Rab. Des 7th, 2022

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Rayon Syariah Komisariat Walisongo telah melaksanakan pelantikan pengurus ke-39 sekaligus Rapat Kerja (Raker) yang dilaksanakan di aula PCNU Kendal pada Selasa 13/10.

Pelantikan pengurus baru tersebut dilantik langsung oleh Ketua PC PMII Semarang, Muham Tasir. Dalam sambutannya, mahasiswa asal Fakultas Dakwah & Komunikasi tersebut menekankan bahwa di dalam PMII yang nomor satu adalah khidmah.

“Yang nomor satu di PMII itu ya khidmah. Tidak ada yang lain. Apa pun yang kalian punya, berikanlah pada PMII. Ajarkanlah kepada kader-kader PMII. Karena dengan begitu, secara tidak langsung kita telah berkhidmah kepada para ulama”. Ungkapnya.

Kepada para pengurus yang baru saja dilantik, Mandataris ketua PMII Rayon Syariah ke-39, Khoirul Fajri, juga menekankan pentingnya membangun kapasitas pengurus dalam rangka menyongsong roda organisasi agar berjalan lebih baik ke depannya.

“Kapasitas pertama yang harus dimiliki para pengurus adalah militansi. Kedua adalah intelektual. Berbicara intelektual, artinya, kader PMII tidak boleh kalah dengan organisasi lain. Kemudian disiplinitas, terutama soal waktu. Agar kita dapat menyambut hari esok yang lebih baik, tentu saja”. Papar mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum tersebut.

Lebih lanjut, ia menghimbau kepengurusan satu tahun ke depan agar kader PMII Rayon Syariah dapat berjalan bergandengan tangan untuk berkhidmat di PMII.

“Saya tidak bisa bergerak sendiri di PMII, Sahabat. Saya memohon kepada Sahabat/i yang lain juga turut menemani”. Tuturnya.

Selain Pelantikan & Rapat Kerja, diadakan pula satu sesi Upgrading bersama Sahabat Habby Luthfi, demisioner ketua PMII Rayon Syariah tahun 2017, untuk membagikan pengalamannya serta gambaran terhadap pengurus baru untuk kepengurusan satu tahun ke depan.

Pria asal Blora tersebut menekankan betapa pentingnya proses kaderisasi untuk mewujudkan suatu perubahan.

“Untuk mewujudkan suatu perubahan, maka dibutuhkan gerakan. Gerakan yang matang berangkat dari kajian yang matang. Kajian yang matang berangkat dari bacaan yang mumpuni”. Ia melanjutkan, bahwa “ideologi sebagai pondasi,
kaderisasi sebagai kecakapan,
relasi sebagai pengembangan,
yang digunakan untuk khidmah jam’iyah dalam menyongsong nahdloh tsaniyah”. Pungkasnya.

Reporter : Rusda, Yusuf