memperjuangkan kelestarian alam Pegunungan Kendeng, dari aksi tambang dengan gaya kapitalis imperialis.

Gus Nuril juga menambahkan  bahwa kelestrian Pegnungan Kendeng ini sangat penting terhadap kondisi Jawa Tengah.”Begitu di gong kelestariannya (kedeng) hilang, maka Jawa ini akan hilang,”. Ujar Gus Nuril.

Rencana pembangunan pabrik semen ini bukan untuk kepentingan bangsa kita Indonesia, malainkan benyak menguntungkan pihak asing dengan mengorbankan masyarakat dan alam kita.

“Hanya karena ingin memberikan ruang gerak kepada kapitalis, kemudia menjadikan rakyat Indonesia budak mereka. Pulau Jawa akan hancur apabila Pegunungan Kendeng ini tetap dipaksa didirikan pabrik semen,” sambungnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Soko Tunggal  juga menyinggung dimana saat Ganjar berjanji pada kampanyenya dahulu akan menyelamatkan Jawa Tengah dan mengayomi seluruh rakyat kecil.

“Kami akan mendukung sepenuhnya perjuangan bapak ibu sekalian. Mohon dengarkan Pak Ganjar dan lihat tangisan wajah mereka wahai Bapak Ganjar Pranowo, engkau dulu berjanji akan menyelamatkan Jawa Tengah, engkau dulu katakana akan menjadi bapaknya rakyat kecil. Coba engkau dengarkan tangisan mereka kalau memang kamu memperjuangkan trakyat kecil, rakyat kecil yang tak punya apa-apa saja punya cinta yang besar kepada bumi mataram, bumi pertiwi, dan nusantara kenapa engkau masih tetap tonggak menjadi orang yang lamis,” pungkas Gus Nuril, sembari berlinag air mata.

Seusai Gus Nuril memberikan dukungannya, Romo Aloysius Budi langsung melanjutkan dengan menyanyikan syair Suluk Kendeng yang diikuti seluruh peserta aksi. Seluruh warga Rembang dan peserta lainya turut dalam keharuan lantunan syair-syair perjuangan Pegunungan Kendeng dengan raut wajah sedih. (md)