Rab. Des 7th, 2022

Oleh : Riska Nur F.

Aku termenung di pojok kamarku. Remang-remang lampu bohlam setidaknya bisa menyinari wajahku sedikit. Poster model terkenal yang terpampang di kamarku sudah rusak bentuknya. Sobek bagian bawahnya, ketika aku tak sengaja menyentuhnya dengan kuku panjangku. Jendela yang masih kubuka tirainya, memperlihatkan langit dengan tangisnya. Suara denting jam yang biasanya membuatku tak bisa tidur karena suara berisiknya, bahkan kali ini tak terdengar. Rumah satu petak ini sepi, hanya ada aku dan benda yang terdiam.

            Aku menundukan kepala yang kutumpukan pada kedua lututku, dengan kedua tangan yang ku lingkarkan pada kakiku yang tertekuk. Tempat puntung rokok disampingku hanya bisa diam. Ia yang menenangkanku, tak bisa melakukan sendiri apabila tak ada yang ku bakar. Rambutku kubiarkan tergerai, mengikatnya semakin membuatku pusing. Tak terasa, tetes air hujan malam ini, ternyata mengundang air di mataku. Aku menangis, tanpa suara. Aku merasakan sungguh lelah hidup dengan keadaanku yang seperti ini.

            BPagi buta, ketika hujan hanya tinggal sisa embun di dedaunan pada pohon bunga dekat jendela kamarku. Aku dengan tergesa membuka lemari pendingin. Mengeluarkan beberapa bahan masakan yang sepertinya hanya tinggal satu kali masak akan habis persediannya. Dan terpikirkan untuk mampir swalayan selepas pulang kerja.

            Aku menempatkan sedikit nasi dan sayuran yang sudah aku masak pada wadah kecil. Niatku akan ku bawa ke tempat kerja. Tapi sayang, ketika sampai di tempat kerja, aku justru baru teringat tempat makan berwarna biruku tergeletak tertinggal.

            “akan menjadi masalah ini.” aku menepuk jidatku yang sedikit berkeringat.

            Terik matahari kota, tetapi ini makan siang yang kelabu. Aku berjalan ke kantin kantor sendirian. Sesampainya, aku merasa semakin benar-benar sendiri. ketika semua orang duduk dengan patner makan mereka, bersendau gurau, saling berdentingan piring sendok, saling mengambil makanan teman disampingnya. Aku mencoba melangkahkan kakiku, hingga aku duduk pada kursi yang sebelahnya terdapat satu orang saja. Ia teman satu pekerjaan, bahkan tempat kerjanya disebrangku. Sayangnya aku ataupun dia tak pernah saling menyapa.

            “aku duduk di..” belum selesai aku mengucapkan kata kepadanya, justru ia dengan sigap berlalu pergi meninggalkanku. Aku sudah menduga ini akan terjadi.

            Belum aku menempelkan pantatku pada kursi, orang-orang mulai menatapku. Aku tetap duduk dan memesan nasi pecel dan es teh. Makan sendirian tanpa teman. Begitu mengenaskan.

            “kau bawa saja piring gelas itu pulang!” celetuk teman satu pekerjaanku.

            Aku tak menggubrisnya, ku biarkan ia berlalu pergi tanpa menolehkan muka kepadanya.

            Kepalaku pusing setiba di kursi meja kerjaku. Aku mencoba duduk dengan tenang, dan kembali memegang mouse walaupun tidak fokus. Tanganku menopang kepala pada meja. Serasa akan jatuh.

            “penyakit monstermu kambuh?”

            Aku berlagak tak mendengar apapun. Kembali menegakkan posisi dudukku. Jika aku lawan wanita yg disebut sebut paling cantik satu kantor ini, masalah akan menjadi runyam seperti dua bulan yang lalu. Ketika ia meledekku “monster” dan aku mencoba menjawab perkataannya dan emosi ku yang meluap hingga aku menarik rambutnya.

            “makanya, kalo pulang kerja itu langsung pulang, jangan dugeman.” Itu yang muncul dari mulutnya saat itu.

            “heh tau apa kau tentang aku. Memangnya kau siapa? Belaga seperti Tuhan, tahu segalanya.” Timpalku kepada wanita yang bernama Dewi ini.

            Rok yang kukenakan robek ditarik Dewi. Rambutku juga dijambaknya. Tapi ia justru berteriak dan mengatakan, “jangan dekat-dekat dia, dia monster mematikan.”

            Semua orang kantor saling berpandangan, berbisik-bisik, “kenapa.. kenapa?”

            Keringat dinginku mulai bercucuran, takut wanita pecundang ini mengatakan kepada semua orang mengenaiku. Lututku lemas, seperti tubuhku akan jatuh ke lantai .Tetapi aku memang mengharapkan itu, lari dari kerumunan ini. “oh tidak, aku ingin menghilang.” Batinku.

            Tubuhku benar-benar lemas, hingga aku tak mengingat jika aku telah terbaring di tempat istirahat kantor. Berjalan seperti zombie, dengan rambut acak-acakan dan baju yg lusuh. Kantor sepi. Tapi tidak untuk esok harinya. Semua kantor seisinya gaduh berbisik-bisik ketika aku lewat. Saling berpandangan, bahkan jika aku tak salah dengar mereka sampai mengumpat. Aku masih bertanya mengapa mereka seperti ini. mencoba menebak, dan ternyata benar.

            “ternyata kau wanita murahan ya?” ucap seorang lelaki mendekati meja kerjaku.

            Jantungku serasa berhenti. “apakah Dewi…” batinku.

            “bagaimana bisa seorang yang berpenyakit AIDS bisa berkeliaran seperti ini.” tambahnya lagi.

            Tak hanya itu, bahkan dia berkoar-koar kepada seluruh ruangan kerja ini. mengatakan jika harus berhati-hati jika dekat denganku, “dia monster.” Kata-kata itu sekarang menyebar di seluruh tempat kerjaku.

            Aku diam. Bahkan untuk menarik rambut lelaki ini seperti kemarin ke Dewi sudah tak berdaya tangan ini. aku tak memiliki hati yang lapang, ketika malu yang aku rasakan sekarang, hati ini juga merasakan sakit. Kepalaku menunduk. Dan tak sengaja air mataku menetes ke meja kerjaku. Aku kira Dewi tak sejahat ini. aku kira teman-teman kerjaku tak sekejam ini.

            Aku, kantor, dan teman-temanku baik-baik saja lima tahun lalu. berangkat kerja dengan perasaan semangat, menyapa rekan kerja, makan dengan teman, menonton dengan mereka ketika akhir pekan. Dua bulan lalu yang petaka merubah semuanya. Aku dianggap monster yang menjelma menjadi manusia.

            aku masih dengan tangan yang memegang kepalaku. Membiarkan Dewi pergi begitu saja. Itu yang selalu kulakukan setelah mendapat teguran karena sering berkelahi dengannya. mendapat banyak pengalaman jika memang aku yang tak bisa diterima di manapun. Bahkan aku pernah berpikir ketika bus yang kunaiki mengatakan “monster” kepadaku. Aku hanya geleng-geleng kepala, ketakutan.

            “di bumi bagian mana aku duduk, aku tidur, aku tinggal?”

            Inilah hidupku. Aku sudah terlalu tabah dengan isi semesta yang meludahiku. Bahkan dengan aku dipecat hari ini, berharap bisa lebih menabahkan hatiku. Atau entahlah, bisa saja ini membuat bagian tubuhku remuk tak bersisa. Aku dianggap pencemar nama baik kantor. “Apakah aku sampah?”

            Menjelang petang, aku selesai membereskan barang-barangku. Dengan susah payah aku bawa keluar kantor sendirian tanpa ada yang membantu. Untuk bertanya mengapa aku membereskan barang-barangku saja tak ada, apalagi membantu. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang memasukan barangku pada sebuah mobil. Sepertinya itu mobilnya. Dia Andi, temanku satu-satunya.

            “apakah kau tak takut denganku?”tanyaku ketika mobil mulai melaju.

            Sebenarnya sedari tadi aku ingin menangis. Tapi ini bukan kamar sempitku yang bisa menerima kesedihanku. Tapi untuk Andi yang bersedia membantuku, sepertinya tangis tak  ku butuhkan saat ini.

            “maaf tak bisa membantu banyak selama ini.” ucapnya.

            Aku tak menghiraukannya, “apakah kau tak takut denganku?” Tanyaku lagi.

            “memangnya kau hantu perlu ditakuti. Coba lihat, jangan-jangan diperutmu terdapat lubang besar. Waw aku duduk bersama dengan hantu.” Guraunya.

            Aku tertawa tapi air mataku justru keluar.

            “aku ini manusia Andi. Bukan Monster. Aku tak berkeliaran membunuh kalian-kalian. Aku ini manusia. Aku ingin hidup. Aku ingin mereka tahu bahwa aku ini manusia seperti mereka. Apa yang mereka takuti dari aku ini.” aku benar-benar menangis.

            Andi diam, dia tetap menyetir mobilnya.

            “apakah dengan menjauhiku mereka merasa aman? Apakah dengan memecatku, kantor itu akan baik-baik saja? Apakah dengan tidak adanya aku di sekeliling mereka, menjadi hal yang menyenangkan?” aku melanjutkan ucapanku

            “siapa yang meminta menjadi seperti ini. tidak ada! Apakah mereka kira aku seperti ini karena keinginanku? Mereka gila atau aku yang gila, Ndi?” Andi masih tetap diam.

            Mobil masih tetap melaju. Dengan jalan yang masih bersedia aku lewati. Entah esok.