Rab. Des 7th, 2022

Oleh : M. Adib Hakim

Penyebaran virus corona yang berawal mula di negara komunis china dan begitu cepat meluas ke berbagai negara negara asia terutama di indonesia berdasarkan data terbaru world health organization(WHO) kutipan dari tirto.id dalam jangka kurang dari 3 bulan sudah tersebar pandemi corona di 175 negara.

akhir-akhir ini, indonesia melawan pandemi corona yang mengakibatkan lumpuhnya kegiatan sosial terkait hubungan sesama manusia di daerah maupun kota, tiap hari kian menambah korban jiwa dala kutipan kolom.tempo.co menjelaskan bahwa  sampai pada tanggal 30 maret 2020 mencapai 1.414 positif corona dan yang sembuh sekitar 75 kasus, meninggal 122 kasus,

pandemi corona diranah indonesia memiliki dampak yang sangat serius terhadap kehidupan bermasyarakat terutama di daerah pulau jawa dampak tersebut masuk kedalam sektor pendidikan,kesehatan,pekerjaan,kegiatan sosial,kegiatan agama,maupun kegiatan yang lain,

 mulai dirasakan oleh kalangan masyarakat, dalam kondisi ekonomi pun sangat menurun drastis disektor pasar, penjualan kian menurun dikarenakan konsumen merasa dibuat tidak nyaman karena adanya virus covid-19 tidak hanya pasar yang dirugikan bahwa sosial distancing membuat para pekerja buruh ataupun para pencari upah harian merasakan hal tersebut,

pandemi covid19 di indonesia tidak jauh beda dengan negara negara lain yang dimana cenderung mengarah kepada kerentanan sosial(social vulnerability) menjadi realitas nyata yang terjadi di masyarakat kerentanan ini menjadikan masyarakat lemah dalam posisi ketahanannya(community resilience).

dalam hal ini pemerintah memberikan intruksi social distancing yang kurang efektif , melemahnya sosial atau budaya yang dimana di dalam masyarakat tak jauh dari prihal kegiatan gotong royong, berkomunikasi dengan sanak kerabat, untuk menjalin persaudaraan tali silaturahmi,

dari dampak kerentanan hubungan sosial di masyarakat akan dapat timbulnya pola pikir maysarakat menjadi sebuah tindakan apatis, tindakan irasional bahkan masuk ranah kriminal dalam tindakan apatis tersebut masyarakat akan cenderung melanggar intruksi dari pemerintah yang dimana tindak tersebut tidak efektif walaupun sudah di peringati oleh pemerintah

dalam kutipan tribunjateng.com pak ganjar selaku gubernur jawa tengah memberikan intruksi bagi mereka yang merantau di luar jawa di himbau untuk tidak pulang kekampung halamanya tapi secara realita intruksi tersebut masih saja di trabas oleh masyarakat. Dan masih banyak masyarakat yang melakukan kegiatan kumpul-kumpul dan lain sebagainya.

Tindakan irasional ini muncul di tengah-tengah masyarakat karena dalam obat-obat atau alat medis yang memiliki potensi terhadap pencegahan covid-19 belum ada bukti penelitian secara ilmiah, dikalangan masyarakat misal mereka percaya bahwasanya mandi kembang 7 rupa bisa menghindarkan atau penangkal terhadap virus tersebut, dan berjemur di pagi hari agar daya tahan tubuh tetap terjaga.

mereka melakukan ini didasarkan suatu keterikatan kultur seperti cara(usage), kebiasaan(folkways), tata kelakuan(mores),dan adat istiadat(costom) secara langsung di lingkungannya, Dan mereka menganggap bahwa sosial distancing ini adalah bukan budaya tradisonal.

Sedangkan tindakan kriminal mungkin dalam kondisi ini akibat dari covid-19 minim tindak kriminal dalam massyarakat namun jika kita analisa seperti halnya penjualan masker,hand sanitizer, yang harganya melebihi dari marketplace, akal –akal ini hanya akan memupuk diri atau memperkaya diri sedang banyaknya di kalangan masyarakat masih membutuhkanya, belum lagi barang caraian hand sanitizer tersebut di palsukan dijual dengan harga yang lebih mahal kepada masyakarat.

Sosial distancing secara harfiah menjaga jarak dari kehidupan bersosial di masyarakat guna untuk memperlambat penyebaranya. Namun sebenarnya jika kita analisis bahwasanya social distancing itu lebih cenderung kepada phsycal distancing yang dimana menjaga jarak fisik lebih di utamakan dari pada berkomukasi di masyarakat

Menurut kutipan dari kompas.com Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mulai menggunakan istilah  physical distancing atau jarak fisik sebagai cara untuk menghindari penyebaran virus corona lebih luas.
dalam hal ini apa yang telah di paparakan oleh para ahli bahwasanya melakukan langkah ini kita tidak menghilangkan budaya sosial unutk berkomunikasi kepada seseorang melainkan dengan alternatif daring online yang bisa kita lakukan. Agar terhindar dari kontak fisik secara langsung.

“Saat ini, berkat teknlogi yang telah maju, kita dapat tetap terhubung dengan berbagai cara tanpa benar-benar berada dalam ruangan yang sama dengan orang-orang lain secara fisik,” kata ahli epidemiologi WHO Maria Van Kerkhove pada 20 Maret lalu.

Dalam hal ini jika seseorang mengikuti intruksi tersebut maka secara tidak langsung orang tersebut, terhindar dari virus penyebaran dari orang lain, maka menjauhi dari kerumunan dapat menghambat penularan pandemi corona-19.

Cara paling mudah agar terhindar dan memperlambat dari penyebaran virus tersebut yaitu dengan cara menghindari kerumanan di masyarakat, maupun dikota misal kan pergi kepasar atau bekerja hendaknya melakukan kegiatan di rumah atau work for home sesuai dengan intruksi pemerintah, pemerintah menganjurkan setiap pelajar maupun mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar yang di bimbing oleh guru maupun dosen untuk memberikan tugas secara online di sektor pendidikan.Dan untuk para pekerja diliburkan jika memungkin terdapat seseorang yang terkena pandemi corona agar terhidarnya penyebaran.

Menurut penulis mengenai pendapat dari WHO saya afirmasi yang menganjurkan dan mendorong penggunaan frasa physical distancing yang berarti “menjaga jarak fisik” dari pada penggunaan frasa social distancing (menjaga jarak sosial).  untuk mendorong masyarakat agar tetap terhubung melalui media sosial.

gagasan pengubahan itu adalah untuk menjernihkan pemahaman bahwa perintah untuk tetap di rumah selama wabah virus korona (Covid-19) saat ini bukan tentang memutuskan kontak dengan teman dan keluarga, tetapi menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit itu tidak menyebar.