Rab. Sep 28th, 2022

Oleh : Faisal

Musik merupakan salah satu media untuk mencurahkan isi hati seseorang. Lewat musik kita dapat merasakan apa yang si pencipta rasakan. Di dalam sebuah musik sering juga kita jumpai lirik. Namun, ada beberapa jenis musik yang sama sekali tidak menggunakan lirik seperti musik-musik klasik maupun tradisional.

Dalam sebuah lagu, lirik merupakan salah satu hal yang penting bagi mereka yang ingin mengungkapkan sebuah ekspresi melalui sebuah lagu. Namun, tidak terwakilkan begitu saja melalui alat musik yang dimainkan. Maka dari itu lirik bisa diartikan sebagai penegas atau power yang ingin disampaikan kepada para pendengar.

Dalam sebuah industri musik yang besar terdapat sebuah label. Label terbagi menjadi dua major label dan indie label yang memutarkan roda perekonomian seorang musisi. Praktisnya adalah  label merupakan sponsor yang akan  mendanai seorang musisi untuk membuat sebuah karya. Dimana mereka (musisi) tidak memikirkan pengeluaran dana penggarapan sebuah karya, cara pendistribusian, bahkan hingga tur promo sebuah single. Semuanya sudah terkelola di dalam industri kreatif tersebut. Indie label haya membantu dalam hal sarana seperti alat rekaman dan tidak ikut dalam mendanai pembuatan sebuah karya.

Adanya major label merupakan ladang emas bagi para musisi untuk memulai sebuah karir dalam bermusik. Mungkin penggambaranya seperti jalan perbukitan tak selurus jalan tol. Banyak ketentuan-ketentuan yang harus dilakukan untuk menembus major label.

Banyak dari para musisi atau band yang telah menanda tangani kontrak dengan pihak major label malah memilih opsi untuk memutuskan kontrak dikarena adanya ketidak cocokan dalam bermusik. Salah satunya band atau seorang musisi dituntut untuk membuat sebuah karya bertemakan Cinta.

Disini major label sangat ambil peran dalam  pembuatan sebuah karya. Bisa kita lihat band-band maupun musisi yang berada dalam naungan sebuah major label kebanyakan bertemakan tentang cinta. Kita ambil contoh band yang dinaungi label besar diantaranya D’masiv, D’bagindas, Noah, Kangen Band dan sebagainya kebanyakan lagu mereka bertemakan tentang cinta.

Label besar hanya akan mendanai atau merilis sebuah band yang mengikuti pangsa pasar musik Indonesia yakni lagu-lagu yang bertemakan tentang cinta. Seperti yang telah cholil tulis dalam lirik lagu “Cinta Melulu” milik band Efek Rumah Kaca.

“….lagu cinta melulu kita memang benar- benar Melayu suka mendayu dayu lagu cinta melulu apa memang karena kuping Melayu suka yang sendu-sendu lagu cinta melulu.. ”

Sebuah kritik tajam untuk pelaku Industri musik di Indonesia hanya membuat  lagu-lagu yang bertemakan tentang cinta. “Apakah semua seniman itu ide-idenya sama atau  mereka dibentuk oleh elit-elit dimajor label yang membuat kita seolah seragam, dari situ kita menanyakan kok kenapa sih lagunya cinta melulu?” tutur Cholil dalam sesi wawancara yang dilansir melalui kanal youtube milik Soundquarium. Sering terjadi sebuah band yang dulunya tidak memilih tema cinta kemudian mengambil kontrak dengan major label condong untuk memilih lagu yang bertemakan cinta.

Timbul sebuah pertanyaan apakah memang major label menghendaki adanya keseragaman dalam selera musik? ataukah hanya takut rugi mengeluarkan band/penyanyi yang menyenandungkan isu-isu selain cinta? Mengigat biaya produksi untuk sebuah album dengan kualitas sempurna  sangatlah mahal. Mengutip dari buku “Rock Memberontak” karangan Eko ‘@wustuk’ Prabowo. Dalam bukunya dia membeberkan dana yang dikeluarkan oleh Cupumanik (band grunge asal bandung) dalam penggarapan album “Menggugat” berkisar Rp67.400.000 yang berisikan 8 lagu. Dengan rincian sebagai berikut ongkos latian 8 x Rp600.000 = Rp4.800.000. Merekam demo live membutuhkan ongkos 8 x Rp50.000 = Rp400.000. Biaya rekaman lagu 8 x Rp5.400.000 = Rp43.200.000. Mixing menghabiskan dana sebesar 8 x Rp1.500.000 = Rp12.000.000, sementara mastering butuh biaya Rp7.000.000.

Berdasarkan rincian diatas penulis menganggap bahwa major label hanya bermain “aman.” Dalam artian mereka tidak mau merugi dengan apa yang mereka keluarkan untuk mendanai sebuah band. Sebenarnya jika suatu major label mau dan kepo melirik  band-band inide. Banyak diantara mereka yang memiliki kualitas yang baik dan kemungkinan besarnya bisa bersaing dalam kancah musik maenstrem.

Memang, tidak semua major label menuntut para anak buahnya untuk membuat sebuah lagu cinta. Namun, kebanyakan band-band yang bernaung di major label akan lebih condong ke arah pop dengan tema percintaan dan perselingkuhan. Karena bagi pebisinis musik, lagu cinta adalah komoditas utama dalam pasar musik Indonesia.

Tidak menutup kemungkinan jika  lima tahun kedepan, sepuluh tahun kedepan, ataupun  20 tahun kedepan musik-musik yang bertemakan cinta akan memudar dan digantikan oleh musik-musik  yang saat ini menjadi musik side stream. Karena pada hakekatnya major label mengikuti pasar musik Indonesia.

*Pecinta musik Indie asal Pemalang