Rab. Sep 28th, 2022

Oleh: Sintia Indah Alami (Mahasiswi jurusan Ilmu Falak angkatan 2020)

Salam Pergerakan!!!

Berbicara tentang organisasi, ia memiliki lingkup dan jangkauan yang luas. Ia tidak sekedar menampung himpunan mahasiswa, namun juga sebagai wadah mahasiswa mengeksplor  diri dengan belajar banyak hal, merajut kemampuan di atas perbedaan, dan memupuk rasa hormat dan saling menghargai satu sama lain yang terkadang tanpa kita sadari hal ini sudah semakin terkikis oleh sikap apatis.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang merupakan salah satu organisasi, bahkan tidak hanya disebut sebuah organisasi struktural seperti organisasi lainnya melainkan ia merupakan organisasi pergerakan. Bergerak karena ia selalu mencoba menyelaraskan diri dengan perkembangan dan tuntutan zaman namun tidak dengan meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi pembentuknya.  

PMII lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Ia bukan hanya mengikuti perkembangan zaman namun menyelaraskan dimana jika hanya mengikuti saja ia akan kehilangan jati diri, namun dengan menyelaraskan ia mampu menyesuaikan diri dengan tetap membawa dan tidak kehilangan jati dirinya.

Berbicara tentang keadilan gender, PMII selalu berusaha menggembleng para kadernya untuk memiliki semangat belajar hal baru dan semangat saling menghargai dan menghormati sesama. Mungkin dulu kebanyakan berpandangan bahwa pengetahuan tentang gender ini identik dengan gambaran tentang perempuan atau hal ini lebih cenderung untuk perempuan. Padahal berbicara gender, ini merupakan hubungan timbal balik antara laki-laki dan perempuan. Mustahil tercapai suatu kesetaraan gender jika yang baru memahaminya perempuan saja.

Kesetaraan tidak berarti semua andil dalam kehidupan dimana porsi aksi perempuan disamakan dengan laki-laki. Namun, hal ini lebih dimana mereka masing-masing memiliki porsi dan posisi kualitas pribadi yang sesuai dengan diri mereka masing-masing namun tidak mengabaikan posisi lawannya. Masing-masing menempati fungsinya, saling mengisi dan saling melengkapi satu sama lain.

Berbicara tentang gender, mungkin akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan banyak permasalahan pelik seperti misalnya kekerasan seksual  yang sejatinya itu sudah ada sejak dahulu namun sekarang masih terjadi dan kembali terjadi. Berbicara kekerasan ini korbannya tidak hanya perempuan saja. Namun laki-laki pun ada. Dan dalam kasusnya mereka sama-sama berada di posisi korban namun kebanyakan memilih diam tidak bersuara.

Lalu apa sebenarnya yang menjadi permasalahan di sini? Bukankah pendidikan tentang gender, kekerasan seksual maupun sejenisnya sudah marak dan terus digalakkan? Tidak hanya pemerintah, namun sudah banyak instansi, pihak swasta, organisasi dan pihak lain terus menggencarkan ya? Lalu kenapa hal ini terus saja berulang? Apa semua itu tidak ada pengaruhnya?

Tentu saja pendidikan dan pemahaman tentang gender ini ada pengaruhnya. Namun jika kita melihat realitas, kalau dalam hal pemberian edukasi tentang gender ini saja banyak dari kalangan yang dituju enggan untuk memanfaatkan momentum ini, kebanyakan dari mereka merasa malas bahkan gengsi untuk mengikutinya, mereka beranggapan edukasi seperti ini tidak berpengaruh atau mereka merasa bukan korban maupun pelaku jadi mereka merasa tidak perlu mengikutinya, tentu saja hal ini akan terus berulang seperti sebuah siklus yang tidak akan ada hentinya bahkan terus menambah masalah baru lainnya.

Padahal dari edukasi, kita akan memperoleh banyak pemahaman lebih. Pemahaman pada kedua sisi, tidak hanya dari perempuan saja namun dari pihak laki-laki pun dituntut memiliki pemahaman yang sama terhadap keadilan gender ini agar terwujud tujuan bersama dan dapat saling menjaga satu sama lainnya. Dan untuk memaksimalkan tercapainya keadilan gender, peran keduanya (laki-laki dan perempuan) dituntut untuk ikut serta. Karena jika hanya perempuan saja yang memahami, atau hanya laki-laki saja yang memahami, lalu apa gunanya edukasi ini?  Lantas kapan siklus ini akan berakhir?

Salam Pergerakan!!!