Sen. Nov 28th, 2022

Oleh: Fathan Zainur Rosyid*

Selama tiga hari sejak tanggal 29 Maret – 1 April 2018 PMII UIN Walisongo mengadakan Pelatihan Kader Dasar (PKD). Di situ penulis beberapa kesempatan bersinggungan dengan peserta, tentu dari sekian banyak peserta PKD -kisaran  300 peserta- terdapat banyak tipologi kader, mulai yang suka hal-hal yang berbau teknis lapangan hingga yang suka literasi.

Beragamnya tipologi kader akan menambah warna di PMII Walisongo, mereka bisa saling belajar satu dengan yang lain. Kader yang suka hal–hal teknis bisa belajar mengenal dunia literasi, pun sebaliknya hingga menimbulkan semacam simbiosis mutualisme.

Sedikit cerita beberapa waktu yang lalu, teman penulis pergi ke Jakarta silaturahmi ke KH. Nuril Huda salah satu pendiri PMII, di sela-sela bincang santai beliau berpesan begini, “Kader PMII harus pintar, berani berproses di PMII harus berani pintar kalau tidak mau pintar tidak usah di PMII dan skor toelfnya harus tinggi”.

Tentu bukan tanpa alasan beliau berpesan demikian, kalau boleh penulis menafsirkan mengingat banyakanya kader PMII yang tersebar di seantero Indonesia beliau tidak ingin kader PMII hanya menjadi “buih di lautan”  hanya besar di kuantitas tapi nol di kualitas, banyak kader tapi tapi tak punya orientasi yang jelas dalam bergerak (disorientasi). Mengingat kuantitas kader di UIN Walisongo pesan beliau kiranya relevan untuk dijadikan pepeleng.

Kembali ke pesan KH Nuril Huda tentang kader pintar, kita semua tentu mengamini wejangan beliau. Beraneka ragamnya tipologi kader, membaca -dalam hal ini membaca buku- adalah perihal WAJIB. Membaca adalah salah satu wasilah menuju pintar bahkan ada banyak manfaat lain yang kita peroleh dari proses membaca, mulai dari menambah wawasan hingga membangun kesadaran kritis. Menurut Soekarno membentuk masyarakat berbudaya baca tinggi merupakan jalan membawa kemajuan Bangsa. Anjuran membaca juga selaras dengan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Membaca juga bisa berkorelasi dengan salah satu prinsip Aswaja yakni tasamuh (toleransi). Tasamuh bisa dimulai melalui membaca, tentu dalam proses membaca kita melalui fase berfikir dan merenung tentang ide. Dalam tulisan tidak semua ide dalam buku kita amini begitu saja di situ ada proses dialektika antara menerima atau tidak, dalam proses dialektikanya si pembaca bisa saja menemukan jawabannya dalam buku bacaan yang lain. Di satu sisi buku bacaannya terkahir menimbulkan benturan ide dengan apa yang ia yakini sebelumnya, maka dia akan terus mencari jawabannya dalam buku-buku yang lain begitu seterusnya. Proses benturan ide tersebut akan membuat pembaca terbiasa menerima perbedaan, setidaknya meskipun dia tidak setuju dengan suatu gagasan, dia mengerti mengapa orang yang berbeda dengannya mengambil jalan ide tersebut.

Membaca juga membantu kader berfikir transformatif, tidak lagi memahami problem-problem bangsa secara parsial, apalagi hanya dengan menggunakan pendekatan agama an-sich. Dengan membaca buku-buku sosial umpamanya, kita bisa menganalisa suatu problem dengan pendekatan teori sosial sehingga memahami permasalahan negara lebih pada problem struktural.

Budaya membaca secara umum menjadi problem tersendiri bagi negara Indonesia. Dikutip dari laman kaskus.com laporan UNESCO terhadap minat baca masyarakat Indonesia jika dipresentasi sebesar 0,001%, artinya, dari 1000 orang di Indonesia hanya terdapat 1 orang yang membaca. Riset bertajuk “Most Littered Nation In the World”  yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016 menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Padahal dari segi penilaian infrastruktur pendukung untuk membaca negara kita berada di atas negara–negara Eropa. Miris bukan? Demikianlah realitanya sahabat, maka seperti adagium yang familier kita dengar “ibda’ binafsi”, mari kita mulai budayakan membaca, dari diri sendiri tentunya. Wallahua’lam.

*) Kader PMII Rayon Syariah, Pengurus PMII Komisariat Walisongo periode 2018, dan Koordinator FNKSDA Semarang.