Rab. Des 7th, 2022

Disadari atau tidak wabah hedonisme di Indonesia semakin menyebar. Munculnya hedonisme juga dipacu dengan berkembangnya teknologi digital yang menjadikan pandangan dan pola pikir masyarakat Indonesia berkembang dengan cepat. Alhasil, dengan mudahnya akses media sosial yang sangat mudah didapat, kita  bisa melihat dunia seisinya dengan mudah. Hal ini akan menjadikan masyarakat kesulitan dalam menyaring informasi yang baik atau buruk. Tidak sedikit dari masyarakat kita yang dengan mudah termakan berita bohong dan tidak pasti dari mana asalnya.

Sebagai mahasiswa yang menyandang status Agent of change, harus siap dengan keadaan yang ada. Apalagi mayoritas dari mahasiswa sekarang yang tergolong generasi milenial, generasi yang memiliki karakteristik yang ditandai dengan peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Hal ini akan dengan mudah dirasuki pemikiran yang bebas tak terkontrol, yang pastinya tidak baik. Disengaja atau tidak, wabah hedonisme akan dengan mudah merebak ke lingkungan kampus jika mahasiswanya tidak bisa mengontrol dan mengolah pola pikir dalam berkehidupan di kampus maupun di luar kampus.

Apa yang sebenarnya dimaksud hedonisme? Kenapa akhir-akhir ini kata hedonisme (atau orang sering menggunakan istilah hedon) semakin hangat diperbincangkan? Secara etimologi, hedonisme diambil dari kata Yunani yaitu “hedon”, yang artinya kesenangan. Sedangkan menurut istilah, pengertian hedonisme adalah pandangan hidup atau ideologi yang diwujudkan dalam bentuk gaya hidup dimana kenikmatan dan kebahagiaan pribadi menjadi tujuan utama untuk menjalani hidup seseorang.

Menurut Collin Gem, hedonisme adalah sebuah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Disini bisa diambil kesimpulan bahwa inti dari pengertian hedonisme adalah, paham atau aliran yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata tanpa mempelajari sisi positif dan negatifnya dahulu secara mendalam.

Sebagai mahasisiwa, dituntut untuk melakukan perubahan-perubahan sosial yang baik untuk kehidupan masyarakat. Wabah hedonisme yang semakin marak akan sangat memungkinkan dalam menghambat tujuan mulia dari mahasiswa itu sendiri, yang selalu digadang-gadang masyarakat luas sebagai penerus bangsa. Bahkan akan berakibat fatal apabila penyakit ini telah menjadi pola hidup yang lumrah di kalangan mahasiswa.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi perkembangan hedonisme di kalangan masyarakat Indonesia pada umumya dan mahasiswa pada khususnya, yang harus segera dicegah agar tidak semakin merambah di kehidupan sehari-hari. Pertama adalah faktor internal, yaitu dari dalam diri manusia itu sendiri, karena sifat dasar manusia adalah untuk mencari kesenangan sebanyak-banyaknya. Ini bisa di cegah dengan selalu berfikir dua kali agar tidak ceroboh dalam melakukan sesuatu. Karena mau tidak mau semua hal yang dilakukan manusia akan diproses terlebih dahulu oleh otak yang akan disalurkan kepada tindakan nyata.

Faktor kedua disebabkan oleh faktor eksternal. Arus globalisasi yang semakin cepat membuat faktor eksternal yang paling utama dalam perkembangan hedonisme, karena dengan adanya akses teknologi tak terbatas dari dalam ataupun luar negeri, akan menjadikan masyarakat lebih mudah menerima informasi dan budaya dari luar yang dilihat secara sekilas akan sangat baik dan tekesan menarik untuk ditiru, padahal ada kemungkinan tidak tepat untuk dipraktekkan di lingkungan masyarakat Indoneisa. Seperti sex bebas dan minum minuman beralkohol.

Problem yang terjadi sekarang adalah ketika mahasiswa tidak lagi peduli dengan arus globalisasi yang lebih menggiring ke arah hedonisme. Padahal, ini akan berdampak kepada diri masing-masing bahkan ke khalayak umum. Lebih parahnya, hedonisme akan merubah pola pikir hidup masyarakat yang dulunya senang dalam hal gotong royong menjadi individualisme. Selain itu akan mengakibatkan masyarakat memiliki kebiasaan konsumtif, dimana yang difikirkan hanya bagaimana bisa mendapatkan kesenangan yang melebihi batas kemampuan, akan muncul sifat pemalas, kurang bertanggung jawab, cenderung boros, bahkan bisa berakibat pada korupsi.

Sebelum dampak tersebut berkembang lebih pesat, sebagai mahasiswa yang baik dan cinta tanah air akan berfikir bagaimana masa depan bangsa Indonesia jika hedonisme terus berkembang tanpa diimbangi dengan hal positif. Mahasiswa dituntut untuk menjadi garda terdepan dalam memerangi wabah hedonisme ini, bukan malah ikut terjebak dalam lubang penyakitnya. Padahal kita sudah mempunyai ideologi yang sangat tepat, yaitu pancasila. Dimana pancasila merupakan ideologi yang mecerminkan budaya, watak dan sifat asli bangsa  Indonesia itu sendiri.

Mengamalkan isi dan makna yang terkandung dalam pancasila dalam kehidupan sehari-hari berarti secara tidak langsung telah membentengi diri dari acaman wabah hedonisme. Harapan yang sangat besar ada di pundak mahasiswa yang dianggap mampu dalam memerangi wabah hedonisme yang memang berbahaya jika dibiarkan hidup dan berkembang di masyarakat.

Oleh karena itu, mari berfikir sejenak dan intropeksi diri apakah lingkungan kita sudah terjangkit penyakit ini, atau malah kita sendiri yang terkena penyakit tersebut. Jangan biarkan anak cucu kita kelak hanya menjadi masyarakat yang konsumtif, tidak mengenal yang namanya gotong royong, tidak tau bagaimana nikmatnya hidup berdampingan dengan tetangga yang ramah tanpa ada sifat individualisme. Dengan kita berbenah mulai dari sekarang berarti sudah memperbaiki kehidupan yang akan datang.

Penulis : Muhammad Mun’im (Kader PMII Rayon Syariah Semester 3)

Sumber:

Wikipedia.org/wiki/hedonisme

Maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-hedonisme.html