Rab. Sep 28th, 2022


Sumber: indoprogres.com
Sumber: indoprogres com

Oleh: M Waliyudin

 

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa.” Pramoedya Ananta Toer.

Gerakan mahasiswa merupakan sejarah perjuangan runtuhnya orde baru yang di pimpin oleh rezim Soeharto. Perjuangan pemuda/mahasiswa menjadi saksi sejarah bangsa ini. 20 tahun kita telah menjajaki era reformasi, namun seakan kita telah kehilangan mitos yang dinobatkan kepada mahasiswa sebagai agent of cange yang semakin jauh dari realita.

Gerakan mahasiswa memiliki sejarah panjang dan merupakan salah satu elemen penting dalam setiap episode panjang perjalanan bangsa ini. Kini gerakan mahasiswa dipertanyakan. Kemana arah gerakan mereka?. Banyak kegundahan rakyat terhadap aktivis gerakan mahasiswa.

Sekarang mahasiswa lebih bangga menjadi artis status dengan menulis kata romantis di media sosialnya, atau duduk manis di tempat tongkrong moderen dengan suasana yang jauh dari penderitaan rakyat kecil

Menimbang Intelektual Gerakan

Era refomrasi gerakan mahasiswa tentu mempunyai akar yang dalam dari masa sebelumya, entah dari tataran ide maupun format gerakan. Namun seakan mereka tak lagi mampu mepresentasikanya. Reformasi terjadi bukanlah tanpa celah kekurangan. Kebebasan berbanding terbalik dengan segi kemanfaatan. Mahasiswa sekarang lebih bersifat pragmatis bahkan lebih drastis timbulnya sikap apatis.

Mereka lupa sejarah perjuangan pemuda kala Bung Tomo mendirikan sekolah budi utomonya. Soekarno dan kawan – kawannya dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB) di Bandung beriniisiatif untuk mendirikan Kelompok Studi Umum (Algemeene Studi Club). Semua itu bertujuan membentuk idealisme pemuda pada masanya.

Para calon intelektual organik yang oleh kata antonia gramsci seorang filsuf italia memang sekarang sulit menemukannya.
Sikap diibaratkan tubuh dan ide adalah ruh. Keduanya tidak terpisahkan. Kesadaran intelektual harus dapat mewujudkan gerakan yang kritis, independen dan sosial dalam pengertian mau membela dan memihak kaum tertindas dan lemah. Membangun intelektual sebenarnya seorang pemuda mampu mewujudkannya, namun pemuda/mahasiswa dalam pandangan gramsci dalam bukunya “prison notebook” semua manusia sebenarnya bisa menjadi intelektual, namun tidak semua orang adalah intelektual dalam fungsi sosial.

Yang perlu kita benahi sebagai pemuda adalah bagaimana ide kita bisa di manfaatkan oleh banyak orang, serta gerakan kita dapat dirasakan mereka Terutama bagi kaum yang tertindas. Dan Jangan lupa dengan harkat dan martabat kita sebagai mahasiswa yang dijuluki sebagai agent perubahan. Wujudkan perubahan itu dengan bersinergi dalam mewujudkan tujuan membangun bangsa ini yang adil makmur dan sejahtera.

 

*Penulis kader aktif PMII Rayon Syariah, Kordinator Elkap (lembaga kajian dan penerbitan)*