Rab. Sep 28th, 2022

Oleh : Adetya Pramandira

Tulisan ini berangkat dari keresahan penulis terhadap peringatan hari santri yang sebatas seremonial dengan geliat eksistensi diri. Berangkat dari asumsi pribadi bahwa santri mempunyai peran penting dan sejarah panjang dalam memperjuangkan kemerdekaan maka tidak sepantasnya hari santri di warnai dengan huru-hara kebanggaan dan kepongahan akan tetapi juga diisi dengan perenungan, sejauh manakah santri hari ini berjuang bersama rakyat dan kaum mustadafin dalam memperjuangan keadilan dan daulat rakyat di tengah jeratan kapitalisme dan pemerintahan yang oligarkis.

22 April 2015 silam hari santri berhasil ditetapkan dan disahkan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keppres No. 22 Tahun 2015. Ditetapkannya pada tanggal 22 Oktober adalah karena pada tanggal tersebut tahun 1945 terjadi Resolusi Jihad para ulama dan kiai Nahdlatul Ulama untuk memerangi dan melawan kolonialisme.

Resolusi Jihad sendiri hadir bukan tanpa sebab. Amar Ma’ruf Nahi Munkar-lah yang menjadi landasan lahirnya gerakan tersebut. Peristiwa pagit yang dialami bangsa Indonesia, kemiskinan, penindasan dan kejahatan telah melahirkan semangat perlawanan diberbagai daerah.

Dalam lingkup perjuangan kelompok Islam, Jawa Timur khususnya Surabaya pada masa penjajahan menjadi basis kelompok Islam dengan jumlah pesantren yang sangat banyak dan ribuan santri, tersebar mulai dari pinggiran kota hingga pelosok desa. Sejak masa pendudukan Belanda kelompok ini selalu melakukan perlawanan dan penolakan terhadap sebagian besar kepentingan kolonial. Perlawanan ini mencapai puncaknya ketika terjadi pengibaran bendera Belanda (Merah, Putih dan Biru) di hotel Yamato (Sekarang hotel Mojopahit) pada 19 September 1945.

Situasi di Surabaya yang semakin mencekam mengharuskan Presiden Soekarno kala itu mengutus Kyai Hasyim Asy’ari untuk mengeluarkan fatwa hukum berjihad membela negara yang bukan berasaskan Islam. Merespon hal tersebut, sebagai lembaga sosial keagamaan Nahdlatul Ulama melakukan pertemuan seJawa-Madura yang bertempat di kantor PBNU Bubutan Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945. K.H Asy’ari selaku Roisul Akbar NU menyerukan semangat perlawanan dan jihad melawan segala bentuk penindasan serta ketidakadilan, hingga kemudian pondok-pondok pesantren berubah menjadi markas Hibullah dan Sabilillah.

Sejarah diatas tentu tidak harus dimaknai sebatas perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajahan. lebih dari itu, perjuangan itu adalah perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan pengentasan dari lubang kesengsaraan.

Perjuangan Hari Ini

Betapapun besarnya pengaruh santri saat itu adalah keberhasilan dan tekad santri pada masanya dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah kolonial. Hal itu tidak seharusnya berhenti dan dimaknai sebagai final dari perjuangan.

Di tengah arus pembangunan, kita melihat dengan mata telanjang bahwa berbagai bentuk ketidakadilan dan penindasan dialami oleh rakyat. Penggusuran yang sejatinya itu menciderai hak milik individu, Kemiskinan yang merupakan musuh besar, dan juga ketidakadilan yang merupakan sesuatu yang harus diperangi, kita condong diam dan menganggap itu adalah persoalan pribadi. Penulis rasa itu adalah keegoisan yang membabi buta. Sebagai santri tentu kita sadar betul dengan trilogi Hablu min Allah, Hablu min an nas dan Hablu min al alam. Kewajiban kepada Allah tentu hal mutlak yang harus dipenuhi akan tetapi kewajiban terhadap sesama manusia dan alam adalah sesuatu yang tidak bisa di tinggalkan.

Dalam riwayat hadits sudah dijelaskan bahwa :

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” (Riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya dari hadis Abu Said r.a).

“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada hambaNya di hari kiamat sehingga Dia berfirman: Apa yang menghalangi kamu apabila merlihat kemungkaran namun kamu tidak mencegahnya? Maka dia pun menjawab: Aku takut pada manusia. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak untuk engkau takuti.” (Riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya dari hadis Abu Said Al-Khudri r.a).

Dari kedua hadits diatas kita bisa melihat bahwa Allah telah memberikan jalan bagi hambanya untuk bertindak adil dan kita tahu setiap bentuk ketidakaadilan perlu dan harus diperangi bagaimanapun caranya. Pun dengan kedzaliman ulul amri yang lupa dengan tanggung jawabnya, yang lalai dengan kewajibannya maka boleh untuk melakukan perlawan demi terciptanya keadilan dan kesejahteraan. Maka, sudah saatnya 5 Tahun peringatan hari santri, mulailah santri kembali kejalan yang lurus, memperjuangkan keadilan bersama mereka yang papa. Sebanyak apapun kelonggaran yang diberikan pemerintah dan akses yang diberikan kepada kaum santri tentu tidak menjadikan mata tertutup dan enggan memberikan kritik jika memang setiap yang dilakukan adalah berorientasi menindas dan menyengsarakan. Tentu kritik kepada setiap kebijakan perlu agar pemerintahan tidak jalan sempoyongan dan keluar dari jalurnya. Inti dari semua tulisan ini adalah santri haruslah tetap berada pada garis perjuangan rakyat seperti yang dulu dilakukan dan semoga sampai sekarang.