Rab. Sep 28th, 2022


Oleh:Rusda Khoiruz
Pernahkah kalian mengangan-angan apa saja isi wasiat dari seorang khotib di atas mimbar ketika khutbah jum’at berlangsung? Apa kalian malah terkantuk-kantuk sepertiku sebab sepoi kipas angin yang bikin PW (posisi wenak) untuk tidur sambil bersandar ke tiang masjid? Eits, tapi jangan ditiru. Seperti biasanya, aku jum’atan di masjid yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku (kos) semasa mahasiswa, bisa dikatakan lokasi masjid ini berada di perkampungan pinggiran kota metropolitan yang tentu para jama’ahnya beragam, mulai dari warga setempat, buruh, mahasiswa, PNS, wirausahawan dan sebagainya.
Pada jum’atan kali ini, aku mengambil posisi shaf agak di depan dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Itung-itung mempraktekkan ilmu yang dulu kuperoleh dari pondok, bahwa semakin di depan menempati shaf shalat maka fadhilahnya semakin besar pula. Demi menyimak dan mencermati khutbah jum’at dengan seksama, aku juga berusaha sekuat tenaga melawan kantuk akibat begadang semalaman.

Menurutku, Dalam khutbah pertamanya, ada salah satu pernyataan khotib yang mengganjal. Betapa tidak? Ia mensitir ayat-ayat Al-Qur’an untuk menghardik, katakanlah, tradisi masyarakat Indonesia yang sudah ada sejak dahulu. Ia mensitir surat Al-Baqarah ayat 42
وَلاَ َتلبِسُوا الْحَقَّ باِلْباَطِلِ وَتَكْتُمُواْاحَقَّ وأنْتُمْ تَعْلَمُونَ
yang artinya, janganlah kalian campur adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kalian sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya. Menggunakan ayat ini, Ia menganalogikan tradisi selamatan yang di dalamnya dibaca do’a-do’a, Al-fatihah, dan lain-lain sekaligus menyuguhkan sesajen (red: larung sajen, sedekah bumi) yang sudah ada sejak dahulu, pakek sekali dan lumrah di tengah masyarakat kita sebagai suatu pencampur-adukan (talbis) antara yang haq dan bathil.
Secara bahasa تَلْبِيْسُ artinya pencampur-adukan. Dalam hal ini dilarang, karena dalam ayat tersebut diawali dengan fi’il nahy (kalimat larangan) وَلاَ (dan janganlah). illat (esensi) pengharaman pencamur-adukan ini adalah memadukan dua hal yang saling bertentangan. Sedangkan sebab yang mendukung illat dalam ayat di atas adalah yang haq dan bathil. Belum lagi ketika ayat tersebut dianalisis menggunakan ulum al-qur’an seperti dikaji dari aspek asbab an-nuzulnya.
Jadi, apapun alasannya jika ada pencampur-adukan antara dua hal yang saling bertentangan itu pada prinsipnya tidak boleh. Sebagaimana tauhid dengan kesyirikan, kebenaran dengan kebohongan, iman dengan kekafiran, kufur dengan syukur, kesemuanya itu tidak diperkenankan beriringan dalam ajaran Islam.
Lantas, apa sebab pernyataan khotib itu menjadi ganjal? Yang ganjal yaitu ketika si khotib menyamakan tradisi yang ada di tengah masyarakat sebagai suatu kebatathilan. Gus Dur dalam gagasannya ‘pribumisasi Islam’, berpendapat bahwa agama dan tradisi/budaya mempunyai independensi masing-masing. Memang, keduanya mempunyai wilayah yang tumpang tindih dan perbedaan-perbedaan. Bisa dibandingkan dengan indepensi antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Orang tidak bisa berfilsafat tanpa ilmu pengetahuan, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah filsafat.
Lebih lanjut Gus Dur berpendapat, Ajaran Islam bersumberkan Wahyu dan bersifat normatif, maka ia cenderung permanen. Sedangkan tradisi/budaya adalah buatan manusia, karenanya ia berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan cenderung bisa selalu berubah. Akan tetapi, perbedaan ini tidak menghalangi kemungkinan manifestasi kehidupan beragama dalam bentuk tradisi/budaya.
Si khotib nampaknya melewatkan satu-dua hal bahwa di dalam ushul fiqh ada kaidah al’adah muhakkamah (adat istiadat bisa menjadi hukum) dan almuhafadlhotu ‘ala al-qodim ash-sholih wa al-akhdlhu bi al-jadid al-ashlah (menjaga nilai-nilai lama yang dianggap baik sembari mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik). Memaksakan dalil talbis tadi untuk menyamaratakan tradisi/kebudayaan dengan suatu kebathilan sama saja dengan menginginkan tercerabutnya kita dari budaya sendiri. Itupun belum menjamin keadaan akan menjadi lebih baik.
Kita tahu salah satu ciri masyarakat Indonesia khususnya Jawa yaitu dengan keberagaman nilai-nilai lokalitasnya, secara tidak langsung masyarakat Jawa cenderung sulit menerima kebiasaan ataupun ajaran-ajaran yang datang belakangan. Keyakinan lama tak lantas tergantikan oleh ajaran baru. Justru yang sering terjadi adalah perpaduan antar nilai. Maka dari itu, kedua kaidah ushuliyyah di atas sangat relevan diterapkan dalam masyarakat kita yang plural.
‘Sesajen’ bila dijelaskan dengan bahasa antropologis melalui pendekatan tafsir agama ialah sebagai bentuk ekspresi ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan, semisal karena diberi kelimpahan panen dan agar dijauhkan dari hal-hal yang negatif sembari diiringi do’a, tahlil, istighosah dan lain-lain. Jadi, menurut penulis itu bukanlah soal talbis antara yang hak dan bathil. Akan tetapi sebagai satu manifestasi kehidupan beragama dalam bentuk tradisi/kebudayaan. Harus disadari pula aplikasi pemahaman ajaran Islam dalam konteks kehidupan sosial hanya diperkenankan sepanjang menyangkut sisi kebudayaan.
Otomatis secara sosial dengan adanya pelestarian tradisi/kebudayaan demikian juga merawat pola komunikasi terjalin dengan baik, rasa kebersamaan-kekeluargaan akan terjaga. Namun, bilamana tradisi/kebudayaan itu hilang dari kehidupan bermasyarakat maka sangat mungkin kita lupa akan jati diri kita sendiri serta banyak konsekuensi/madhlorot yang kemudian menyusul, misal, konflik dalam masyarakat.
Potret Khotib saat ini
Daripada membincangkan permasalahan ummat termutakhir abad 21 ini, khotib jum’at lebih senang membahas hal-hal yg transenden, abstrak, supranatural. Tidak serta merta salah juga, namun kurang bijaksana. Karena biasanya, suatu pemikiran tidak bisa lepas dari ruang dan waktu di mana ia muncul. Itulah mengapa kontekstualisasi ajaran Islam merupakan keniscayaan dan sebagai muslim yang berakal kita dituntut untuknya. Meski teks keagamaan (Al-Qur’an & Al-Hadits) sudah berhenti.
Permasalahan real ummat manusia abad 21 adalah ketimpangan sosial yg sifatnya empirik, material. Material di sini bukan berarti paham Cinta dunia takut kematian, tapi material dalam arti hal-hal inderawi yg menjadi prasyarat kehidupan, misal, ekonomi, ruang hidup dan lain-lain. Tidak melulu meributkan tentang perbedaan keyakinan, aliran atau apapun itu seputar permasalahan norma yang kita anut. Mudah ditebak jika perbedaan keyakinan ini terus menerus diributkan yang akan terjadi adalah semakin keruhnya ketimpangan sosial.
Aku berimaji suatu saat nanti yang mengisi mimbar-mimbar khutbah adalah seorang pemuka agama yang peduli dan memahami realitas sosial abad ini. Berwashiat untuk bertaqwa kepada Tuhan di atas mimbar sekaligus menyeru perlawanan terhadap kebathilan yang sesungguhnya di abad ini, yaitu kerakusan, penindasan, menjual agama yang pangkal atau ujungnya bermuara pada paham kapitalisme-neoliberalisme. Mayoritas golongan mustadl’afiinlah yang paling sengsara menanggung beban permasalahan manusia termutakhir, buruh, kaum tani, mahasiswa, rakyat miskin kota dan lain-lain. Eh kok malah nyanyi lagu buruh tani.
Sepatutnya kita bisa mengambil ‘ibroh perjuangan baginda Kanjeng Nabi SAW, alasan dakwah Nabi ditolak bukan hanya karena mengajarkan ke-Tauhid-an, konsekuensi penolakan ajaran Tauhid kemungkinan tidak seberapa besar, sebab sebagian kaum Quraisy sudah mengenal konsep ketuhanan, meski menganut paham politeisme, setidaknya mereka mempercayai kekuatan adikodrati di luar dirinya yang diwujudkan sebagai berhala. Namun kemudian yang menyebabkan Kanjeng Nabi mendapat perlawanan berdarah-darah oleh kaum Quraisy ialah ketika Kanjeng Nabi berupaya menjungkirbalikkan tatanan sosial yang sarat ketimpangan. Ada misi revolusioner pembebasan ummat manusia terkhusus kaum mustadl’afiin dari ketertindasan sistem sosial. Praktek perbudakan, seks bebas, Oligarki di masa jahiliyah posisinya terancam seiring kehadiran ajaran Islam yang mendobrak kemapanan, menuntut kesetaraan, kemerdekaan, kesejahteraan, perdamaian dan sebagainya.
Tuntutan ajaran Tauhid implikasinya lebih berat ketimbang hanya harus mempercayai ke-Esa-an Tuhan, kaum Quraisy dituntut supaya berlaku adil, menanggalkan foya-foya, khamr, party sex, perbudakan dan semacamnya jika bersedia memeluk ajaran Islam.
Mari kita merefleksikan dan mewujudkan kembali semangat pembebasan Islam ke Era ini.

Ah, tapi aku lupa kalau mengambil posisi shaf agak depan di dalam masjid. Sehingga kudapati jatah nasi bungkus secara Cuma-Cuma yang disediakan oleh para dermawan di halaman masjid yang rutin hampir setiap jum’at ada, kali ini aku tidak kebagian karena kalah berebut dengan anak kecil-kecil.