Rab. Sep 28th, 2022

Oleh : Sahabat Rusda Khoiruz

Semenjak kampus mengumumkan bahwa perkuliahan akan dilaksanakan via daring menuruti seruan phychial distancing, jujur saja, rasa bahagia bercampur embuh lah bergejolak jadi satu dalam hati saya. Bahagia karena saya seperti halnya mahasiswa normal lain yang jika mendengar kata “libur” bahagia bukan main. Embuh lah, sebab ada maklumat dari Mabes Polri yang salah satu isinya nggak boleh mengadakan aksi untuk beberapa waktu ke depan. Lalu apa kabar dengan Omnibus Law-nya pakk? 

Beberapa hari berselang, perasaan embuh lah itu semakin menjadi-jadi karena membaca berita di tirto.id bahwa DPR ngotot membuka sidang paripurna pada 30 Maret kemarin (agak lega sih, karena yang dibahas adalah dana penanganan Covid-19) tapi jangan bahagia dahulu, para dukun gunung kidul memprediksi akan ada sidang lanjutan ke depannya guna membahas Omnibus di tengah situasi pandemi seperti ini. Ternyata benar saja, tanggal 2 April kemarin diadakan sidang paripurna guna membahas Omnibus. Belum lagi dengan kebijakan PSBB cum darurat sipil. Hadehh. Beratt.

Eh, tapi jangan salah paham, saya bukan khawatir DPR kena corona, enggak. Tapi, takut bila Omnibus Law disahkan diam-diam sedangkan kami dilarang mengadakan aksi, huwaaa. Nggak fair play banget.

Tentu, keadaan demikian bagi kalangan aktivis sangat dilematis. Bila tetap keukeuh mengadakan aksi turun jalan seperti biasa, maka konsekuensi terburuknya mempercepat rantai penyebaran corona, dan mungkin terjerat salah satu pasal PP terbaru terkait penangan corona. Di sisi lain, bila tidak ada aksi, maka hak-hak rakyat yang dijamin dalam UUD semakin tenggelam diterkam para wakil bangsat kita sendiri, eh rakyat.

Maka, jalan teraman yang bisa kita tempuh bersama di tengah wabah ini sambil rebahan dan tetap mengutuk kegelapan, yaitu aksi via daring.

Ringkas saja, maksud saya menulis artikel ini bukan lain ialah sebagai sarana mengkampanyekan supaya besok-besok kalau ada seruan aksi via daring banyak yang berpartisipasi.

Meski begitu, kita harus mengakui banyak sekali perbedaan mencolok antara alam nyata dan dunia abstrak, tantangan beserta kelemahan aksi via daring ini.

Berikut ini beberapa hal-ihwal, kelebihan maupun kekurangan aksi via daring yang harus kita terima sebagai sebuah kenyataan. Eits, ini nggak ilmiah loh gaiss. Melainkan hasil dari kegabutan yang saya tuliskan aja.

Pertama, Jumlah massa. Semua sudah mafhum, mengumpulkan bala pasukan aksi dalam dunia nyata sulitnya bukan main. Ada ratusan massa yang siap bergabung itu saja sudah sangat beruntung. Sepertinya, berharap akan ada aksi Reformasi Dikorupsi Jilid II itu sesuatu yang utopis. Seutopis cita-cita sosialisme mbah jenggot yang ia utarakan jauh sebelum kemerdekaan NKRI harga nego ini.

Berjibun alasan mengiringi mengapa banyak yang enggan ikut serta dalam aksi turun ke jalan. Inilah yang menjadi batu sandungan yang mempengaruhi kuantitas massa aksi.

Nah, sebenarnya aksi via daring ini bisa dijadikan momentum untuk mengajak kaum-kaum mager (yang selalu beralasan ini-itu ketika diajak aksi turun jalan) untuk turut serta menyuarakan ketidakberesan Omnibus sekaligus pemerintah, meski, via daring.

Hanya dengan bermodal Jari-jemari usil, paketan internet, dan niat menyuarakan kebenaran, sambil rebahan pun sudah dihitung amal sholeh.

Tapi jangan lupa, kita mau menyepakati tagar apa dulu nih? #ReformasidiKorupsi Jilid II? #GagalkanOmnibusLawFokusTanganiCovid-19 atau apa terserah lahh. Yang penting sesuai kesepakatan konsolidasi akbar via daring.

Dan jangan ketinggalan, pamflet yang berisi caption ala-ala lagu perjuangan khas 98an juga dishare ke semua WAG, story, instastory. Pokoknya ke seluruh medsos yang kalian miliki yaa gaess.

Jadi, jumlah massa aksi via daring sebenarnya sangat mungkin lebih banyak. Dan mudah saja menaikkan trending isu di jagat maya.

Tergantung seberapa massif kita mengkampanyekan aksi via daring ini.

Dalam aksi via daring, kita tidak akan lagi menemui alasan enggan mengikuti aksi. Seperti alasan partisan aksi september lalu yang sempat viral yang ditulis di poster “Asline yo mager, tapi pye maneh, DPR e pekok”. Haa pancen ket biyen opo pinter? Iyo Pinter banca’an.

Kedua, keefektifan. Memang, aksi turun jalan seperti September tahun lalu jauh lebih efektif mengguncangkan senayan dibanding eksperimen aksi via daring kemarin yang hendak jadi trending saja gagal.

Pada September lalu, nyaris di berbagai penjuru wilayah Indonesia berbondong-bondong menggelar aksi. Gejayan Memanggil di Yogya, Semarang melawan di Jateng, Jabodetabek dengan namanya sendiri dll. Satu suara se-iya se-kata mengangkat tuntutan yang hampir sama, dengan tagar #ReformasidiKorupsi di medsosnya dan mudah saja viral waktu itu.

Dan juga, banyak tuntutan yang dikabulkan. RUU bermasalah nggak jadi disahkan (ada juga sih yang disahkan).

Lantas, dalam aksi via daring, apa yang hendak dicapai selain menaikkan tagar? Sesungguhnya di dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Pun begitu juga di saat genting seperti sekarang, inilah momen yang tepat untuk mempropagandakan ketidakberesan pemerintah beserta cita-cita pekok palunya untuk Omnibus ini, eh salah lagi, ketok palu. Ketika negara tidak hadir mengulurkan tangannya kepada kaum marjinal –atau bahkan enggan– inilah waktu yang tepat menggalang solidaritas sesama rakyat. rakyat bantu rakyat. Pepatah gunung Myoboku mengatakan, “perjuangan diawali oleh semangat kekeluargaan/persaudaraan”.

Lewat aksi open donasi, yang dimotori masing-masing ormas, ormek mahasiswa, LSM, dkk. Itu cukup memberi sinyal, bahwa yang peduli dengan nasib rakyat, yaa rakyat sendiri. Pemerintah? Paling Mentok ngaku jadi lakon yang selalu datang belakangan. Itupun kalo jadi lakon.

Setidaknya, dalam aksi via daring ini kita hendak menawarkan bagaimana pola pikir demokrasi yang seharusnya berjalan di bumi pertiwi ini, tidak hanya menjelekkan. Lebih dari itu, menelanjangi logika ngawur pemerintah, yang hanya orang tertentu yang mampu menyingkap tabirnya, itupun, didahului tirakat puasa mutih suwidak rolas dino diakhiri dengan mandi junub menggunakan air danau Toba.

Kita serang alam bawah sadar para pengguna medsos, juga masyarakat disekeliling kita, sebagaimana tik-tok menyerang akal sehat pemuda-pemudi sampai suatu saat ketika mendengar kata “pemerintah” langsung reflek, jancuk!

Meski banyak anggapan bahwa aksi via daring ini adalah aksi selemah-lemahnya iman. Karena emang nggak ngapa-ngapain.

Setidaknya, dengan mempropagandai golongan akar –sekaligus rakyat bantu rakyat– bisa jadi tekukan lutut untuk melompat, ancang-ancang sebelum mendobrak, dan apalah istilahnya untuk melancarkan aksi bersama Gagalkan Omnibus Law di kemudian hari ketika Corona sudah pergi dari negeri ini.

Iya sulittt, tapi kita harus sebisa mungkin merawat ingatan kolektif memperjuangkan nasib rakyat dengan berbagai macam cara.

Ketiga, tantangan yang bisa kita coba. Karena ini aksi via daring, maka tantangan kita bukan lagi vis a vis dengan aparatus negara beserta medan terjalnya (gas air mata, panas, pentungan, dsb).

Dalam jagat maya, BuzzerRp siap menantang kalian dengan Logika ngaconya dalam menggoreng isu.

Sebetulnya mudah saja berhadapan dengan para BuzzerRp (yang entah dibayar berapa, kalo ingin gabung silahkan hubungi hotlen di nomor yang tertera di banner warung Mak Tik Pujasera) daripada dengan aparat keparat itu, tinggal kerahkan kaum rebahan sebanyak mungkin untuk membully akun medosnya dan menelanjangi logika mereka sendiri. Sampek klenger!

Terkesan mengompori yaaa? Tapi kan, BuzzerRp duluan yang mulai jadi gas LPGnya.

Lantas, hal apa yang bisa kita coba agar demo via daring ini lebih efektif? Apalagi kalau bukan kita cari No Hp para DPR. Iyaa kita cari nomernya, sampai ketemu! Sangat menantang bukan?

No-nya Nanti bisa kita masukkan dalam WAG Konsolidasi akbar untuk kita demo bersama di situ, kalau perlu kita bully rame-rame sekalian.

Kalau ingin yang lebih radikal lagi, mari kita berbondong-bondong teror No Wa-nya dengan mengirim pesan rantai berisi tuntutan #GagalkanOmnibusLaw biar mereka juga ngrasain rasanya HP nge-blank gegara boom-booman sticker BBM (BlackBerryMassangger) yang dialamin anak tahun 2014an. Eh iya nggak sih?

Selamat mencoba medan baru aksi via daring yang akan kita serukan dalam beberapa waktu ke depan Camerad! Jangan lupa berpartisipasi yaa. Iyaa, saya tahu itu berat bagi yang nggak punya paketan. Guyon gan guyon, ojo dilebokno ati.