Sen. Nov 28th, 2022

Oleh : Adetya Pramadira

Persoalan lingkungan seringkali direduksi hanya menjadi persoalan sampah yang menggunung, persoalan plastik yang tidak dapat terurai atau beralihnya penggunaan sedotan plastik ke sedotan stainless. Saat masyarakat berlomba-lomba beralih ke barang ramah lingkungan, saat yang sama industri-industri masih saja memproduksi barang-barang yang tidak dapat terurai. Disaat banyak orang membangun keyakinan bahwa bumi akan terselamatkan dengan kembali kepada produk ramah lingkungan, pembukaan lahan pertanian dan perkebunan skala industri tetap dilakukan pula. Tak jarang penggunaan terhadap bahan kimia untuk memompa produksi digunakan dengan jumlah yang sangat besar.  Kita sama seperti berlarian mengejar bom waktu.

Jauh daripada itu, persoalan lingkungan membuat iklim berubah begitu drastis dan tentu berimbas kepada banyak hal. Penurunan permukaan air laut, penipisan ozon, hilangnya keanekaragaman hayati, pengasaman air laut, krisis air bersih, polusi bahan kimia, tingginya angka kematian dini serta masih banyak lagi dan tentu semua itu mengarah kepada krisis pangan dan kiamat ekologis.

Persoalan yang begitu rumit dan kompleks membuat kita tidak bisa hanya mengandalkan “Back to nature”, ini adalah salah satu langkah kongkrit tapi, ini bukan penyelesaian akar persoalan. Bukan hanya soal sedotan yang tidak bisa terurai dengan jumlah begitu banyak menyebar di muka bumi. Seperti fenomena gunung es, ada persoalan di dasar yang sebetulnya kita sudah sadar akan hal itu.

Kapitalisme adalah Sebuah Masalah

Disaat kapitalisme hadir dihadapan publik dan menawarkan solusi atas krisis yang dihadapi dengan kemajuan teknologi yang dimiliki, konsumsi ramah lingkungan, itu semua hanyalah sebuah ilusi, meminjam istilah John Kenneth Galbraith itu hanyalah sistem “Innocent Fraud” (Tipu muslihat polos). Sejak awal kita harus meyakinkan bahwa kapitalisme bukanlah sumber solusi tapi ia adalah sumber persoalan.

Tidak berlebihan jika kemudian menyebutkan segala bentuk kerusakan yang ada  karena kapitalisme. Bagaimanapun, proses produksi adalah bagian dari proses destruksi. Selama proses produksi sumber daya dikeruk terus menerus, mengasumsikan alam dapat mereproduksi dirinya sendiri. Destruksi adalah syarat bagi terselenggaranya produksi dan ia harus dilakukan terus menerus untuk menarik keuntungan (Andre Gorz, 2002 : 34). Apa kemudian dampak bagi keberlangsungan lingkungan? Proses destruktif dianggap sebagai sesuatu yang produktif. Ia mampu menghasilkan komoditi dan keuntungan. Kapitalisme tidak akan memikirkan bagaimana dampak proses ini terhadap lingkungan. Lingkungan akan menjadi perhatian kesekian setelah keuntungan dikeruk dan didapatkan.

Dilain hal, produksi kapitalisme memandang sumber daya alam sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai dan diperlakukan sebagai barang-barang bebas, karena mereka tidak perlu direproduksi (diganti). Berbeda dengan alat-alat produksi seperti mesin-mesin dan lain-lain, yang ia membutuhkan perawatan dan penggantian. Begitu juga dengan tenaga kerja ia memerlukan perawatan, rumah, makan dan pelatihan.

Semua itu dikombinasikan sedemikian rupa untuk meraup keuntungan. Prinsip produksi kapitalisme adalah menghasilkan nilai tukar maksimal atas segala biaya yang dikeluarkan. Untuk melakukan hal itu, kapitalisme akan memberikan prioritas terhadap sesuatu yang lebih menguntungkan. Kinerja dan daya tahan alat produksi akan dipilih karena bagian dari modal tetap yang tentu akan lebih banyak menghasilkan barang. Sehingga, biaya untuk tenaga kerja dan perawatan lingkungan akan ditekan serendah mungkin serta kerusakan lingkungan tidak akan menjadi beban finansial bagi kapitalisme. Bagi kapitalisme, perawatan lingkungan tidak akan memberikan keuntungan balik, perbaikan atas udara, air dan tanah tidak dapat dimiliki dan dipertukarkan. Diberbagai persoalan yang melibatkan industri skala besar tentu kita akan melihat hal-hal seperti Ini. Bagaimana perusahaan mengabaikan syarat-syarat pengelolaan atas produksi yang dilakukan.

Tidak hanya persoalan industri saja, lebih jauh Marx menegaskan dalam kapital volume ketiga bahwa baik industri skala besar maupun pertanian skala industri memiliki efek yang sama terhadap krisis ekologi.

Dalam perkembangan belakangan, keduanya terhubung karena sistem industri yang diterapkan di pertanian. Hal ini juga melemahkan pekerja disana, sementara industri dan perdagangan memberikan jalan bagi pertanian untuk menggersangkan tanah (John Belammy Foster, 2000 :  163).

Pada mulanya sistem pertanian skala kecil menggunakan pengetahuan lokal dan melakukan perawatan serta perbaikan nutrisi terus menerus. Dengan menggunakan relasi seimbang antara manusia dan alam. Akan tetapi pemisahan desa dan kota telah menghancurkan hubungan kerja manusia dan alam. Kebutuhan yang besar akan nutrisi di perkotaan memaksa pertanian di desa melakukan perluasan dan kerja ekstra untuk menghasilkan panen. Pemupukan menggunakan bahan-bahan kimia terus dilakukan, sehingga melemahkan nutrisi lahan.

Sebagaimana ditulis oleh Carey bahwa seluruh energi pedesaan diberikan untuk perluasan kekuatan perdagangan, semua rakyat dimanapun tampak dipekerjakan, merampok persediaan kapital bumi (Carey :  1858).

Hal ini diperparah dengan penciptaan keretakan metabolik dengan memisahkan hewan yang menghasilkan kotoran untuk nutrisi tanah, hewan kehilangan pakan dan lahan kehilangan bahan organik untuk nutrisi. Pemanfaatan teknologi dan pengetahuan genetik dilakukan untuk membuat hewan atau hama pengendali. Spesies baru diciptakan untuk mengendalikan spesies yang tidak diinginkan (Andre Gorz, 1980 : 35).

Besar kemungkinan penciptaan spesies baru dengan menghancurkan spesies yang lain akan mengganggu keseimbangan ekosistem dan tentu akan memunculkan patogen baru dan penyakit epidemik.

Bagaimanapun juga, kapitalisme tidak akan memikirkan krisis yang ia buat.

Antara Mau dan Tidak

Setelah kita mengetahui bagaimana watak dan kerja kapitalisme, tentu kita akan beranggapan bahwa menciptakan tatanan dunia yang lepas dari jerat kapitalisme adalah sesuatu yang utopis. Tapi ini bukan persoalan mungkin atau tidak mungkin, ini lebih ke persoalan mau atau tidak mau keluar dari cengkeraman kapitalisme.

Di Indonesia, kita sadar betul bagaimana ekspansi tambang besar-besaran telah menimbulkan bencana, pembukaan perkebunan sawit skala besar telah mengganggu keberlangsungan hidup penduduk lokal, pendirian industri-industri telah menguras persediaan air bersih untuk proses produksinya ditambah polutan yang ia keluarkan. Belum lagi kebijakan pemerintah melakukan pembangunan-pembangunan di daerah rawan bencana, TTLSD dan NYIA misalnya.

Konsekuensi dari apa yang telah diperbuat sudah kita rasakan hari ini, bukan hanya sampah sedotan. Tapi persoalan ekologis yang berujung perubahan iklim telah mengakibatkan kelangkaan pangan, musim yang tidak menentu mengakibatkan  petani mengalami gagal panen, nelayan susah menentukan kapan ia akan melaut, penurunan permukaan tanah di kawasan pesisir dan masih banyak lagi.

Jika hari ini pemangku kebijakan mau mengambil langkah tegas dan mau keluar dari jeratan kapitalisme. Menolak segala bentuk pembangunan industri yang berpotensi merusak lingkungan, memutus rantai pengerukan sumber daya alam yang hanya dikuasai segelintir orang, menghentikan pembangunan infrastrukutur di daerah rawan bencana yang pada kenyataannya hanya sebagai fasilitas jalanya distribusi kapitalis maka, angin segar akan segera berhembus.

Belum lagi, di situasi krisis, lemah dan menuju kebangkrutannya para perusahaan karena pandemi corona ini, para kelas pekerja, buruh tani dan seluruh elemen masyarakat mau melakukan konsolidasi untuk merebut akses-akses produksi dan menggulingkan rezim oligarki, bisa jadi akan membentuk tatanan baru. Bukan hanya menggulingkan rezim, tapi sistem.

Jika hari ini kita tidak melakukan sesuatu yang mustahil itu, generasi selanjutnya tentu akan mewarisi kerusakan-kerusakan dan kiamat ekologis.

Selamat merenung.