Rab. Des 7th, 2022

Oleh : M. Lutfi Nanang Setiawan

Saya mohon, siapapun yang mencintai agama ini (Islam) harus banyak membaca. Jangan menuruti emosi kemudian emosi itu diatasnamakan agama (Gus Baha’).

Sebelum jauh membahas pemuda, ada baiknya kalau pemuda seharusnya dikaitkan dengan gerakan membaca. Karena masa muda adalah masa yang rentan, rentan dengan segala macam hingar bingar keadaan. Bahkan tanpa tahu asal mula persoalannya pun dia pasti spontan ikut bersuara. Aksinya terkesan mengampanyekan, namun sebetulnya cuman memperkeruh keadaan.

Seorang pemuda dituntut untuk membuktikan pergerakan dirinya, berkontribusi demi kemajuan bangsa dan negerinya. Pemuda merupakan generasi penerus bangsa. Bahkan kemajuan suatu bangsa juga sering dikaitkan dengan bagaimana peran pemuda di dalamnya. Salah satu gerakan yang bisa kita realisasikan untuk mencerahkan peradaban adalah gerakan literasi. Tentu ini tidak mudah, akan tetapi sebagai kaum terpelajar hal tersebut harus kita jalani dengan tabah.

Sesuai jargon yang sedang gemar-gemarnya digaungkan oleh Kemendikbud, yaitu merekonstruksi pendidikan bangsa yang berorientasi literasi, tidak sekedar numeri.

Tidak ada salahnya jika suatu institusi/lembaga mewajibkan pemuda wajib tahu, betapa pentingnya dunia literasi. Karena  di titik inilah mereka dapat memerdekakan keinginannya, mengekspresikan imajinasinya, memfusi visi arti hidupnya, serta berusaha mematahkan jiwa egosentrisnya.

Dewasa ini, sektor minat baca generasi bangsa rendah. Dan ada banyak motif ataupun alasan yang melatarbelakanginya. Kita tidak bisa menyalahkan keadaan, tuntutan zaman berubah seiring berjalannya waktu, namun setidaknya, budaya yang baik (gerakan literasi) harus kita lestarikan.

Bahkan, pengasuh Tebuireng Ke-7, Almarhum Dr. Ir. (HC). KH. Sholahuddin Wahid, sering menekankan kepada para santrinya betapa pentingnya gerakan literasi.

Kita bisa menengok betapa jamaknya  tokoh besar bangsa Indonesia yang masa mudanya dihabiskan dengan membaca, tak tersebut berapa jumlah buku yang dibaca. Seperti Bung Hatta, Ir. Soekarno juga Ki Hadjar Dewantara dkk. 

Ir. Soekarno saja sampai menjadikan kamarnya sebagai perpustakaan pribadi, bahkan menjadikan membaca tidak hanya sebuah kebiasaan tetapi juga kebutuhan. Seakan beliau-beliau ini sadar dan mengerti bahwa dengan membaca, dirinya merasa melanglang buana ke mana-mana.

Sampai-sampai Al-Qur’an mengabadikan pesan betapa pentingnya membaca dalam surah al-‘alaq sebanyak dua kali.

Sebagian cendikiawan muslim menerjemahkan iqra’ yang pertama sebagai anjuran secara tekstual untuk gemar membaca sebagai ladang awal pembelajaran, membuka pikiran dan melanglang buana memahami keadaan.

Sedangkan iqra’  yang kedua, sebagai anjuran untuk memahami, tidak sebatas tahu tanpa memahami isi (substansi).

Di samping betapa krusialnya gerakan literasi ini, gerakan menjadi manusia seutuhnya juga perlu digalakkan. Pendek kata, mari kita belajar menjadi manusia kamil berqolbin salim. 

Seperti kata pepatah: bahwa ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh. Begitu juga dengan berilmu tanpa beradab sombong, beradab tanpa ilmu kosong.

Peranan adab dan ilmu inilah satuan konfigurasi yang seharusnya tidak bisa lepas dari pribadi seorang pemuda. Banyak pemuda di luar sana yang berilmu tetapi tidak beradab dan terkesan “pinter tapi keblinger (pepatah jawa)”.

Beradab tanpa berilmu juga seperti orang yang terlalu fanatik. Mereka tidak mau menerima asupan dan masukan pengetahuan lantaran terlalu enjoy dengan pandangan mereka sendiri.  Mereka ini seolah-olah merasa cukup dengan apa yang mereka lakukan dan acuh terhadap hal-hal baru. Padahal zaman terus bergulir, jarum jam terus berputar.

​Harusnya masyarakat Indonesia mulai merubah pola pikir, bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan terlebih mengajak orang lain. Karena bagaimanapun juga lingkungan akan mempengaruhi tindak tanduk seseorang.

Para pemuda harus memiliki semangat juang yang tinggi, hal ini untuk mendapatkan prestasi yang baik serta achievement kehormatan agar nantinya bisa membanggakan bangsa Indonesia di kancah dunia.

Kini saatnya, kita sebagai pemuda mesti mencoba terbuka dengan segala perubahan, belajar bertransformasi untuk inklusif dan adaptif, tidak gegabah dalam mengestimasi dan menilai keadaan. 

Berbekal ketekunan menjaga konsistensi gerakan literasi, serta terus berusaha menjadi insan kamil berqolbin salim, semata agar ilmu dan adab seimbang.

Kemauan-kemauan itu tentunya kembali kepada pribadi masing-masing, mau berusaha agar tetap eksis di permukaan atau menyerah jungkir ke jurang penyesalan. 

Tidak bisa dipaksakan, memang karakteristik dan personalitas setiap orang berbeda, apalagi pemuda yang jiwanya masih labil. Kadang, hanya karena perkara sepele, dia kehilangan otoritas kendali atas emosinya sendiri.

Seyogyanya pemuda berusaha untuk memperbaiki diri, membenahi kualitas, serta memahami bahwa setiap manusia harus adaptif dengan perubahan, inklusif dengan saran dan kritikan serta dominan dengan tujuan dan pencapaian.