Rab. Sep 28th, 2022

Oleh : Adetya Pramandira

Selamat hari lahir pergerakanku yang ke setengah abad sepuluh dekade. Aku menulis ini tidak seperti biasanya, tidak menggunakan teori yang sering dihujat karena membuat orang tidak paham, atau dengan bahasa kiasan yang kadang sahabatkupun gagal paham. Tapi, ini tulisan baruku di bulan April yang kutulis dari hati yang terdalam dan kasih yang menderu dan sedikit sekali. Mungkin tulisan ini akan terksesan alay dan lebay serta barangkali lebih pantas di letakkan pada laman web pribadi. Akan tetapi, setiap orang punya cara tersendiri mengungkapkan rasa kasihnya. Aku tidak pandai membuat caption yang indah nan puitis untuk diletakkan di bawah foto yang dipasang di snap whatsapp, atau sekedar memasang foto pada twibbon seperti sahabatku, karena memang aku tidak punya foto yang menawan dan pantas. Akupun hanya mampu menuliskannya, tidak mampu berbicara.

            Aku pikir tidak usah berlama-lama, jadi begini sahabat dan sahabatiku. Tulisan ini sebenarnya hanya tullisan refleksi yang tidak penting untuk kalian baca. Namun setidaknya, aku mengungkapakan dari nuraniku yang terdalam, mengapa kita (baca : aku) memilih berorganisasi di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia? Iyakah karena paksaan senior atau kakak tingkat berwarna ketika menjadi mahasiswa baru? Ataukah karena janji-janji manis tentang sebuah kesuksesan atau indahnya organisasi?. Dengan jelas dan tegas aku menjawab TIDAK.

Aku selalu teringat betul, bagaimana sahabatku angkatan 2015 atau lebih terkenal dengan nama “Crazy” menawarkan sebuah proses, proses dan proses tentang sebuah perjuangan yang membentuk pribadi, pola pikir dan gerakan untuk mengubah tatanan masyarakat dari penindasan dan kedzhaliman menuju masyarakat yang sejahtera dan adil,  masyarakat tanpa kelas. Aku teringat betul bagaimana sahabatku angkatan 2016, akrab disapa dengan sahabat-sahabati “Gatotkaca” mengajarkan pembagian tugas organisasi dengan tetap berdasar kepada persaudaraan dan kekeluargaan. Mengajarkan pribadi yang cepat, tanggap, peka, tidak baperan, kritis.

Dan tentunya, aku menemukan keluarga baru di angkatanku dalam naungan pergerakan. “Gamananta”, yang entah bagaimana aku lupa nama itu bisa turun dari langit atas wangsit yang diperoleh oleh sahabat-sahabatiku. Dalam keluarga ini aku menemukan artinya kekuatan. Bagimana tidak? Bullyan yang pedas setiap hari, kata-kata kasar, sengak, suara seperti mesin pabrik yang menderu dengan keras dan kencang. Iya, tapi itulah yang membutaku tidak khawatir lagi dengan cemohan, ejekan, hal biasa. Tapi tetap ada kehangatan, bagaimana keharmonisan dijaga di tengah rong-rongan ego yang begitu besar. Mereka, sahabat-sahabatku mengajarkanku bagaimana tetap dingin disituasi yang panas, tetap bergerak sesuka hati tapi selalu ingat rumah kembali.

Ada juga sahabat-sahabatiku Angatan 18 dengan panggilan kesayangan “Condrodimuko” dan angkatan 19 dengan nama yang penuh misteri “Syailendra” yang mengajarkan arti merawat dan meruwat, arti mengeluh dan mengaduh, arti tetap melangkah dibawah tekanan tugas kuliah. Dan tentu sahabat-sahabtiku lain yang memberikan berabagai pembelajran. Ini semua bukan tentang angkatan ataupun person melainkan sesuatu hal tentang darimana ia dilahirkan, dibawah panji yang sama.

Semua itu tentu dirasa begitu sepele dan tidak begitu heroik seperti demo di depan gedung para oligarki atau hal-hal lain yang membanggakan dengan adanya piala dan medali hasil didikan organisasi. Tapi pembelajaran tentang kehidupan, inti dari sebuah perjalanan.

Tunggu, itu baru secuil !

            Dalam perjalanan ber-PMII, banyak pengembangan intelektual yang tentu tidak dijumpai di bangku perkuliahan yang tersekat oleh dinding-dinding kelas. Diskursus dan kajian-kajian tentang perubahan justru aku temukan dibawah pohon ketapang atau tikar lusuh disamping auditorium kampus 2. Membicarakan masyarakat dari berbagai sisi dengan analisis-analisis yang sama sekali tidak pernah di singgung mahaguruku ketika mengebut SKS. Membicarakan persoalaan riil masyarakat yang tak pernah diucap dalam mata kuliah karena tidak terpaut kurikulum. Sejauh ini, ide dan pemikiranku berkembang dari sini.

Apalagi?

            Bermula dari sini aku mendapat bisikan-bisakan tentang busuknya para oligark lagi fasis. Tentang setiap kemlaratan dan ketidakadilan yang dialami oleh ‘rakyat’, tentang bagiamana nasib negeri ketika banyak kekayaan alam yang dikuasai segelintir cacing air dan bagaimana sejatinya agama hadir dengan berbagai penyelesaian yang terkadang dilupakan. Aku teringat betul kata Suhuku dari Alpart Kepo (Sahabat-sahabati angkatan 2014), “Sejak dilahirkannya PMII, ia ada untuk tetap menjaga kewarasan, untuk tetap melakukan perlawanan atas segala bentuk penindasan, untuk tetap berjuang bersama rakyat, bukan menjadi tangan kanan korporat”. Bagaimana dengan kedekatan PMII dengan penguasa? Baru beberapa hari yang lalu ketua komisariatku, kakak sekaligus sahabat bagiku berkata “PMII dari dilahirkan hingga hari ini tetap suci, bukan PMII yang rusak tapi oknum yang berkeliaran yang membuat lusuh” dan aku mengamini hal itu, dari 10 orang jika 3 saja masih menjaga nalar kritis dan kewarasan tentu ia akan tetap bergerak, bukan bergerak mendekat ke istana dan duduk didalamnya tapi ia akan bergerak  menerobos dinding-dinding para setan penguasa, merobohkan tiang oligarki dan mengibarkan bendera kemenangan rakyat dengan aswaja tetap menjadi pegangannya.

Ini versiku, jika ada pemikiran lain jangan hanya jadi cuitan dibelakang tidak bagus untuk kesehatan mental, lebih baik tuliskan !

Tumbuh Subur Pergerakan,

Tetap Berada di Garis Perjuang Rakyat

Salam Pergerakan