Rab. Des 7th, 2022

Oleh : Khoirul Fajri ( Kader PMII Rayon Syariah Biro Sosial dan Politik )

Kala itu, aku sedang duduk di teras rumah

Menikmati cahaya kuning langsat

Sambil sesekali kuseruput kopi buatan istri

Terlihat burung burung terbang, hendak pulang

Bernyanyi dengan alunan indah

Sambil mengepakkan sayap.

Mataku hanyut dalam suasana.

Tertutup dengan perlahan, namun pasti

Ahhh nikmat sekali kala itu.

Namun, aku tersentak ketika putriku  dari dalam rumah menghampiriku.

“ ayah sedang apa? “

ku buka mata dan tersenyum

Tak malah diam

Ia duduk dipangkuan

“ ayah, aku ingin dengar cerita ayah waktu kuliah “

Tersadarlah aku, pikiranku pun melayang

Angan menembus masa muda

Mengumpulkan partikel partikel puzzle memori

 Lembut ucap padanya

Kuliah ayah biasa saja nak

Seperti hari yang berguguran

Tak ada yang istimewa

Mata kuliahnya masih sama dengan sekarang

Banyarnya pakai uang

Gedungmu juga gedung ayah dulu

Yaa.. biasa saja nak.

Putriku menyimak dengan lugu

Kuseruput kopi, untuk menambah nyawa cerita itu.

“Ayah punya sesuatu yang istimewa nak”

Wajahnya berubah, sejuta pertanyaan mengkerut di jidat.

Sesuatu yang tak dimiliki orang lain

Kerutan di jidat nampak jelas,

 “ sesuatu apa yah? “

Sambil menelisik jauh, senyum merekah dibibir.

Ayah memiliki sekumpulan orang bodoh dalam bertingkah laku nak

Mereka keluarga namun tak sedarah

Terkumpul dari manusia tak sama juga tak membedakannya.

Terlahir dari lemah namun tak henti hentinya mencoba kuat

Terkumpul dari berbagai orang-orang yang kecewa namun berusaha mendamaikan

Pikiraku semakin jauh menerawang, ku hentikan sejenak ceritaku.

( sambil mmenghela nafas)

Bayangkan saja nak.

kala itu ayah memiliki sekumpulan orang yang kerap jatuh tapi tak pernah takut jatuh.

Seperti mentari yang tenggelam di kala senja, dan kembali berdiri di pagi hari.

Itulah gambaran sahabat ayah nak.

Yang ia selalu di caci namun berusaha tak sampaikan ke hati

Yang berani berpayah payah agar tak melihat kawannya bersusah

Yang berani bertindak gila untuk melihat temanya senyum.

Yang tak memajukan ego,  jika kawannya ada masalah.

Dan satu lagi nak, sekumpulan orang itu tak pernah berusaha meninggalkan ayah ketika ayah benar benar lemah.

Tak pernah berusaha menjauhi ayah ketika benar benar ayah tak tau arah

(tanpa sadar air mataku keluar dengan seenaknya)

Aku menghentikan cerita karena tak sanggup menahannya

Kerinduan kepada sahbatku

Yang baru terasa ketika sudah selesai kuliah

Dalam hatiku berkata

Tuhan, tolong berikan waktu, setidaknya gar sahabtku terkumpul dan sekedar membicarakan yang tak perlu

 Tak ku sangka, putriku memelukku sambil berkata

AKU INGIN PUNYA SAHABAT SEPERTI AYAH.