Rab. Sep 28th, 2022

Oleh: Jamaluddin Pamrayoga
Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak Angakatan 2019

Manusia sering diasumsikan sebagai salah satu dari kelompok atau masyarakat yang mempunyai kebaikan bersama demi terwujudnya suatu tujuan. Momok kebaikan bersama yang menjadi sebuah kebenaran mutlak dalam suatu masyarakat atau kelompok. Dengan nalar manusia yang sehat mesti adanya pencetus perubahan yang mendorong dasar kemajuan sebagai penuntun kehidupan yang benar. Memahami sebab akibat secara realitas dan tidak berpatokan terhadap perumpamaan atau prasangka apapun, di situ lah manusia mempunyai daya nalar.

Nalar sehat sangatlah penting yang berguna untuk melihat aturan kehidupan di dalam diri pribadi atau kelompok.
Berdasarkan realitas yang ada, manusia sudah tidak lagi adaptif karena sekarang manusia sudah tidak menggunakan akal sehatnya lagi ketika melihat suatu realitas, melainkan hanya mengandaikan dan berprasangka. Digunakan atau tidaknya nalar sehat bisa kita nilai dari pemahamannya tentang hubungan sebab akibat dari suatu peristiwa.

Banyak lini bidang yang harus memiliki suatu perubahan supaya tidak memproduksi suatu opini dan polemic sebagai pusaran kekuasaan. Berbicara kekuasaan merupakan salah satu dari lima konsep yang dikembangkan dalam bidang politik.

Robson merupakan salah satu orang yang mengembangkan pandangan tentang kekuasaan yang fokus perhatiannya kepada perjuangan seseorang untuk memperoleh kekuasaan, memengaruhi pihak lain atau menentang pelaksanaan kekuasaan.

Konsep ini yang dapat mengartikan interaksi antara pihak yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi. Akan tetapi yang melemahkan konsep kekuasaan adalah konseptualisasi yang tidak bisa membedakan antara kepentingan politik dengan yang tidak berkepentingan politik.

Apalagi yang terjadi di era teknologi ini, di mana moralitas nalar sudah diaktualisasikan dengan adanya provokasi, kebencian dan ketidakadilan yang semata hanya untuk merebut kekuasaan. Kejadian ini menyebabkan cideranya nalar akal sehat sehingga poros untuk mencapai suatu kemajuan terhenti dengan tidak adanya kritisisme berpikir. Sikap kritis inilah yang memiliki keberanian untuk mempertanyakan cara berpikir yang sebenarnya. Sudah sangat lampau kebodahan ini masuk dalam nalar berpikir bangsa kita yang dibersihkan dengan kebudayaan yang ada.

Nalar akal sehat tidak semata untuk menemukan suatu tujuan dalam kebenaran akan tetapi mempertimbangkan kebenaran yang tepat supaya tidak adanya indikasi terhadap kepentingan pribadi. Esensi dari kebaikan bersama merupakan keputusan yang dilalui dengan nalar akal sehat manusia, di mana alasan yang diterima secara umum menjadi suatu kebenaran.

Berbeda dengan yang terjadi di Amerika serikat ketika masyarakat mempunyai kebebasan (freedom), maka masyarakat menentang atas upaya penyusunan undang-undang dan pengendalian senjata api dan terlihat sikap individualisme di Amerika serikat yang dianggap sebagai nilai yang paling baik. Dalam praktik politik sering terlihat bahwa nalar akal sehat sudah dimatikan oleh nafsu duniawi semata. Akal sehat diperjualbelikan dengan ketamakan dan keserakahan. Sudah menjadi ironi yang tak bisa dikendalikan ketika praktik politik hanya berorientasi kepada kepentingan sekumpulan kelompok saja. Padahal banyak sekali retorika dalam mempengaruhi praktik dalam politik yang seharusnya tidak terjewantahkan dalam ilmu pengetahuan.

Mengutip ungkapan dari pengamat politik yang ada di Indonesia Rocky gerung dengan bahasanya yang cakap mengatakan bahwa kita ini hidup di dalam dua republic, republic of fear dan republic of hope. Naluri akal sehat kita pasti memilih republic of hope akan tetapi nampaknya, penguasa politik lebih memilih republic of fear yang mana statistic pemilihan diadukan dan kemajemukan dalam berpidato selainnya itu hanya tukar tambah kepentingan yang diatur para broker, HAM yang didalihkan ke luar negeri sementara kejahatan dalam negeri dipulihkan sebagai modal pemilu.

Nah, sebagai intelektual muda sekarang ini kita harus mempunyai kesadaran untuk sebuah kemajuan dalam berpikir. Supaya tidak terulang lagi adanya kebodohan yang dikemas dengan praktik politik yang sejatinya hanya menutup nalar kritis berpikir. Bukan hanya terpengaruh terhadap pribadi akan tetapi penilaian masyarakat dalam praktik politik ini yang menyebabkan abainya masyarakat akan hak suara.

Sudah waktunya kita menggusur praktik politik keserakahan dan ketamakan agar terwujud tatanan masyarakat yang berkeadailan dan kemakmuran bersama. Gunakan retorika nalar akal sehatmu untuk mewujudkan suatu perdamaian dalam lingkup kekuasaan, karena kalau kita salanh langkah, imbasnya terhadap kebaikan bersama.

Refrensi

  1. Subakti,Ramlan. 2010, Memahami ilmu politik . Jakarta, PT Grasindo.
  2. http://www.jurnalperempuan.org/warta-feminis/rocky-gerung-berpikir-kritis-sebagai-upaya- memulihkan-akal-sehat-publik