Rab. Sep 28th, 2022


Oleh : Izzul Mutho’

Di bawah sinar lampu yang temaram. Kucoba melihat gelapnya langit malam, hanya terlihat rembulan yang hanya memantulkan sebagian cahaya matahari. Bintang pun tak ada yang terlihat, mereka bersembunyi di balik awan. Berhembusnya angin malam yang sepoi-sepoi, terasa seperti menghembuskan udara pada wajahku. Awan bergerak dengan perlahan, bagaikan bejalan menapak bumi, membagikan seni tersendiri di kegelapan malam. Perlahan waktu berjalan, bintang pun mulai nampak dari awan yang bergerak.
Terlihat dari depan rumah. Hal yang bisa aku lakukan saat itu adalah merasa panik. Aku ingin berbuat sesuatu menolongmu, tetapi tangan ini terasa berat seperti tertindih batu. Aku meneriakkan sesuatu, tetapi lidah ini terasa kelu. Aku merasa harus melakukan sesuatu. Mungkin karena hanya ada aku di situ. Tetapi aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Kau terlihat didepan rumahmu. Kau menyapu halaman rumahmu, membersihkannya dari sampah, lalu membakar sampahnya. Tanpa terduga kau berbuat bodoh. Kau sirami tubuhmu dengan minyak tanah, lalu kau sentuh api tersebut. Ingin ku berteriak “KAKEK JANGAN”. Tetapi mulutku serasa rapat terkunci. Tak terbuka sama sekali. Kenapa perbuatanmu bodoh sekali? Apakah karena kau yang sudah lanjut usia. Kau bertingkah seperti anak bayi baru lahir, yang tak mengerti apa-apa.
“Gubrakkk!! Adduuhh!! Ku terjatuh dari tempat tidurku. Ternyata hanyalah sebuah mimpi. Namun terasa seperti nyata. Aku sangat mengkhawatirkanmu, kek. Astaghfirullahal ‘adzim, aku telah lupa. Kau sudah pergi dari dunia ini setahun lalu. Apakah arti sebenarnya dari mimpiku itu. Apakah mungkin isyarat bahwa kau mendapat siksa disana? Kau terlumur minyak dan terbakar dalam kobaran api. Karena usiamu lebih lama dibandingkan orang pada umumnya. Hingga akalmu seperti kembali menjadi bayi, engkau tidak menjalankan perintah agamamu dengan benar.
Apakah itu peringatan karena selama ini aku lupa tidak mengirimkan do’a pada kakek sehingga kakek disiksa di sana? Atau mungkin peringatan bagiku bahwa ternyata aku ini terlalu buruk dan perlu harus memperbaiki diri. Aku tidak boleh berfikir hal-hal semacam itu, tidak boleh menafsiri mimpi seperti sesuka hatiku. Ku coba mendamaikan perasaanku. Tidak lah, tidak akan terjadi apa-apa pada kakek. Kakek kan orang baik. Mungkin aku hanya rindu padanya. Hingga ia hadir dalam mimpiku.
Kulihat jam yang menempel di dinding, terlihat telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Sebentar lagi subuh tiba, ku bangun dari tempat tidurku. Bergegas melangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk berwudlu. Masih ada waktu untuk shalat tahajud. “Kalau ingin ketenangan hati, bermunajahlah pada Allah, dengan shalat di sepertiga malam kamu akan lebih mampu merasakan petunjuk Allah”, nasihat ayahku yang selalu terngiang di telingaku. Kulaksanakan sholat tahajud dan kupanjatkan do’a pada Allah, supaya kakek ditempat bersama orang-orang yang beriman di sana.
Kakek selalu menyayangiku, merawatku ketika orang tuaku sibuk dengan pekerjaan mereka. Menidurkanku, menyuapiku, dan aku juga sangat menyayanginya. Aku mencoba mencari obat untuk kerinduanku pada kakek. Kutumpahkan segala kerinduanku dengan air mata yang membasahi pipku.
Pagi itu dirumahku terasa ada udara kebahagiaan. Aku, ayah, ibu, saudaraku, semua ada dirumah. Kuhampiri ibu yang sedang memasak di dapur. “Bu, masak apa ini? Baunya enak sekali”, kataku. “Pokoknya enak”, jawab ibuku. Lalu kehampiri ayah yang sedang membaca kitab berbahasa arab yang tidak terlalu kumengerti diruang keluarga. “Yah, tadi malam aku mimpi bertemu kakek. Kangen sama kakek, yah. Kita ziarah, yuk!”, mintaku. “Iya, hari ini ayah juga libur. Tapi nanti sore ya. Siang ini ayah dan ibu ada acara reuni dirumah teman”, jawab ayah. “Kamu dirumah saja ya, nemenin adik kamu dan jaga rumah, ris. Faris kan sudah besar, juga sudah punya adik kan”, sahut ibuku. Aku tersenyum dengan agak kecewa.
Yah, tetap terasa sepi dirumah jika hanya berdua, aku dan adikku. Meskipun libur tetap tidak dirumah. Agar tidak terasa jenuh, aku menonton TV bersama adikku.
Kami berdua berebut memilih channel TV. Akhirnya aku mengalah, membiarkan adikku menonton channel kesukaannya. Hari pun mulai beranjak sore, hingga kemudian adikku tertidur, sehingga aku bisa memilih channel sesuka hati. Akhirnya aku memutuskan menonton berita saja, biar tidak ketinggalan informasi.
SATPOL PP telah melakukan pembongkaran tempat pemakaman umum di daerah Kota Semarang Jawa Tengah, karena akan digunakan untuk perluasan jalan. Seorang reporter melaporkan dengan sangat jelas dan tegas. Aku tercengang melihat berita tersebut. Kenapa dilakukan pembongkaran secara tiba-tiba? Itukan daerah tempat pemakaman kakek. Kenapa tidak ada konfirmasi pemberitahuan pada pihak keluarga pemilik makam-makam itu? Itukan masih dalam hak sewa kami. Kebijakan apa ini? Kurasa ini ketidakpecusan birokrasi pemerintahan sekarang. Hilang sudah harapanku untuk menziarahi makam kakek. Kalau bukan ke tempat itu, kemana lagi aku bisa menjenguk kakek. Bagaiman aku melepaskan kerinduanku pada kakek?. Geramku pada pemerintah.

Kendal, 19/01/2021