Rab. Sep 28th, 2022

Oleh: Alvin Hidayat (Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Semester 4 dan Kader eLKAP)

Kita semua mafhum bahwa revolusi ialah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung dengan cepat sekaligus merubah pondasi atau landasan-landasan kehidupan masyarakat, sebagaimana yang juga didefinisikan oleh Wikipedia. Perubahan yang menyertai revolusi bisa saja direncanakan atau tanpa direncanakan sama sekali, dapat pula revolusi berjalan diiringi oleh kekerasan atau tanpa kekerasan.

Sementara menurut KBBI revolusi adalah perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata) dan perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang.

Melalui dua pengertian berbeda tersebut, kita dapat menarik benang merah bahwa revolusi ialah sebuah gerakan yang menghendaki terciptanya perubahan mendasar.

Perbincangan mengenai Revolusi, lebih tepatnya Revolusi Industri 4.0 di Indonesia sudah tidak asing bagi kalangan akademisi, terlebih sejak dimulai periodisasi Jokowi sebagai presiden Indonesia, Artificial Intelligent atau kecerdasan buatan yang akan membantu segala aspek kehidupan manusia termasuk beberapa aspek yang bahkan bersifat intim dan privat  merupakan tujuan dalam Revolusi Industri 4.0 ini, apakah telah berhasil?

Di luar definisi yang literal dan mainstream ini, masa pandemi seperti sekarang seharusnya bisa kita jadikan tolok ukur apakah Indonesia siap memasuki revolusi industri ke-4 atau tidak.

Pandemi memaksa kita sebagai warga Indonesia yang baik untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi untuk segala bidang, dari ekonomi, hukum, politik sampai pendidikan atau pembelajaran. Ya pembelajaran. Pembelajaran yang awalnya berbasis luring berubah menjadi daring, atau yang mungkin lebih dikenal dengan istilah Pembelajaran Jarak Jauh.

Pelajar atau lebih tepatnya mahasiswa, sebagai agen of change, masa pandemi bisa dijadikan pelajaran bagi kita menghadapi revolusi industri ke-4 ini, seperti menyesuaikan diri dengan memanfaatkan teknologi digital. Sehingga kita dapat mengembangkan kreatifitas dan inovasi melalui Internet of Things (IoT).

Alih-alih mensukseskan pembelajaran daring seperti bantuan kuota dari Kemendikbud, justru rasanya kurang berpengaruh signifikan bagi kesuksesan pembelajaran daring itu sendiri. Kenapa? Karena masih menghasilkan banyak masalah yang beragam. Mulai dari pembelajaran yang kurang efisien, hingga tidak meratanya infrastruktur teknologi.

Berbicara mengenai tidak meratanya infrastruktur teknologi, saya rasa akan sedikit tegang, oleh karena itu saya menyarankan kepada kalian (pembaca) agar meminum kopi terlebih dahulu. Sruputtt.

Judy Block, sebagai akademisi memiliki statement bahwa kesenjangan digital menjadi masalah utama yang dihadapi banyak negara termasuk Indonesia dalam implementasi pembelajaran jarak jauh. 

Kurang suksesnya pembelajaran daring ini melahirkan beberapa pertanyaan. Apalagi sudah menjadi kajian umum bahwasanya pelajar di Indonesia dikatakan sebagai salah satu pengguna teknologi dengan intensitas yang cukup tinggi.  Beberapa faktor penyebab kesenjangan ini antara lain status sosial ekonomi yang melingkupi pendapatan dan letak geografis. 

Pemerataan akses teknologi pun hanya terpatok pada iklim pasar seperti di kota-kota besar yang kepadatan penduduknya tinggi. Jelas sekali pihak yang paling dirugikan dalam pembelajaran daring ini adalah masyarakat di pedesaan. Jangankan pembelajaran daring, pada kondisi normal pun mereka terkadang menghadapi hambatan akses pendidikan. Seperti jarak tempuh ke sekolah yang begitu jauh.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sosok Indra Charismiadji (Center of Education Regulations and Development Analysis) menyimpulkan bahwa hambatan Indonesia dalam mengimplementasikan pembelajaran daring di tengah pandemi membuktikan jika pendidikan di Indonesia masuk dalam kategori “ketinggalan zaman”.

Mungkin dari hal itu bisa disepakati bahwa Indonesia masih belum bisa mewujudkan atau mengoptimalkan Revolusi Industri 4.0. Tapi tenang, di luar isu revolusi industri yang susah diwujudkan, kita masih memiliki pilihan lain yang mungkin tidak terlalu sulit untuk diwujudkan, revolusi akhlak misalnya. Hadehh.

Oke. Cukup sekian dan terima kasih. Sebagai penutup saya mengingatkan kepada para pembaca bahwasanya Soekarno pernah berkata: “Revolusi adalah gerak, revolusi adalah beweging, revolusi adalah gerak maju meningkatkan hari kemarin”.