Rab. Sep 28th, 2022

Oleh : M. Waliyuddin

Direktur Ancang Baca

“Membaca adalah jendela dunia. Buku adalah gudang ilmu”

Mungkin ungkapan tersebut biasanya sering terbesit di telinga kita. Namun ketika tidak dilakukan, dirasa akan menguap sia-sia. Semua pesan yang disampaikan di dalam buku dapat kita pahami dan tersampaikan ketika kita membacanya, benar begitu?

Sebuah pengetahuan mungkin akan terdiam dan bersembunyi saja di setiap halaman buku yang tertutup rapat tanpa ada yang menyentuhnya di setiap halamannya. Membaca buku menjadi pilihan tepat ketika seseorang ingin menambah ilmu pengetahuannya.

            Membaca buku menjadi sebuah kewajiban bagi diri kita sebenarnya. Banyak komunitas literasi yang mengkampanyekan membaca, ini menjadi sebuah pembelajaran tersendiri untuk  mengintropeksi diri kita agar tetap konsisten dalam membaca.

Beberapa minggu lalu aku mengikuti kegiatan membaca buku yang dikemas dengan membaca buku bersama di satu tempat. Kegiatan ini diinisiasi oleh organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Syariah UIN Walisongo Semarang.

Banyak dari kita khususnya mahasiswa mungkin sudah kenal dengan organisasi ini, memang organisasi ini terkesan berkegiatan sosial. Namun, di baliknya ternyata kadernya juga digembleng (ditempa) dalam istilah jawa, dilatih untuk gemar membaca sejak dini.

Kegiatan ini dinamainya dengan nama “Ndarus Buku”  bahasa ndarus ini diambil dari bahasa jawa yang artinya tadarus atau kegiatan membaca al-Quran di setiap bulan ramadhan. Entah mengapa mereka menamainya itu, tapi ini cukup menarik.  Tagline yang dipakai juga begitu epik dengan kata “manusia akan berhenti berfikir saat mereka berhenti membaca”.

Buku yang ditadarusi bersama yaitu buku yang ditulis Soe Hoe Gie yang berjudul Catatan Seorang Demonstran. Pertama kali saya ikut, belum tahu bagaimana sistem ndarus yang dimaksud dalam membaca buku bersama ini. Saya kira setiap halamannya dibaca secara bergantian, ternyata tidak. Ketika itu moderator membuka salam dan menjelaskan tentang mekanisme ndarus buku ini “kita mulai acaranya ya, Sahabat-sahabati”, ujar Rahman yang menjadi moderator saat itu.

Lalu laki-laki dengan logat kalimantannya itu mulai membagikan secarik kertas yang disetaplus dan fotocopy kepada para audien. Ternyata kertas tersebut fotocopyan halaman buku yang akan dibaca dan dibahas bersama di forum tersebut.

“Kita di pertemuan kelima ini sudah sampai bagian ke lima, mungkin saya beri waktu satu jam setengah untuk membaca 15 halaman di bagian lima ini”, jelasnya sambil menggaruk garuk rambutnya.

Karena aku tidak mengikutinya dari awal, maka aku membaca lanjutan di bagian kelima tersebut. aku sesekali bertanya kepada sebelahku yang kebetulan  sudah mengikuti dari awal sesi. “Buku ini di dalamnya menceritakan pengalaman penulis yang ditulis seperti cerita kah?. Dan dia menjawab singkat “iya, Mas”.

Satu jam setengah berlalu, ternyata antusias para anggota PMII begitu banyak. Sekitar 20 an orang yang ikut saat itu. Setelah mereka semua selesai membaca, lalu moderator mempersilahkan satu-persatu untuk mereview apa yang tadi dibaca dan disampaikan kepada forum.

Satu-persatu audien menyampaikan pendapatnya tentang isi buku tersebut, sesampainya bagianku lumayan deg-degan juga hehe, karena aku tidak begitu paham apa isi buku ini. Meskipun beberapa kali membaca resensinya yang ditulis seseorang di media online.

Aku mulai beraksi nih, karena saat itu memang aku kebagian review paling akhir dengan bahasa kaku aku tinggal menyimpulkan saja apa yang disampaikan ke 19 audien tadi, hehe sedikit nakal ya.

Dari pengalamn tersebut aku merasa bahwa memang untuk membaca buku itu perlu adanya dorongan motivasi dari teman kita. Berbeda memang membaca ketika sendiri dengan bersama-sama. Ada kepuasan tersendiri memang ketika halnya setelah membaca buku kita mendiskusikan dan me-review apa yang telah kita baca. Jangan malah seperti katak dalam tempurung jika kata pepatah. Sudah dipelajari namun tidak diajarkan. Sudah dibaca namun tidak didiskusikan.

Di diakhir sesi ada salah satu peserta ndarus buku ini memutarkan topinya untuk menampung uang dari para audiens untuk iuran, nantinya akan digunakan untuk fotokopi bagian selanjutnya di minggu depan.

Metode membaca seperti ini sangat perlu untuk dilestarikan, karena menurut penulis salah satu alasan seseorang malas membaca buku memang tidak ada motivasi untuk membaca sendirian. Dengan teman atau lingkungan kita orang yang gemar membaca, sedikit demi sedikit kita akan termotivasi juga untuk membaca. Benar begitu, Saudara!