Rab. Sep 28th, 2022

Oleh : sien_ma

Jalanan kota metropolitan sudah mulai ramai pada jam kerja seperti ini. Seorang laki-laki berjalan santai mengenakan celana hitam yang dipadu padankan dengan baju putih. Terlihat manis dengan kacamata terpajang di hidungnya yang mancung. Jika ditaksir, usianya tak lebih dari 18 tahun. “Dika…. !!!” teriak seseorang dari belakang.

Si empunya nama itu menengok ke belakang. Laki-laki yang dipanggil Dika itu tersenyum melihat temannya. “ Sabrina.. tumben berangkat siang ??” Tanya Dika. Sabrina terhenyak dan tterdiam beberapa detik. Hampir saja ia menceritakan perihal alasannya mengapa ia berangkat PROSPEK tidak sepagi kemarin. “ Nggak pa pa… cuma bangunnya kesiangan.” Jawab Sabrina berbohong kepada Dika. Dika hanya mengangguk, seakan tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan orang lain. “Aku sengaja berangkat siang, agar ketemu kamu dan bisa bareng kamu, Dik” bathin Sabrina sebenarnya. Memang, Sabrina mencintai Dika sejak kelas XII karena Dika yang terkenal cuek, namun tidak sombong jika ada yang menyapanya. Dika juga manis dengan lesung pipit, di pipinya bagian kanan. Dengan hidungnya yang mancung, aktif di berbagai organisasi, terkenal pandai dan tidak sombong karena kepandaiannya.

Ia juga tidak pernah absen untuk menyempatkan waktu ke perpus sekolah waktu ia masih di SMA Harapan. Waktu serasa cepat berlalu. Sekarang keduanya meneruskan di universitas yang sama, fakultas sama namun berbeda jurusan. Dika yang mengambil jurusan Ilmu Tafsir Qur’an sedangkan Sabrina yang mengambil Tafsir Hadits. Dika yang menghafal Qur’an memutuskan mengambil jurusan tersebut agar lebih mendalami Al-Qur’an. Sedangkan Sabrina yang lebih mendalami kitabnya lebih memilih hadits untuk dipelajari lebih lanjut. Meskipun Dika dan Sabrina bersahabat baik sejak SMA, Dika tidak pernah curiga dengan sikap Sabrina yang lebih perhatian ketika mereka sedang berkumpul atau sedang rapat.

**

Pernah suatu ketika keduanya bertemu di jalan setapak belakang sekolah.

“Rin… kenalin pacar kamu ke aku donk!! “ kata Dika waktu itu. Namun Sabrina menunduk. Lalu Dika mengangkat dagu gadis itu.

“ Aku nggak punya pacar, Dik..” kata Sabrina. Bathin Sabrina bergemuruh. Menahan sesak didadanya.

“ Aku juga nggak punya pacar, Rin.” Kata Dika.

Lalu keduanya berjalan menuju ruang kelas. Sekarang keduanya begitu dekat. Namun tidak ada status diantara mereka. Saatnya jam istirahat prospek. Dika menuju perpustakaan, meminjam buku dasar untuknya belajar. Di dalam perpus, terlihat gadis berhijab hitam duduk membelakangi beberapa rak buku. Mungkin sedang membaca buku. Dan sepertinya Dika paham siapa gadis itu.

“Rin, lagi ngapain disini ?? “ Tanya Dika ketika paham bahwa gadis itu memang benar Sabrina.

Sabrina menengok kebelakang, lalu kembali ke posisi semula, bepura-pura membaca buku yang ada didepannya.

“Rin… Kamu kenapa ??” Tanya Dika. Merasa ganjal dengan sikap Sabrina yang tidak biasanya.

“ Aku nggak pa pa, Dik.” Jawab Sabrina bohong pada sahabatnya itu.

Namun, namanya saja sahabat. Dika paham akan bohongnya Sabrina, karena nggak biasa Sabrina berbohong padanya.

“ Rin, aku tahu kamu bohong sama aku. Kamu kenapa ?? cerita sama aku.” Pinta Dika.

Namun Sabrina tetap diam. Mana mungkin Sabrina mengatakan

“kapan kamu peka !!” keduanya saling diam. Lalu Dika mengawali bicara lagi.

“ Rin, katanya kamu nggak punya pacar, lalu apa yang membuat kamu murung kaya gini ?? “ suara Dika mengejutkan Sabrina.

Mengapa lelaki itu menanyakan hal itu kepada Sabrina. Dalam benak Sabrina berpikir apakah Dika akan mengenalkan seorang cewek kepadanya dan akan mengatakan kalau cewek itu adalah pacarnya.

“nanti malam aku mau ngajak kamu keluar, mau ya.. kan biasanya juga kalau malam minggu gini kamu meratapi nasib di rumah. Ngurung di kamar sambil nglihatin langit-langit rumah. Hahaha..

“ Sabrina memanyunkan bibirnya. Namun dalam benaknya ia menanggung banyak pikiran. Kenapa tiba-tiba Dika mengajak malam minggu ini keluar. Apa benar Dika ingin mengenalkan cewek barunya ?. Bathin Sabrina terus bertanya.

“ udah selesai bicara dalam bathinnya ??” Tanya Dika sambil tertawa. Sabrina menunduk malu. Selama itukah dia berbicara dalam diam ?

**

Malam minggu pun tiba. Sabrina sudah terlihat manis dengan hijab berwarna maroon dan gamis berpadu padan dengan hijabnya. Ponselnya berdering.

Sabrina mengangkatnya. “ iya aku udah siap. Aku turun sekarang, Dik.” jawab Rina kepada Dika. Setelah memutuskan sambungan, Sabrina keluar dan melihat Dika dengan tampilan yang berbeda.

“ nggak biasanya deh rapi kayak gini. Emang kita mau kemana sih ?”. Tanya Sabrina kepada Dika. Dika tersenyum.

“ kamu juga nggak biasanya rapi kayak sekarang ini. Hehe…” setelah keduanya saling memuji, akhirnya Dika membukakan pintu mobil untuk Sabrina. Sabrina tersenyum. Setelah mobil melaju, Dika melirik ke arah Sabrina. Rina yang mengetahui hal itu bertanya.

“ kenapa sih ?” .Tanya Sabrina.

Dika menggeleng dan tersenyum. Akhirnya keduanya sampai di sebuah restorant mewah. Sabrina merasa takut. Jangan-jangan benar kalau Dika punya pacar. Bathin Sabrina berbicara.

“Hei!!! Turun yuk… nggak usah ngalamun.” Suara Dika mengejutkan Sabrina.

“ kamu mau ketemu siapa sih ??” Tanya Sabrina. Dika mengerutkan kening.

“ aku kan ngajak kamu. Ya mau ketemu kamu lahh.. aku mau ngajak kamu makan disini. Ayo lahh.. “ terang Dika.

Setelah keduanya memesan menu yang ada, keduanya diam.

“ Rin, aku Tanya boleh nggak ??” akhirnya Dika bicara. Sabrina mengangguk.

“ kenapa sampai sekarang kamu belum punya pacar sih ??” Tanya Dika to the point. Sabrina terkejut dengan pertanyaan Dika.

“ aku masih nunggu seseorang,Dik. Hampir dua tahun ini aku nunggu dia.” Jawab Sabrina jujur pada Dika.

“ Rin, kalau ada orang lain yang suka sama kamu, apa kamu mau terima dia ?? “ Tanya Dika lagi. Sabrina mendongakkan kepala, menatap Dika.

“kalau asal usul dia jelas aku pasti terima dia, Dik.” Jawab Sabrina lagi. Terlihat perasaan Dika lega mendengar jawaban Sabrina.

“Rin… jujur, aku suka sama kamu, aku suka sama kamu karena kamu beda dari yang lain.” Terang Dika. Sabrina menatap Dika, dan berkaca-kaca.

“ ehm.. Dik, sejak kapan kamu menyukai aku ??” Tanya Sabrina. Dalam bathin Sabrina bersyukur, orang yang dinantinya selama ± dua tahun itu juga mencintainya.

“Aku suka sama kamu semenjak kelas XI awal, setelah kenal dan tahu kamu. Awalnya aku ingin nngomong langsung hari itu. Tapi, aku udah janji selama Al-Qur’anku belum khatam, aku nggak mau pacaran dulu. Apa kamu juga suka sama aku, Rin ??” jelas Dika panjang lebar. Sabrina menunduk, dan..

“ Dik, aku boleh jujur??” Tanya Sabrina. Dika menganggukk, dan keluarlah air mata Sabrina. Air mata bahagia.

“ Orang yang aku maksud itu kamu, Dik. Orang yang ± dua tahun aku tunggu, dan nggak peka-peka. Orang yang menjadi alasan kenapa aku berangkat waktu hari kedua prospek, orang yang ngerubah aku menjadi lebih sabaran mengahadapi sesuatu, itu kamu Dika..“

Sabrina mengusap air matanya.

“kamu adalah alasan aku, Rin. Alasan aku sekolah, menyelesaikan hafalan,alasan aku kuliah, dan semoga kamu adalah takdirku, Rin.”

Dika tersenyum. Hampir saja keduanya berpegangan tangan, kalau saja Sabrina menarik tangannya. Akhirnya keduanya memutuskan untuk saling menjaga hati, dan tidak ada istilah pacaran sebelum keduanya semester empat. Karena keduanya sama-sama menyukai angka empat. Dan lahir pada tanggal empat..

*Penulis merupakan kader PMII Rayon Syari’ah 2018, hobi menulis Cerpen dan karya sastra lainnya*