Rab. Des 7th, 2022

Oleh : Nugroho Rohman Pangestu

PERGERAKAN, sebuah kata yang terdengar tak asinglagi bagi kalangan akademisi ataupun mahasiswa, bagaimana tidak sejarah negeri ini mencatat bahwa setidaknya beberapakali peristiwa ataupun aksi yang dipelopori oleh mahasiswa dalam menunjukan rasa simpati dan rasa keprihatinan kepada mereka yang menjadi benalu di negri yang kita cintai. Tanpa basa-basi disini saya sebagai salah satu kader PMII yang lahir dari PMII Rayon Syariah UIN WALISONGO SEMARANG ingin sedikit memberikan sudut pandang saya mengenai “ARTI SEJATI SEBUAH PERGERAKAN DITENGAH MEROSOT DAN KLIRUNYA PEMAKNAAN PERGERAKAN’’. Sebagai seorang kader pergerakan mahasiswa islam indonesia sudah sepantasnya saya memiliki sikap semangat dalam bergerak memperjuangkan dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. 

Tentunya ada banyak hal yang latar belakangi sahabat sahabati untuk bergerak atau melakukan pergerakan. Namun apa yang menjadi alasan sahabat sahabati bergerak, apakah karena tergabung didalam organisani PMII, tentunya ber PMII menurut saya dalam sudut pandang saya sebagai kader bukanlah alasan saya untuk bergerak atau melakukan sebuah pergerakan. Tanpa ber PMII kita pun bisa atau boleh atau berhak melakukan sebuah pergerakan. PMII adalah wadah dimana seorang yang tergerak hatinya untuk melakukan sebuah pergerakan didalam menegakan amar ma’ruf nahi mungkar. Tentu setiap orang berhak memilih wadah apapun sebagai wadah yang sejalan dengan pergerakan yang ia lakukan.

​​Berbicara mengenai pergerakan, bagi saya Gerakan mahasiswa tidak semata sebagai kumpulan mitos dan slogan yang selalu didengung-dengungkan para aktivis. Akumulasi mitos ini justru melenakan dan menina-bobokan mahasiswa dalam zona nyamannya. Gerakan mahasiswa menuntut adanya posisi yang jelas dan tegas, misalnya, dimana mahasiswa seharusnya berada di tengah masyarakat. Menjawab soal tersebut, sebuah analisa tentang posisi mahasiswa secara teoritis sangat dibutuhkan. Pun juga sebagai prakteknya dalam ’mengabdikan´dirinya pada masyarakat. Dalam artian sederhana, aktivisme gerakan mahasiswa saat ini membutuhkan topangan teori yang kuat sebagai landasan geraknya. Bukan untuk menjadikan mahasiswa berteori secara saklek dan kaku, tetapi sebagai landasan gerak yang jelas bagi langkah ke depan.

​Dari beberapa kasus, setiap gerakan mahasiswa umumnya berangkat dari permasalahan yang ada di sekitar mereka, hal itu kemudian diabstraksikan ke arah yang lebih mendasar untuk mencari akar masalahnya. Dengan kata lain, gerakan mahasiswa selalu bermula dari realitas di sekitarnya, dari sesuatu yang real, dan kemudian diproblematisasi. Bila mengikuti logika ini, maka gerakan mahasiswa di atas melihat permasalahan dengan kacamata realisme kritis. Berangkat dari realisme merupakan kunci dalam melihat permasalahan. Lantas kemudian timbul pertanyaan, siapa yang bergerak ? mengapa saya harus bergerak ? hal seperti apa yang disebut sebagai realitas? Atau apakah yang disebut dengan realisme? Sebelum itu, mari kita bedah satu persatu`

​Sebenarnya jawaban dari siapa yang bergerak dalam  hal ini letak jawabannya ada didalam hati masing-masing para mahasiwa yang mana saat ini dihadapkan oleh berbagai peristiwa dan persoalan. Lalu mengapa saya harus bergerak karena apapun pergerakan itu setiap pergerakan pastinya memiliki tujuan, oleh karena itu apapun yang menjadi tujuan kita sebenarnya itu adalah sebuah pergerakan namun apakah pergerakan yang kita lakukan itu bermanfaat hanya untuk diri kita ataukah orang banyak. Tentunya bagaimana bentuk pergerakan yang akan anda lakukan anda sendiri yang bisa menjawabnya karena masing masing dari pada kita memiliki cara tersendiri dalam melakukan pergerakan olehkarena itu janganlah mudah menghakimi sahabat sahabatindiantara kita yang cara pergerakannya tidak sama dengan kita. 

​Mengenai realitas atau apakah yang disebut realitas menurut saya, Realisme adalah sebuah pemahaman yang melihat  kenyataan sebagai hal yang terpisah dari diri pengamat. Dalam hal ini, kenyataan menjadi sesuatu yang ada secara in heren di luar diri pelaku, walau pelaku itu ada atau tidak. Hal ini berbanding terbalik dengan idealisme yang melihat kenyataan sebagai sesuatu yang ada karena idea di kepala mengatakan hal tersebut ada. Artinya, kenyataan ditetukan oleh pikiran atau anggapan seseorang. Dari perspektif realis, gerakan mahasiswa memandang jika permasalahan sosial sebagai sesuatu yang ada secara real di luar diri mereka. Ada atau tidak adanya gerakan mahasiswa, realitas permasalahan itu ada di masyarakat. Melihat hal tersebut, gerakan mahasiswa kemudian muncul sebagai respon terhadap hal tersebut. Namun, perlu diingat bahwa kemunculan gerakan mahasiswa tidak selalu disyaratkan secara deterministik oleh permasalahan secara real itu.

​Realisme kritis sendiri memiliki tiga tingkatan aspek ontologis, yaitu (a) realitas empirik (realitas yang dapat dijumpai dengan panca indera), (b) realitas aktual (realitas yang dijumpai dalam ruang dan waktu), dan (c) realitas ‘real’ (realitas yang bersifat transfaktual dan lebih bertahan daripada persepsi kita karena ia berisi struktur yang memiiliki kapasitas kuasa dan menjadi dasar terdalam dari peristiwa-peristiwa yang diobservasi muncul).

​Dalam pikiran saya, perjuangan gerakan mahasiswa menuju pada satu kata, yaitu emansipatoris. Perjuangan ini secara singkat bertujuan untuk humanisasi kehidupan manusia. Dalam pengertian humanisasi, pembebasan manusia dari belenggu yang diciptakan permasalahan secara ‘real’ tadi berusaha dilepaskan. Perjuangan emansipatoris berkaitan dengan sisi aksiologis dari ilmu pengetahuan yang menjadi domain mahasiswa selama ini. Dengan perjuangan emansipatoris, ilmu pengetahuan tak hanya berkutat di dunia kampus dan bebas nilai dalam menilai permasalahan. Ilmu pengetahuan yang emansipatoris mensyaratkan keberpihakan dan berusaha menyelesaikan permasalahan yang ada. Begitu pula gerakan mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika, maka keberpihakan dan terlibat dalam penyelesaian masalah sosial menjadi hal yang terhubung dengan perjuangan emansipatoris.

Dalam diri emansipatoris ini, keberpihakan menjadi arahan untuk menciptakan kesetaraan bagi subyek yang diperjuangkan. Selain itu, keberpihakan menjadi jaminan jika perjuangan mahasiswa bukanlah hal yang bebas nilai dan nihil. Terdapat subyek yang menjadi dasar analisa bagaimana perjuangan diarahkan dan ukuran kemenangannya. Sedangkan, aspek keterlibatan dalam penyelesaian masalah menjadi domain pembebasan bagi yang diperjuangkan oleh gerakan mahasiswa. Pembebasan ini merupakan langkah humanisasi dari belenggu permasalahan ‘real’ di atas. Dalam perjuangan emanispatoris ini, gerakan mahasiswa dituntut untuk terus continue dalam denyut gerakan sosial masyarakat.

`​Melalui tulisan ini, pembelajaran atas pembacaan realitas yang dilakukan gerakan mahasiswa di berbagai belahan dunia menjadi hal yang penting. Setidaknya, bagaimana gerakan ini berangkat dan menuju ke arah mana. Analisa atas hal tersebut perlu mendapatkan porsi yang seimbang dalam dunia gerakan mahasiswa sekarang agar tak  menjadi ‘kerbau liar’ dalam dunia gerakan masyarakat.

Terakhir ingin saya tanyakan jawabnyya ada di hatimu 

APAKAH SEMANGAT PERGERAKAN INI AKAN BERLANJUT SETELAH TAK MENJADI MAHASISWA ? DAN APAKAH JIWA PERGERAKAN MENGGELORA DISAAT APAPUN KEADAANMU ? BAGAIMANA DENGAN BAIATMU WAHAI SAHABAT SAHABATI SEKALIAN 

Sekian dari saya

SALAM PERGERAKAN !!!​​

HIDUP MAHASISWA INDONESIA !!!