Rab. Des 7th, 2022


Oleh: Muhammad Rizik Fajri Tsani (Demisioner PMII Rayon Syariah Angkatan 2016)

Seseorang bisa saja sanggup melakukan ibadah puasa, sanggup mematuhi ketentuan syariat, sanggup untuk menahan diri untuk tidak makan dan minum dari subuh hingga maghrib, tetapi tidak benar-benar sanggup menggapai ‘puasa’ itu sendiri. Rasulullah bersabda: “Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”


Sebenarnya puasa bukan hanya ditujukan pada kader PMII; Umat zaman sekarang semata—jauh sebelum itu, umat terdahulu telah ada dan melakukan ibadah puasa. Seluruh agama sejak dulu telah mensyariatkan puasa, bagaimanapun prosesinya. Bahkan pada kelompok masyarakat tak beragama (Baca: primitif) sekali pun didapati kebiasaan berpuasa.


Lantas, mengapa puasa bisa se-istimewa ini? Dari waktu ke waktu senantiasa digandrungi oleh manusia. Apa tujuan puasa jika bukan karena puasa bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan juga sebagai momentum untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia?


Sayyid Hossein Nasr, dalam Ramadan: Motivating Believers to Action: An Interfaith Perspective, yang disunting Laleh Bakhtiar, menulis tentang puasa dengan sangat menyentuh dan juga mendalam: “Aspek paling sulit dari puasa ialah ujung pedang pengendalian diri yang diarahkan pada jiwa hewani, the carnal soul, al-nafsl al-ammarah seperti disebut dalam Al-Qur’an”


Sedangkan jika kita melihat—sebagaimana sabda Nabi yang telah disebutkan di atas; alangkah sulitnya menjalankan laku puasa tersebut, puasa yang bukan hanya sekadar menjalankan syariat menahan diri dari lapar dan dahaga; Akan tetapi, puasa yang dilakukan secara serius. Puasa yang benar-benar mengalami pergerakan, atau justru tidak mendapati pergerakan sama sekali.


Puasa di Tengah Arus Kapitalisme
Puasa adalah ketika kita—paling tidak—dihantarkan pada pekerjaan menahan diri dari kebiasaan meluapkan diri, atau pekerjaan mengendalikan dari kebiasaan melampiaskan. Dalam konteks yang lebih luas, supaya terhindar dari kebudayaan materialisme, kebiasaan konsumtivisme, perilaku hedonis. Yang cenderung mengajak manusia untuk meluapkan, melampiaskan, menggebu-gebu. Dalam hal apapun, yang indeks capaiannya berkaitan dengan kepuasaan manusia tersebut.


Arus kapitalisme merupakan arus peradaban manusia yang tidak pernah merasa cukup, seluruh kekayaan dunia diupayakan menjadi miliknya. Kalaupun tidak dimiliki, minimal di bawah kendalinya, roda perekonomian harus berada digenggamannya. Kapitalisme merupakan reinkarnasi dari kemelut panjang imperialisme dan kebengisan kolonialisme. Yang tujuannya adalah sama; sama-sama ingin menguasai.


Di abad seperti sekarang ini, corong-corong kapitalisme terbuka lebar di mana pun dan kapan pun; dan Indonesia adalah negara paling seksi untuk menjadi bidikan yang tepat bagi pelaku kapitalis, meski harus melibatkan berbagai pihak jika sewaktu-waktu dibutuhkan pembuatan aturan baru dan bahkan organ baru yang mendukung keberlangsungannya juga tambahan sedikit mengoleskan pelumas melalui iming-iming atau sekedar menciptakan euforia penggusuran lahan.
Itulah sebabnya, arus kapitalisme sangat sulit kita hindari, yang seringkali kita terjerumus didalamnya meski dengan keadaan sadar ataupun tidak sadar. Corong kapitalisme adalah pesta pora dunia industri yang memanjakan manusia untuk melampiaskan segala nafsu dan keinginannya yang tak ada habisnya.


Sementara kapitalisme hanya lah struktur dan sistem yang abstrak, yang tidak jelas dia ini kawan atau lawan, yang tidak perlu kita boikot; Karena justru menjadi semakin abstrak jika kita membuat petisi ‘Tolak Kapitalisme’—Betapa niskalanya. Seyogyanya, dari semua yang kita butuhkan adalah membangun kesadaran diri kita sendiri, mensucikan jiwa dari keinginan materialis dan perilaku konsumtif.
Lantas, jawaban dari pertanyaan mengenai bagaimana cara berpuasa di tengah arus kapitalisme ini adalah dengan cara berpuasa itu sendiri dan jangan mokel. Minimal kita bisa membedakan mana yang kita butuhkan dengan mana yang kita inginkan dalam kehidupan selama menjalani puasa atau bahkan setelahnya.


Puasa (Bukan Sebagai) Penghayatan Kelas
“Amal gersang tanpa rasa tidak berguna; Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa.”
Setelah ‘puasa’ diposisikan sebagai ladang subur industri kapitalistik, dengan berbagai macam seperangkat embel-embel dibelakangnya. Kini giliran puasa dihubungkan dengan tradisi penghayatan kelas.
Jika kita melihat jejak puasa yang berpuluh-puluh kali kita mengalaminya, mestinya kita sampai pada puncak penghayatan atas hakikat dari pengamalan puasa. Mestinya kita bisa lebih khusyuk menjalani puasa saat ini, dan lebih siap untuk melakukan puasa esok nanti. Tapi ironisnya, kita justru tidak pernah sampai pada titik sublim penghayatan.


Para pakar psikolog, menempuh perdebatan panjang mengenai the great paradoxes of the psychology of religion; menyandarkan idiom prejudice terhadap para pelaku beragama. Secara sederhana, penelitian ini menunjukkan bahwa semakin rajin seseorang beribadah justru semakin melahirkan tingkat prasangka yang tinggi terhadap orang selain dirinya. Menganggap orang lain adalah sumber segala sifat buruk.


Menjadi tanda tanya besar mengapa bisa terjadi demikian, tentunya disini tidak sedang membicarakan seluruh orang saleh yang sungguh-sungguh taat menjalankan ibadah. Namun, terhadap orang-orang yang menjalankan praktik agama tetapi keluar dari garis koridor dan orientasi keberagamaan ekstrinsik yang sifatnya instrumental dan utilitarian; yang tidak meletakkan motif keagamaan di atas segala motif pribadi. Tujuan agama kan mestinya menyatakan satu kepada yang seharusnya satu ya itu enggapai ridha Allah.


Kalaupun puasa ditinjau dari idiom prejudice dan juga penyakit psikologis lainnya, memang hanya akan berkaitan terhadap orang yang melakukan puasa bukan untuk Tuhan melainkan untuk kehendak dirinya yang sifatnya beranekaragam; instrumental dan utilitarian. Yang tidak pernah membaca makna retorika pergaulan-Nya.


Kendati demikian tentunya yang akan menciptakan penghayatan kelas, menyiasati bulan puasa untuk memperdaya orang lain, memanfaatkan kekhusyukan puasa untuk menyembunyikan tipu daya di baliknya, bersikap gagah berani memperalat hak-Nya untuk merampas hak makhluk-Nya.


Sebagai contoh tentang penghayatan kelas yang paling sederhana, dalam menjalankan puasa telah dimonopoli muslim kaya yang melampiaskan belas kasihan untuk menghayati nasib kaum muslimin yang miskin dan tertindas, seakan yang berhak memiliki puasa hanya kelompok muslim kaya. Tidak terhadap kelas fakir miskin karena dianggap tidak perlu ‘menghayati kelaparan’.
Kesadaran Berpuasa
Puasa-kah aku?


22 Ramadhan 1442 H