Rab. Sep 28th, 2022

    Oleh : Diah Meki Al-Farobi


Seorang Etnis Tionghoa ber Katolik Roma yang bernama Sok Hog Gie, keluarga Sok Hog Gie kerapkali memanggil namanya dengan sebutan nama Gie. Gie adalah salah satu aktivis angkatan 1966, ia lahir pada tanggal 17 Desember 1942. Gie lahir tepat pada perang berkecemuk di masa kemerdekaan, dimana pada saat itulah dihiasi perang Dunia ke II, seolah-olah menanda akan menjadi dari sosokSok Hog Gie sendiri. Konon katanya keluarga Gie merupakan keluarga yang berkecukupan. Namun dari berkecupan kerapkali keluarga Gie dipandang Miskin oleh tetangganya. Karena perumahan Gie terhenang banjir, yang menyebabkan sampah-sampah disekitar rumahya menumpuk. Karena tidak ada saluran yang mengakibatkan rumah menjadi kumuh.

Ketika memasuki umur lima tahun-an, Gie sudah mulai memasuki dunia persekolahan tepatnya di tahun 1947. Dari catatan harian Gie terdapat bahwa Gie selalu naik kelas meskipun umur Gie terlalu minim dari siswa-siswa lain-nya. Dilihat dari daerah siswa-siswa lain-nya, sebagian besar dari mereka dan hampir semua gurunya berlatar belakang China-Indonesia. Dari keluarga Gie seorang yang lebih mementingkan jenjang pendidikanya itu adalah seorang ibu. Dan Ibu Gie nampaknya lebih progresif dibanding dengan bapak-nya. Menurut pandangan bapak Gie, tidak ada dorongan kultur atau komitmen untuk mendorong anak-anaknya agar memperoleh pendidikan berbahasa China. Sedangkan ibunya berkeinginan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang memberikan pelajaran dalam bahasa Nasional yang baru yaitu Indonesia,l. Karena memang latar belakang keluarga Gie menggunakan bahasa kental melayunya.

Hal ini membuat para tetangga rumah Soe Lie Pit sendiri menjadi kagum padanya, Menurut john Maxwell, keluarga Soe Lie Pit merupakan keluarga istimewa yang tidak pernah ia lihat dari keluarga-keluarga sebelum-belumnya. Pasalnya dari bebrapa anak-anaknya sudah belajar membaca sejak dini, anak-anak Soe Lie Pit sangat antusias dalam mencari buku tidak memandang lokasi baik maupun  dekat, yang terpenting dari anak-anak Soe Lie Pit dimanapun mereka berada bisa mendapat energi buku. Anak-anak Soe Lie Pit mereka semua menjadi pengunjung rutin perpustakaan-perpustakaan umum. Dan teman-teman bacaan kecil yang bermunculan di toko-toko sudut jalanan jakarta, mereka meminjam buku dengan batas waktu tertentu dengan menarik sedikit uang sewa. Diruang tersebut mereka mulai dengan membaca kisah-kisah petualangan. Khususnya cerita silat dan karya-karya penulis barat yang di terjemahkan dalam edisi bahasa Indonesia. Akan tetapi bisa dipastikan juga saat Gie masih di sekolah dasar­, Sok Hog Gie sudah mulai membaca bebrapa karya sastra Indonesia secara serius. Yang pada waktu itu terbit dengan harga murah termasuk penulis generasi 1945, seperti Pramoedya Ananta Toer.

Beranjak pada dunia perkuliahan Sok Hog Gie melanjtkan di Univesitas Indonesia. Gie mendapat kesempatan menjadi mahasiswa Fakultas Sastra mengambil dijurusan Sejarah. Dalam pertengah pendidikanya, tepat pada era 1960-an sedang panas-panasnya dunia per politikan. Aliran politik menjadikan masyrakat tersekat dalam beberapa golongan dengan primodialnya. Secara garis besar kekuasaan politik pada saat itupula terpusat pada tiga golongan, yakni kanan, kiri dan Soekarno, menurut Daniel Dhakidae dalam buku Muhammad Rifai dengan judul Biografi Demonstran,proses Gie dalam pusaran pergerakan saat itu tidak dapat di lepaskan dari berkelanjuta-nya persoalan politik pada tahun 1950-an. Yang mana pada tahun itu merupakan peristiwa kabinet Ali I tepatnya pada tanggal 12 Agustus 1955.  Pemerintah terjadi “pembersihan” besar-besaran terhadap tokoh-tokoh dalam kabinet Ali yang melakukan Korupsi. Suasana itupun dipelopori oleh PNI dan PKI mengakibatkan politik ibu kota tidak aman. Disusul pula tindakan-tindakan daerah yang tidak memperdulikan penduduk pusat. Dengan menyelundupkan besar-besaran, menjadi krisis pemimpin yang tak sewajarnya kita anuti. Gie memberontak dan terus melawan dengan teman-temanya, bahwa prinsip Gie dan teman-temanya kebenaran harus di tegakan dan di tegakan meskipun tubuh kita akan runtuh. Gie dan teman-temanya terus berjuang mengingatkan dan mengingatkan para pemimpin birokrasi zaman dahulu. Dimana pada masa birokrasi dulu itu  masi mempermainkan politiknya dengan kekhilafan dzhalim amat tinggi. Yang mengakibatkan organisasi intra kampus pun ikut campur tangan dalamnya.

Tidak luput pula sosok Gie pada saat itu pula  menikmati kehidupan perkuliaha-nya pergi ke gunung-gunung Indonesia, pasalnya menurut gie sendiri gunung merupakan hal yang puas baginya. Mendaki sebagai prestasinya juga bisa dikatakan plesiran. Tempat dimana ia mencerahkan diri, tempat ia mengadu, mengeluh, melepaskan kepenatan dunia kota, atau tempat ia termenung dan merenung. Bergaul dengan petani dan para penghuni masyarakat pribumi yang dulu kerapkali di permainkan oleh bangsanya juga dualisme negara. Selain itu ia begitu giat melakukan pendakian ke gunung-gunung.

Bahwa menurutnya gunung mencerminkan dirinya sebagai kekecewan-nya atas gerakan mahasiswa yang setelah berhasil. Bukanya kembali ke kampus malah menjadi politisi. Bukan hanya mendaki gunung saja yang di uleti Gie, akan tetapi dari Gie sendiri bahkan kerapkali menikmati suasana pantai. Dari perjalalanan naik turun gunung, Gie dan teman-temanya menemukan sebuah pemikiran yang reflektif, seperti mendirikan sebuah organisasi dengan teman akrab-nyayang bernama Herman. Dengan nama organisasi Mapala (Mahasiwa Pecinta Alam) berdiri pada tahun 1964.  Organisasi Mapala didirikan mencita-citakan kehidupan yang sederhana sehat, berani, bersahabat, dan mencintai alam. Tujuan organisasi dari Gie “mencoba membangun kembali idialisme di kalangan mahasiswa-mahasiwa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat dan almamater kehidupanya. Sampai-sampai Gie sendiri meninggal di pangkuan gunung mahameru.

Dari uraian diatas tadi, kita dapat menyimpulkan sosok Demsontran pada tahun 1941-1967. Bahwasa-nya seorang pemuda yang dilatar belakangi dengan sifat Maha, maka mau tidak mau harus ikut campur dalam urusan Negara. Terutama urusan aspirasi-aspirasi rakyat kaum bawah yang tertindas. Yang telah dipermainkan oleh pemerintah-nya baik pemerintah daerah maupun pusat. Bahkan seorang Nasionalis tahun 1920-an pun mengtakan seorang pemuda acapkali di katakan agent penyambung lidah rakyat atau agent of change. Menjadi Maha bukan berarti kita berkuasa di seleluruh elemen masyarakat maupun lainya, akan tetapi pada inti dari pemuda dan pemudi konon diciptakan untuk lebih fokus lagi pada isu-isu yang ada. Mengetahui isu tidak benar di tayangkan publik sebagai Maha hanya diam, tanpa ada respond untuk memepecahkan-nya. Bahkan seorang pemuda yang hidupnya berada di monumen borjuis-borjuis  seperti Tak a walk moll, MD dan bahkan menikmati go to luar negara-nya. Sedangkan di negara sendiri banyak akan kekayaan alamnya, bukan hanya di moll, MD dan Go to luar negeri saja. Wisata gunung yang ada di indonesia pun layaknya surga dunia bukan ? lantas apa yang disebut Maha-nya jika yang dinikmatkan para Maha itu hanya di monumen-monumen borjuis saja ?

Dengan peristiwa tersebut tentunya kita sebagai Mahasiwa sadar dengan monumen-monumen ala ke Indonesia-an. Seperti gunung dijadikan wisata, laut dijadikan alat pengobat kegalauan, bukit dijadikan alat pernafasan. Sebagai anak muda yang kehidupanya menyukai naik gunung dan ke laut maupun perbukitan, akan lebih baik lagi jika dalam keadaan yang memungkinkan kita melakukan kegiatan seperti hal menanam pohon jati, pohon sangon, dan bahkan lebih baik pula menanam timun, menanam bawang merah, kacang panjang, cabe, bergaul lebih lama dengan para petani. Para pribumi yang sudah mengenal alam lebih darinya,seperti berbincang-bincang ber adu gagasan pengetetahuan layak-nya melakuka aktivitas sebagai pecinta lingkungan sejati, tanpa harus numpang selpi dan buang sampah sembarangan di tepi-tepi jalanan gunung. Meskipun hanya itu berkemah, bahkan di dolani, bahkan seorang intelektual pejuang Human Rights mengatakan “cinta alam berarti cinta manusia” banyak kejadian alam dimana-mana berarti banyak pula para pemimpin yang tidak sesuai dalam pekerjaanya. Seperti banyaknya korupsi dan korupsi. Sehingga menjaga alam pun ia lupa dinikmati dan di gauli. Itulah yang kerapkali para intelektual menyebut dengan sebutan yang sederhana namun sexi nan gairah bukan ?.

*Penulis adalah Kader Aktif PMII Rayon Syari’ah departemen sosial dan politik, dan aktivis KSMW UIN Walisongo Semarang*