Rab. Des 7th, 2022

Judul: Hujan bulan juni

Pengarang: Sapardi  Djoko Damono

Penerbit: PT.Gramedia Pustaka Utama,Jakarta

Tahun terbit: 2013

ISBN: 978-979-22-9706-5

Jumlah halaman:  120 halaman

Peresensi : Alvin Hidayat

Buku  kumpulan puisi  Sapardi Djoko Darmono ini pertama di terbitkan oleh Grasindo pada tahun 1994,Buku ini berisi serpihan sajak yang di tulis sejak tahun 1964 sampai tahun 1965. Buku hujan bulan juni ini di cetak beberapa kali dan setiap cetaknya pasti ada perubahan entah pengurangan  sajak ataupun  penambahansajak. Dalam 102 puisi buku ini banyak pesan yang di sampaikan oleh sapardi

Walaupun tergolong mahal harganya akan tetapi buku ini sangat bagus sekali bisa dilihat dari hardcofer yang bergambarkan bulir hujan yang berjatuhan ditambah potongan daun kecokelatan di tepi halaman kaver, perpaduan warnanya juga sangat pas dan  sahdu, dari depan saja  serasa sudah merasakan isi buku ini di tambah lagi dengan pembatas bukunya yang berbentuk daun gugur yang membuat lebih indah karna hujan tidak jauh dari gugurnya daun

Puisi-puisi yang di tulis oleh  Sapardi dalam buku Hujan Bulan Juni  ini, di dominasi oleh puisi puisi yang banyak menggunakan kata hujan,malam, jenazah dan waktu. Makna hujan dalam buku ini bukan berarti  hanya tetesan air yang jatuh di permukaan bumi akan tetapi hujan bisa di artikan sesuatu keadaan susah  ataupun senang

Judul buku ini di ambil dari Puisi  “Hujan Bulan Juni”, mungkin karena puisi Hujan Bulan juni puisi yang istimewa karena  bisa di artikan keadaan kelam  dan bisa juga di artikan sebagai keadaan senang, karena puisi sapardi ini menurut saya bermuka dua, terkadang ketika dibaca di sore hari puisi ini sangat indah dan dapat diartikan makna nya senang akan tetapi, apabila dibaca di malam hari puisi ini bermakna beda lagi yaitu bermakna keadaan sedih kelam.

 Ciri Sapardi dalam membuat puisnya selalu  menggunakan  kata-kata yang sangat sederhana contohnya pada puisi yang berjudul  “kuhentikan hujan” Supardi hanya menggunakan  tiga unsur  yang  kita katakana bahkan setiap hari ,kata-kata  itu yaitu hujan, matahari dan tanah.

Dalam buku ini aku menyukai puisi yang berjudul “aku ingin” yang  sebagai berikut.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada

Api yang menjadikanya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat di ucapkan kepada hujan

Yang menjadikanya tiada. Dalam puisi ini sapardi menggambarkan seperti seseorang yang mengungkapkan perasaanya ,bahwa ingin mencintai dengan ikhlas dan sederhan , tanpa meminta balasan dari orang yang dicintainya.

Selain itu, ciri dari puisi Sapardi adalah dalam semua puisinya tidak menyinggung tentang masalah sosial politik ataupun perjuangan yang pada saat itu sedang semaraknya di bicarakan oleh para penyair – penyair lain.

Karya  sapardi  dalam penulisan puisi hampir mirip seperti prosa, sapardi banyak mengabaikan aturan-aturan dalam penulisan puisi bisa di lihat dari puisi yang berjudul “pada suatu malam” itu menurutku  hampir mirip dengan prosa.