Rab. Sep 28th, 2022

oleh : Adib*

Ibu bumi wes maringi, ibu bumi di larani, ibu bumi kang ngadili” (Suluk Kendeng)

Adanya hari ibu mengingatkan kembali sosok yang tak kenal lelah. Namun tentu tak semata ucapan-ucapan belaka. Peringatan hari ibu lebih kepada penghargaan kepada sosok “ibu” yang dalam berbagai keadaan sebagai pemangku kewajiban yang berat. Sejak mengandung anaknya selama 9 bulan hingga merawatnya dan mengajarinya berbagai hal yang kita semula tak tahu, tanpa mengeluh sedikitpun, itulah ibu. Namun semua itu tak serta merta ibu meminta imbalannya kepada kita, ibarat “bagai sang surya menyinari dunia”.

Peringatan Hari Ibu sebagai bentuk penghormatan memang tidak berlebihan. Sesuai dengan jerih payahnya. Pepatah lain juga mengatakan “ada surga dibawah telapak kaki ibu”. Secara ringan saja bagaimana mungkin perihal surga yang ketika orang mendengarnya seketika terbawa dalam susasan yang indah dan nikmat tiada tara, namun disini malah di konotasikan pada bagian “kaki” seorang ibu, bagaimana kita tahu kaki adalah tempat paling bawah dan sama sekali tak indah. Kata-kata tersebut kemudian mengajak kita bahwa betapa mulianya seorang ibu dalam hal apapun, sehingga tanpa perjuangannya yang gigih kita tidak akan pernah hadir dalam dunia fana ini. Itulah yang  menuntut kita dengan keharusan menghormati, menghargai, dan menyayangi seorang ibu hingga titik terbawahnya “kaki”.

Doa-doa yang dipanjatkan seorang ibu juga dapat terbilang lebih cepat terwujud dari pada seorang ayah. Ini terlepas entah semata hanya mengajak kita untuk memuliakan ibu atau tidak. Namun bahwa kita semua tahu, ada sebuah cerita masyarakat yang telah lama diajarkan pada  kita semua, kita pasi mengingatnya, “Cerita Malin Kundang”. Cerita legendaris rakyat asal Sumatra Barat, dikutuknya seorang pemuda atas doa ibunya lantaran durhaka dengan tidak mengakui ibu, setelah dia kembali dari pengembaraan dengan keadaan yang kaya raya.

Cerita rakyat “Malin Kundang” cukup memberi pelajaran moral (moral education)  terhadap para pembacanya. Mengajarkan kita agar jangan sampai menyulut emosi seorang ibu sekecil apaun itu, karena hal-hal yang terucap dari mulit ibu, bisa saja seketika terwujud. Ngeri bukan !!!.

Ibu tidak cukup hanya kita menghormatinya saja, tapi juga menjaga dan merawatnya. Tentu kita semua masih ingat, aksi warga Rembang Jawa Tengah dalam menperjuangkan pegunungan Kendeng dari ancaman “perusak” pabrik semen. Para pejuang yang rata-rata didominasi kalangan ibu-ibu ini selalu melantunkan syair-syair perjuangan mereka begini, “Ibu bumi wes maringi, ibu bumi di larani, ibu bumi kang ngadili” maksudnya bumi sudah memberi, bumi disakiti, dan bumi sendiri yang akan menghukum (mengadili).

“Ibu bumi” adalah bumi tanah kita. Oleh para pejuang kendeng “ibu bumi” telah berjasa besar, sudah memberi penghidupan bagi mereka, mulai dari melimpahnya air, tanah yang subur, dan menghasilkan hasil bumi melimpah yang membuat mereka sejahtera, serta selalu bersyukur.

Menjaga “ibu bumi” menjadi kewajiban kita semua, sebagai anak bumi. Karena “ibu bumi” ibu bumi ini kita semua dapat hidup sehat dan bertahan hingga kini. Pesan warga Kendeng ini yang disampaikan kepada dunia, bahwa mereka telah lupa ada “ibu di balik ibu” yang harus kita hormati juga.

Bagi mereka keselamatan “ibu bumi” sangat penting, terutama terhadap keseimbangan alam. Artinya kita wajib menjaga, merawatnya. Jadi ketika kita merusaknya (ancaman pabrik semen)  terkesan tidak tahu trimakasih nanti “ibu bumi” sendiri yang akan memberikan balasan bagi kita semua.

Mereka mampu membeca pesan-pesan alam “ibu bumi” yang disampaikan karena kedekatan mereka terhadap alam. Falsafah jawa di pegang kuat “sopo ngregani bakal di regani” artinya siapa yang menghargai bakal di hargai. Mereka merasa bahwa ketika menghormati “ibu bumi” maka ibu bumi juga akan menghormati mereka, dengan memberikan hasil bumi yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun ketika tidak berterimakasih atas yang mereka dapatkan lebih buruknya lagi tidak menjaganya dan merusaknya maka akan tiba sendiri bagi mereka hukuman dari alam “ibu bumi kang ngadili” akan muncul.

Kedepan peringatan hari ibu dengan memberi apresiasi sebagai wujud hormat kita kepada ibu masing-masing. Di lain sisi, kita mempunya kewajiban yang lebih besar untuk menjaga dan merawab bumi pertiwi ibu bumi kita semua, agar tetap lestari dan mamsih dapat dinikmati anak cucu kita, mampu memberikan segala kekayaanya kepada para penghuninya dan tentunya kita terhindar dari amara murkanya.

 

*Koordinator Divisi Pengembangan SDM Suara Mazhab Ngaliyan