Rab. Sep 28th, 2022

Sumber foto: Islami.co

Oleh: M Fadzly Al Humam*

Millenialisasi gen menurut bahasan demografi dalam kurun waktu 1980-2000 (rata-rata) menurut para ahli, nampaknya membentuk the new generation, yakni Generasi Y (Millenial). Renyah nampaknya bila hal ini dijadikan konsumsi ringan secara seksama (joinan), apalagi setelah penamaan dari generasi ke generasi yang beregenerasi begitu terdengar booming ditelinga kekinian, antara lain generasi X, Y, hingga generasi Z yang menjadi utusan terakhir dalam kaum generasi (sejauh ini).

Penulis William Strauss dan Neil Howe secara luas dianggap sebagai pencetus penamaan Milenial. Mereka menciptakan istilah ini pada tahun 1987, saat anak-anak yang lahir di tahun 1982 masuk pra-sekolah, dan saat itu media mulai menjamah kedalam keseharian mereka yang tergolong kedalam millenium baru. Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai “Echo Boomers” karena adanya ‘booming’ (peningkatan besar) tingkat kelahiran di tahun 1980-an dan 1990-an. (dalam: Wikipedia Bahasa Indonesia)

Karakteristik Generasi Millenial atau Generasi Y ini secara umum dapat dikenali dengan mewabahnya dunia media-elektronik, mudahnya akses dalam berkomunikasi, informasi, hingga tersedianya berbagai sumber pengetahuan berbasis text-oriented & Audio visual dapat dikonsumsi secara mentah oleh generasi ini, sehingga pada gilirannya membuat generasi Y menjadi karib dengan media-elektronik. Bahkan bisa dikatakan media-elektronik sebagai suatu keniscayaan, “barang siapa dapat mengelolanya dengan benar, maka dia mujur. Namun sebaliknya, barang siapa tidak dapat mengelola dengan benar, maka dia hancur.. hehe”.

Diantara sekian banyaknya sajian dalam media-elektronik, medsos menempati rating tertinggi bagi para pengguna. Bagaimana tidak? Mudahnya berkomunikasi, jalan bisnis dan narsis menjadi satu-satunya hiburan tersendiri. Meskipun begitu, tak dapat kita elakkan bahwa kebutuhan informasi update terkini berbagai persoalan keIndonesiaan juga perlu diperhatikan, mengingat semakin derasnya kemelut yang terjadi di negara kita ini. Itulah yang harus digaris bawahi.

Pemudalah lah yang kemudian dibutuhkan, utamanya bagi generasi millennial yang terkandung didalamnya, hehe. Sejatinya, medsos kadang menjadi hasutan tersendiri bagi pemuda pemudi yang kemudian melahirkan jiwa apatis, padahal banyak persoalan-persoalan penting yang lebih ingin diperhatikan ketimbang sekedar bernarsis ria. Penulis tidak bermaksud menolak, hanya saja penyeimbangan antara media narsis dengan aktualitis kepedulian terhadap lingkungan, sudah tidak bisa dinafikkan lagi pentingnya.

Apalagi ditengah leluasanya mengelola media-elektronik semakin terbuka lebar. Tak jarang banyak konsumen menemui informasi-informasi dari berbagai belahan dunia yang dapat diakses, isu-isu kekinian dalam berbagai bingkai wacana dapat ditegur sapa oleh para pembaca, variannya pun dapat berbeda-beda, mulai dari ekonomi, social, doktrin studi keilmuan tertentu hingga politik yang menyeret isu sara sekalipun dapat ditemui. Disinilah akhirnya menjadi moment of examination dimana selektifitas pembaca terhadap sumber-sumber bacaan harus diperhitungkan.

Pada akhirnya, khusyu’ harus digalakkan dalam budaya konsumtif kita sebagai para pembaca media, hal tersebut menjadi deduksi dari lahirnya fenomena hoax. Ada konsumen, ada produsen, itu terjadi pula dalam dunia media-elektronik. Kesimpulannya, bila ada pembuat berita, maka ada konsumen berita, dan penulis adalah manusia tentunya, njih mboten? Dan setiap manusia memiliki pemikiran berbeda-beda mulai dari factor ekonominya, politiknya maupun lingkungannya. inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal tumbuhnya produsen-produsen dalam produk-produk tulisan-berita di dunia media-elektronik.

Kembali lagi ke generasi millennial, melihat dari fenomena produsen-konsumen dalam media elektronik tersebut, tentu dapat difahami, korban utama yang seringkali dapat kita jumpai dalam hal ini adalah konsumen. Devi Attamimi,Executive Director of Strategy Hakuhudo Network Indonesia, mengatakan bahwa generasi milenial ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda dalam penggunaan media sosial. Ia membagi milenial menjadi dua kategori, yaitu yang kelahiran di dekade 80-an dan 90-an. Menurutnya, para milenial kelahiran 1980-an merupakan seorang kurator, sedangkan yang lahir pada 1990-an lebih bersifat konvergen.

Maksudnya, kecenderungan pilah memilah pada setiap bacaan-berita sangat dikedepankan oleh millennial kelahiran 80’, berbeda dengan millennial 90 yang notabene lebih asyik dengan tangan terbuka menerima tanpa memilah terlebih dahulu. Satu poin penting dalam selektifitas generasi yang memang acap kali dilalaikan, karena seyogyanya pembaca mampu menempatkan sikap skeptis agar tidak secara sepihak memandang benar terhadap satu sudut pandang sumber saja.

Wajah Islam dalam media

Islam yang terkenal dengan sebutan rahmatan lil ‘alamin tak hentinya mendapat hujatan lil ‘alamin pula. Pasalnya, berbagai wajah islam abal-abal berlabel garis keras kini mudah terunggah melalui media-elektronik berbasis informasi, tak tanggung-tanggung menu utama yang diperlihatkan adalah “tuhan berbasis manusia”, berbagai macam gerakan ekstrimis berkedok islam ini membuat ngglambyarnya pemahaman islam dimata dunia.

Seperti di Indonesia, dalam buku Ilusi Negara Islam tokoh gusdur menggambarkan beberapa organisasi keislaman seperti gerakan Padri, Wahabi, Ikhwanul Muslimin, hingga hingga HTI dengan begitu angasnya (baca : Ilusi Negara Islam). Ciri khas takfiriyyah mereka yang mewabah ke berbagai lini di kalangan masyarakat sangat terlihat tidak elok, apalagi wajah seperti mereka yang senantiasa narsis di kehidupan ber-media. sikap seolah paling benar sendiri sambil menyalahkan kebenaran orang lain (yang mereka anggap salah) menjadi corak khas“tuhan berbasis manusia” justru dipandang ngglambyar .

Islam mengenal pembahasan tentang perbedaan kafir harbi dan kafir dzimmi sehingga secara aplikatif seharusnya mampu menampilkan wajah moderatnya, melawan jika dilawan, akan tetapi bisa menghormati saat dihormati. Lucunya lagi, akibat gerakan-gerakan ekstrimis muncul istilah islam garis keras sehingga ada penyelewengan dalam wajah islam itu sendiri. Hal ini memperkuat pernyataan ulama kharismatik gus mus dalam suatu kesempatan yang mengatakan“islam ya moderat, kalau tidak moderat berarti bukan islam”.

Istilah garis keras tersebut sudah sangat nyaring didengar didunia media elektronik khususnya. Sebagai salah satu contoh dalam kasus Pelakor (Pelaku Teror) yang baru-baru ini terjadi di Indonesia, Surabaya tepanya. Kali ini Gereja Kristen Indonesia Surabaya, Gereja Pentekosta Pusat Surabaya dan Gereja Katolik Santa Maria menjadi sorotan public akibat terjadi teror pengeboman. Peristiwa tersebut seperti dilansir detikNews (13/05/18) memakan 10 korban jiwa.

Berita tersebut melalui media mampu manjadi sorotan public dengan cepat, sayangnya momen seperti ini juga banyak dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyebar berita hoax., inilah yang kemudian meluaskan presepsi public. Pemberitaan aksi terror yang dilakukan keluarga menjadi khalayak umum, belum lagi ketika media memperbincangkan keluarga tersebut dengan informasi yang berbeda-beda. Misalnya, menurut media A menyebutkan keluarga pelakor dijebak oleh seseorang untuk mengantarkan barang, sedangkan media B mengatakan kelompok keluarga yang bersangkutan sebelumnya berada disuriah setelah pada akhirnya melakukan aksi terror tsb.

Ditambah lagi, pekok nya pembuat isu ini semakin memprihatinkan. Berbagai media kerap mengedarkan informasi teror yang sebenarnya masih dipertanyakan keabsahannya diberbagai wilayah, hal ini tentu menjadi keresahan masyarakat semakin berkumandang jelas. Entah berlatar belakang kepentingan atau tidak, bagi penulis beredarnya berita terror palsu tsb selain berkedok agama, berita palsu tsb juga sangat mencoreng gugusan tembok besar dunia media. dan itu sangat fatal.

Sebagai antithesis, penting kiranya kita untuk berperan secara aplikatif atau akrab dalam islam disebut tabayyun. Lagi-lagi skeptisisme dalam bermedia akan lebih bijak dilakukan, ketimbang hanya membaca satu sumber dan meng-Amini begitu saja secara substantial isi dari sumber tersebut, budaya konsumtif inilah yang sejatinya sangat jarang diperhatikan, apalagi kedekatan masyakarat generasi Y dengan media-elektronik sudah tidak dapat terbendung. Terlepas dari budaya konsumtif, peran kaum intelektual juga sangat diperlukan, tuntutan social agar kaum intelektual dapat mengoperasikan potensi keilmuannya dalam masyarakat luas (intelektual organic) tentu akan sangat menentukan arah yang bijak -seharusnya.

Kaum intelektual lah yang diharapkan mampu menjadi produsen bijak dalam hal ini, jadi keseimbangan antara produsen-konsumen bisa terpenuhi jikalau rantai bermedia ini juga mampu berfungsi. Arah bijak yang dimaksud ini ialah produksi-produksi informasi dalam media akan elok bila diisi dengan sumber-sumber yang bisa dipertanggung jawabkan substansinya, yakni oleh kaum intelektual itu sendiri. Karena, bila carut marut pemberitaan palsu ini terus berlangsung tanpa adanya responsive dari kaum intelektual khususnya, peran media di bumi Indonesia akan semakin memprihatinkan. Bisa kita fahami salah satu potensi penunjang pengetahuan salah satunya adalah ada dalam media.wallahu a’alam.

*)Kader PMII Rayon Syariah, Demisioner Ketua HMJ Hukum Keluarga Islam, dan sakarang menjabat sebagai Ketua DPW FORMAHI JATENG