Rab. Sep 28th, 2022


Oleh: Laila Palupi Rahmadani

Mahasiswi jurusan Hukum Pidana Islam 2020
Allah menciptakan semua mahkluknya disertai kelebihan-kelebihan untuk menunjang kehidupan di dunia yang fana ini. Manusia adalah mahkluk ciptaan Allah yang diberi akal serta pikiran agar mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun, sangat disayangkan ketika akal dan pikiran tersebut tercemari hal-hal buruk nan kotor.


Bagi orang Indonesia, berbicara mengenai hal-hal yang berbau seksual, seringkali masih dianggap tabu. Padahal, pendidikan seksual sangatlah penting terutama bagi remaja. Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menjadi pribadi yang dewasa. Tantangan hidup pun tentunya terkadang semakin rumit, berkelit, dan sedikit pahit. Tetapi tidak mengapa, memang hidup harus terus berjalan dan tidak selamanya lurus seperti tongkat pramuka.


Oke, mari kita kembali ke topik yang ingin saya bahas yaitu mengenai pelecehan seksual atau sexual harrasment. Pelecehan seksual menurut International Labour Organization, merupakan bentuk diskriminasi seksual serius yang mempengaruhi wibawa perempuan dan laki-laki. Tidak melulu hanya tentang pemerkosaan, ternyata ada banyak tindakan-tindakan yang terkadang tidak kita sadari termasuk dalam ranah pelecehan seksual. Beberapa hal yang masuk dalam kategori pelecehan seksual antara lain, memberikan tatapan bernafsu dan mencurigakan, mengirim foto atau video seksual tanpa diminta, memeluk tanpa izin dan yang sering terjadi menyentuh dengan dalih tidak sengaja di dalam transportasi umum.


Perempuan dan laki-laki sama, bisa menjadi korban bahkan pelaku. Sayangnya ketika individu sudah menjadi korban mereka takut untuk mengungkapkan keresahan dirinya karena malu dan merasa cemas apabila yang diungkapkan akan menjadi bahan olokan atau hujatan oleh masyarakat. Di era modern ini banyak masyarakat yang terbawa arus dan lupa untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk, hingga jari jemari kejamnya mulai berselancar di dunia maya untuk menjatuhkan dengan dalih bercanda. Sangat tidak bijaksana ketika kita sebagai masyarakat atau sering disebut warga net melontarkan kalimat jahat hingga kalimat sensual untuk individu lain.


Jika keresahan tersebut tetap dipendam dalam diri sendiri, bakal banyak dampak buruknya juga. Antara lain, depresi, menarik diri dari masyarakat bahkan hal paling buruk adalah bunuh diri. Mereka merasa kotor dan bersalah atas kejadian yang telah ditimpanya. Korban yang tidak mendapatkan penanganan secara baik lama kelamaan juga bisa menjadi pelaku karena rasa dendam yang tidak terbalasakan. Contoh yang akan sedikit saya jelaskan adalah kasus pencabulan yang dilakukan oleh penjaga sekolah terhadap 7 siswa laki laki berusia 15-16 tahun di Jawa Timur. Pelaku mengaku, penyimpangan seksual yang dia alami muncul setelah ia dilecehkan oleh pamannya saat usia dini. Maka dari itu sangatlah penting para ahli memberi pengawasan kepada korban serta memantau agar rasa trauma, cemas, dan keinginan untuk menjadi pelaku tidak membayang-bayangi perjalanan hidup mereka dan bagi si pelaku pun harus diberi sanksi serta pengawasan ahli agar tidak mengulangi tindakan bodoh tersebut. Karena bagaimanapun hidup harus terus berjalan walaupun sempat mengalami cobaan yang cukup berat.


Saya sangat salut kepada korban yang berani speak up ke publik dan saya akan sangat berterima kasih kepada masyarakat yang bisa menghargai dan dapat menjaga mulut serta jarinya agar tidak melontarkan hal yang menyakitkan. Belajar, berdiskusi, dan membaca adalah hal yang paling bermanfaat dan benar untuk mengisi waktu luang agar pikiran kita tetap baik serta jernih dan tidak terbesit sedikitpun keinginan untuk melakukan tindakan buruk untuk diri sendiri apalagi orang lain. Menghargai serta menghormati antar individu harus dipupuk sedini mungkin karena kita pun tidak mau menjadi korban apalagi dipermalukan. Semangat untuk belajar dan berproses semoga hal-hal baik menyertai.