Rab. Sep 28th, 2022
Gambar: idpengertian.net

Oleh: Jiwo Prasojo
Mahasiswa jurusan HPI 19’. Anggota PMII Rayon Syariah dan masih nyantri di PP Darusysyukur, Bringin Indah.

Seenaknya main hakim sendiri teriak, “Biar jera, potong tangan si Koruptor, kalau bisa dibunuh saja!” Ada apa dengan masyarakat Sapiens? kok kembali primitif? Sebuah penelitian dari Paul D. MacLean, seorang ahli saraf dan psikiater, dalam teori penelitiannya bahwa sebenarnya otak manusia itu berkembang dari otak reptile (ingsting), ke otak mamalia (emosi), dan otak neokorteks (intelegensi). Dan dulu diperkirakan sebelum evolusi, otak manusia itu sempurna. Awalnya, otak manusia Sapiens ini primitif. Sekarang orang menyebutnya juga dengan otak reptil. Otak yang berfungsi sebagai insting dan naluri bertahan hidup. Karena fungsi itulah, otak reptil dikatakan bersifat “kebinatangan dan primitif”, maka tidak salah cowok yang sering gonta-ganti pasangan disebut sebagai buaya. Otak ini adalah otak yang paling dasar, maka orang berprinsip pati dibales pati itu juga otak reptile atau primitif.


Untuk jaman sekarang istilah primitif ini identik dengan konotasi negatif, maka jangan panas dulu. Primitif selalu diinterpretasikan sebagai konotasi yang keras, ganas, barbar, dan jauh dari keramaian kota. Tahukah kalian bahwa istilah primitif pada zaman dahulu itu memiliki konotasi yang positif?


Setiap masyarakat memiliki Horizon Moral. Sebelum turun orang-orang bijak atau besar bagi masyarakat Yunani pra-Socrates, orang baik itu adalah kuat, tegas, berani dan berkuasa. Dan bagi mereka buruk itu adalah lemah lembut, pemaaf, dan pasif. Horizon Moral ini membolehkan tersingkirnya kelompok yang lemah, tidak kompeten dan bodoh. Soalnya hukum pidana kala itu sifatnya masih sebagai hukum privat. Apabila orang berbuat suatu kejahatan, orang ini boleh membalas dendam. Dasar pada waktu itu yang dipakai ialah “darah dibalas dengan darah”. Lantas apakah ini bisa dikatan sebagai tindakan primitif?


Bagi Nietzsche, semua horizon itu hanyalah perspektif, buatan manusia, yang senantiasa mengalir, berubah dan tidak ada kebenaran absolut. Buktinya saja masih ada kelompok yang melihat hukuman talio atau qisas bagi koruptor itu sebagai hukuman yang menurut mereka itu baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan ada juga yang masih menganggapnya sebagai hukuman primitif dan melanggar HAM. Maka istilah primitif ini hanyalah perspektif. Kenapa hal ini dapat terjadi?


Hal demikian dapat terjadi, oleh karena pada zaman itu belum ada organisasi kenegaraan yang dapat menemukan kebijakan-kebijakan seperlunya terhadap penjahat. Setelah turunnya orang-orang bijak, kebijaksanaannya itu membalik horizon lama dan menggantinya menjadi baik itu adalah lemah lembut, pemaaf, dan pasif. Sedangkan jahat adalah kuat, tegas, berani dan berkuasa. Sehinga setelah terbentuknya suatu organisasi kenegaraan, maka kerugian itu tidak lagi dibalas dengan secara qisas, tetapi diganti dengan kebijakan-kebijakan yang lainnya, seperti pembayaran harta benda atau pidana yang telah diatur oleh negara. Maka dari itulah norma hukum yang dulunya bersifat privat berubah sifat menjadi hukum publik.


Kembali ke primitif, kalau melihat konteks primitif pada zaman pra-Socrates, maka tindakan main hakim sendiri (membunuh Koruptor) itu tidak boleh kita katakan sebagai tindakan primitif. Karena horizon moral pada zaman itu masih berbeda dengan zaman setelah turunnya orang-orang bijak. Kecuali setelah orang-orang bijak itu turun dan menemukan suatu horizon moral baru, seperti organisasi kenegaraan, maka tindakan main hakim sendiri boleh dikatakan sebagai tindakan primitif.


Karena norma hukum sudah berubah, maka inisiatif pelaksanaan hukum publik itu diserahkan kepada negara. Misal korupsi, maka koruptor itu wajib dikenai sanksi UU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), alat negaralah yang menuntut perkara itu di muka hakim pidana. Maka, dasar pada waktu sekarang yang dipakai ialah “dilarang main hakim sendiri”. Dan evolusi otak pun terjadi.


Sekarang reptil primitif dilarang untuk mengadakan tindakan main hakim sendiri dan menjatuhkan pidana sendiri. Dan orang-orang reptil primitif ini akhirnya lemah dan pasif. Apabila melanggar, dianggap sebagai pelanggar-pelanggar terhadap kepentingan negara. Maka telah dibunuhlah insting meraka sebagai reptil.


Soal hukuman mati maupun potong tangan, tidak akan pernah bisa menimbulkan efek jera bagi para koruptor. Karena para koruptor hidup dengan otak reptil, artinya pola berpikirnya masih dipenuhi sifat buas dan tamak. Sebaliknya, apabila kita mamalia sapiens menjadi jahat terhadap pelaku tindak pidana korupsi, maka tidak ada bedanya dengan mereka dan sia-sialah evolusi otak kita. Sekiranya kita sebagai mamalia bijak dengan otak intelejensinya, maka bentuklah suatu hukuman itu agar menjadi suatu hukum yang lebih berguna dan bermanfaat bagi sesama makhluk hidup di dunia.