Sen. Nov 28th, 2022

Oleh: Rusda Khoiruz

Masih ingatkah kalian tentang pelajaran sejarah ketika duduk di bangku SD, atau ketika SMP, SMA? Atau bahkan tidak ingat sama sekali, silahkan diingat sendiri. Namun yang jelas pelajaran sejarah dianggap pelajaran paling membosankan bagi murid seusia itu, betapa tidak? Para murid disuruh menghafalkan nama-nama tokoh, tempat-waktu peristiwa kejadian, lembaga organisasi, dan lain yang membosankan. Otomatis, pengetahuan sejarah tentang bangsanya sendiri bisa dipastikan sangat minim.

Misalnya saja ketika ingatan para murid itu diputar, bagaimana cerita sejarah yang terjadi ketika Indonesia masih berbentuk sistem kerajaan nusantara, jawabnya pasti masa kejayaan. Apa yang terjadi pra-kemerdekaan Indonesia, jawabnya pasti Belanda adalah negeri yang jahat karena pernah menerapkan sistem kerja rodi, merampas rempah-rempah, tidak memberi akses pendidikan kepada rakyat dan lain sebagainya. Tanpa kita tahu sebenarnya bagaimana dinamika sosial dan politik di dunia saat itu. Lalu, ketika ditanya apa yang terjadi ketika proklamasi-pasca kemerdekaan, mereka pasti hafal diluar kepala, proklamator Indonesia adalah Soekarno-Hatta. Apa yang terjadi ketika 1965, jawabannya selalu hampir sama, pemberontakan PKI, kekejiannya dan parahnya PKI dianggap sebagai pemain tunggal yang mendalangi peristiwa saat itu. Duh, betapa keji pembungkaman kebenaran melalui kisi-kisi buku pendidikan sejarah yang dijejalkan kepada memori kalian dan kita dek. Bahkan, jika diminta menjelaskan dinamika sosial-politik seperti yang terjadi ketika transisi dari Orde Lama ke Orde Baru sampai ke Orde Reformasi, narasi yang dibangun tetap sama, yaitu seolah-olah pergantian itu terjadi secara wajar, normal dan lembut, memang seharusnya begitu yang terjadi. Dinamika sosial dan politik yang menyertai semua itu selalu disampaikan samar-samar, alasan-alasan pergantian kekuasaan juga sangat minim pembahasan.

Setidaknya di buku pelajaran sejarah setingkat SMA tertelusur dalam kurikulum 2006 & 2013, sedikit saya kepoin. Pada buku pelajaran sejarah kurikulum 2006, narasi yang dibangun nyaris tak ada bedanya dengan kurikulum pelajaran sejarah masa Orde Baru, isinya tetap menceritakan masa kejayaan sejak zaman kerajaan sampai zaman Modern. Pada buku sejarah kurikulum 2013, kelihatan agak mendingan. Antara guru dan murid ada petunjuk untuk mendiskusikan materi dan murid diberi kesempatan untuk mencari sumber-sumber informasi di lain tempat tentang sejarah negeri ini. Tapi, ya sama saja itu semua hanya sebagai gimik pembaharuan sistem kurikulum lama. Praktis, pendidikan akhirnya tak lebih dari sekedar doktrin supaya para murid bangga dengan sejarah bangsanya sendiri, bukan untuk membentuk nalar kritis murid sebagai pembelajar.

Tentu ini tidak bisa dianggap hal sepele, sebab amnesia kita terhadap sejarah akan berdampak pada butanya kita hari ini dan masa depan. Alih-alih pendidikan sejarah pasca reformasi untuk membuka wawasan, malah terjerembab dalam kubangan belenggu doktrin. Seperti apa yang pernah dilakukan Orde baru terhadap pendidikan. Mau-tak mau, potensi mengulang sejarah kelam menjadi lebih besar jika hari ini kita tidak mampu menyambungkan ingatan ke sejarah masa lalu, ciyeee nostalgitul.

Baik, jangan mengelak! Gagal mengingat ataupun memahami sejarah tak jadi soal sekarang. Sekarang waktunya bercermin, melihat akibat-dari konstruk kegagalan pemahaman kita pada sejarah. Ada banyak sekali peristiwa sejarah kelam negeri ini yang sialnya kita ulang kembali hari ini. Padahal sebenarnya bila kita mampu belajar dan berbenah dari sejarah tak akan terulang hal menyakitkan lagi seperti ini, minimal tak sepedih dulu. Contoh saja, konflik agraria. Berapa banyak terjadi penggusuran, perampasan lahan, tindakan represif oleh oknum pemerintah terhadap rakyat yang memperjuangkan ruang hidupnya? Sejak zaman kolonial melewati pasca-proklamasi hingga pasca-reformasi, selalu berulang-ulang terjadi. Barangkali temuan Hatta tentang isu Agraria di dalam buku karya Henry George (1879) masih snagat relevan hingga kini, yang mana di dalamnya ada tesis yang mengatakan “bahwa semua krisis yang pernah terjadi di berbagai belahan dunia terjadi karena spekulasi tanah, karena tanah dianggap sebagai komoditi”.

penjajahan dengan berbagai sistem agrarianya yang menyengsarakan rakyat mulai dari domein, cultur stellsel, domein verklaring sebenarnya lebih dari cukup dijadikan acuan untuk menyusun kebijakan agraria yang pro rakyat. Apalagi, paska proklamasi sudah dicontohkan beberapa kebijakan agraria untuk kesejahteraan rakyat. Seperti: penghapusan hak-hak istimewa desa perdikan di wilayah Banyumas Jawa tengah, likuidasi “tanah partikelir” dan lain-lain. Sampai pada puncaknya UUPA 1960, meski tak seutuhnya terlaksana. Miris rasanya membaca draft kebijakan agraria yang baru diperbarui, belum lagi kebijakan-kebijakan UU yang lain. Apalah daya melihat ketimpangan yang dilegalkan macam demikian, hufffet.

Oke, konflik agraria dari A sampai Z dan lain sebagainya sudah tentu akibat-dari gagalnya belajar dari sejarah. Akan saya sedikit singgung yang lainnya juga.

Kali keberapa berbondong-bondong konflik antar identitas kemudian menyusul? Yang sebenarnya  unfaedah sekali meributkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal, dalam UUD setiap WNI dijamin kebebasannya oleh Negara dalam beragama dan beribadah sesuai kehendaknya. Negara juga menjamin kebebasan berserikat, berkumpul dan berpendapat. Tetapi realitas berbicara lain, tindakan persekusi dan pengusiran massal terhadap warga Ahmadiyah dan Syiah, anti terhadap warga Tionghoa, juga sikap-sikap anti-toleransi terhadap suku, golongan dan agama lain masih marak terjadi. Ini semua cukup menggambarkan betapa tidak mampunya kita semua belajar dari sejarah. Tak hanya itu, sentimen rasial terhadap orang papua masih nampak kental pula.

Penulis baru ingat juga, beberapa waktu yang lalu di kampus sempat ada gegeran pembubaran kegiatan salah satu ormawa X yang mengadakan kegiatan di masjid dan dibubarkan oleh salah satu oknum dari ormawa Y. Alasannya pun tak jelas tepatnya seperti apa. Duh, saya jadi malu sebagai mahasiswa.

Eh, ngomong-ngomong baru-baru ini juga ada kabar hangat dan bisa jadi melegakan. Kita pasti ingat sepotong kata Gus Dur dalam acara Kick Andy ketika ditanya, apa sebab ia dilengserkan dari jabatan presiden. Jawab Gus Dur hanya terkekeh santai, “nanti juga sejarah yang akan membuktikan” tandas Gus Dur. Rupanya, dawuh beliau yang terkesan santai itu sekarang terbukti. Penemuan dokumen penjatuhan Gus Dur oleh seorang jurnalis Virdika Rizky Utama yang kemudian dijadikan sebuah buku yang berjudul Menjerat Gus Dur, cukup menjawab decak kagum dawuh Gus Dur sekitar kurang lebih 18 tahun silam yang menjadi kenyataan.

Dalam beberapa dokumen fenomenal itu disebutkan beberapa pihak yang terlibat kongkalikong berupaya menjegal Gus Dur dari tampuk kepresidenan. Salah satunya ialah HMI connection yang menjadi aktor inti dalam rencana pemakzulan Gus Dur (tak akan saya ceritakan kronologinya bagaimana, kalau mau tahu ya beli sendiri bukunya!). Namun yang jelas, dalam momen seperti ini pasti ada saja beberapa oknum yang memanfaatkannya untuk kepentingan praktis, misalnya saja yang menuding bahwa HMI connection seolah-olah adalah oknum paling berdosa atas didepaknya Gus Dur dari istana negara. Tentu saja, dengan adanya narasi-narasi demikian, di lain pihak secara tersirat, efektif mengerek elektabilitas kelompok ormawa yang lain dan dengan lantang mengumandangkan kebenaran sejarah dengan menyalahkan dan menuding kelompok lain (HMI connection) sebagai biang keladi. Fragmentisasi seperti ini mestinya tak perlu terjadi. Bahkan, Mbak Alissa Wahid pun mengemukakan bahwa kenyataan sejarah yang ada di buku ini ditulis bukan untuk melakukan pembalasan dendam, melainkan sebagai pelajaran agar kita tak selalu diwarisi awan gelap masa lalu dan catatan sejarah harus diluruskan. Sebab, tanpa membaca dan mengungkap sejarah, masa depan hanya spekulasi keinginan dan angan-angan.

Pasalnya, sesungguhnya yang menjadi akar persoalan di Indonesia ialah ketimpangan sosial. Bagaimana mungkin mereparasi kerusakan sebab ketimpangan sosial hanya menggunakan jargon identitas, saling menyalahkan antar golongan, ormas-ormawa, aliran kepercayaan, sampai agama. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga lagi, yang terjadi selanjutnya mudah ditebak, mengakibatkan semakin keruhnya ketimpangan. Karena antar kelompok saling berebut klaim sebagai juru kebenaran, rela mencemooh, menindas, atau apapun demi memperjuangkan kebenaran! (identitas), begitu jargonnya. Kadang, mengingat kenangan cerita sejarah bangsa memang sakit rasanya, tapi itu harus dilakukan sebagai wujud bilamana kita mengaku cinta. Seseorang yang tidak pernah sakit ketika mengingat sejarah atau tidak mau belajar darinya bisa dipastikan cintanya setengah-setengah atau palsu. Bercintalah kemudian berceritalah Kisanak!